RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN KELAS XI SEMESTER 1
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )
Nama Sekolah :
SMA Negeri Mojoagung
Mata Pelajaran :
Sosiologi
Kelas /Semester :
XI/1
Pertemuan ke :
7
Materi : Pengertian Diferensiasi Sosial dan Ciri-Ciri Diferensiasi Sosial
Alokasi Waktu :
2 x 45 menit
A.
Tujuan Pembelajaran
1. Siswa mampu
menjelaskan pengertian diferensiasi sosial
2. Siswa mampu menyebutkan ciri-ciri diferensiasi sosial
a. Kognitif
1. Siswa mampu
menjelaskan pengertian diferensiasi sosial
2. Siswa mampu
menyebutkan ciri-ciri diferensiasi sosial
b. Afektif
1. Siswa mampu
mendiskusikan pengertian diferensiasi sosial
2. Siswa mampu
mengidentifikasi ciri-ciri diferensiasi sosial
c. Psikomotorik
1. Siswa mampu
menunjukkan pengertian diferensiasi sosial
2. Siswa mampu
menentukan ciri-ciri diferensiasi sosial
B. Kompetensi Inti
|
KI 1 :
|
Menghayati dan mengamalkan ajaran agama
yang dianutnya.
|
|
KI 2 :
|
Menghyati dan mengamalkan perilaku
jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran,
damai), santun, responsive, dan pro-aktif dan menunjukan sikap sebagai bagian
dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara
efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri
sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
|
|
KI 3 :
|
Memahami, menerapkan, dan
menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, procedural, dan metakognitif
berdasarkan ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya,
dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan
kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang
spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
|
|
KI 4 :
|
Mengolah, menalar, dan menyaji ranah konkret
terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara
mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda
sesuai kaidah keilmuan.
|
C. Komptensi Dasar dan Indikator
|
Kompetensi
Dasar
|
Indikator
|
|
3.3
Memahami arti penting prinsip kesetaraan untuk menyikapi perbedaan sosial
demi terwujudnya kehidupan sosial yang damai dan demokratis
|
3.3.1 Siswa mampu mendifinisikan pengertian
diferensiasi sosial
3.3.2 Siswa mampu menyebutkan ciri-ciri diferensiasi
sosial
|
D. Materi Pembelajaran
1. Pengertian
diferensiasi sosial
2. Ciri-ciri
diferensiasi sosial
E. Pendekatan, Model dan Metode Pembelajaran
1. Pendekatan : Scientific Learning
2. Model Pembelajaran : Discovery
Learning
3. Metode Pembelajaran : Studi Literatur, diskusi, kerja
kelompok dan penugasan
F.
Media, Alat/Bahan
Pembelajaran
1. Media Pembelajaran : Power point pengertian dan ciri-ciri diferensiasi
sosial
sosial
2. Alat/bahan
Pembelajaran : Papan tulis,
spidol, LCD, laptop dan lembar kerja
siswa (work sheet) mengenai pengertian dan ciri
ciri diferensiasi sosial
siswa (work sheet) mengenai pengertian dan ciri
ciri diferensiasi sosial
G.
Sumber Pembelajaran
1. Soekanto, soerjono. 2012. Pengantar
Ilmu Sosiologi. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
2. Subakti,
A. Ramlan dkk. 2011. Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group
H.
Kegiatan
Pembelajaran
|
Kegiatan
|
Deskripsi
|
Alokasi
waktu
|
|
Pendahuluan
|
Pra Pembelajaran
(Orientasi, motivasi, apresepsi, acuan)
·
Guru memasuki ruang kelas
·
Guru mengkondisikan kelas agar suasana menjadi kondusif untuk
berlangsungnya pembelajaran
·
Guru mengucapkan salam, menanyakan kabar siswa dan siapa yang tidak
masuk
·
Guru memberikan orientasi pembelajaran yang ingin dicapai, termasuk
aspek-aspek yang dinilai selama proses pembelajaran.
·
Guru memberikan motivasi tentang pentingnya mempelajari pengertian dan
ciri-ciri diferensiasi sosial
·
Guru melakukan apersepsi dengan memberikan pertanyaan kepada peserta
didik yang bersifat menuntun dan menggali mengenai “Pengertian dan ciri-ciri
diferensiasi sosial” yang ada di dalam masyarakat mengenai ciri fisik, ciri
sosial dan ciri budaya
|
10
menit
|
|
Kegiatan
inti
|
·
Penyajian Fenomena
Guru
menyajikan gambar mengenai pengertian dan ciri-ciri diferensiasi sosial
menggunakan Microsoft Power Point yang ditayangkan di LCD
·
Mengamati
1. Siswa mengamati
gambar yang disajikan guru mengenai pengertian dan ciri-ciri diferensiasi
sosial
2. Siswa mengamati
gambar yang disajikan guru mengenai pengertian dan ciri-ciri diferensiasi
sosial
3. Siswa diberi
tugas untuk membaca serta mengidentifikasi sendiri pengertian dan ciri-ciri
diferensiasi sosial dari berbagai sumber informasi atau referensi
·
Menanya
Setelah
siswa mengamati gambar yang disajikan oleh guru, maka guru akan mengajukan
beberapa pertanyakan kepada siswa :
1. Apa yang kalian
ketahui tentang gambar tersebut?
2. Apa perbedaan
antara satu gambar dengan gambar lainnya?
3. Termasuk dalam
pengertian dan ciri-ciri deferensiasi apakah masing-masing gambar tersebut ?
4. Diantara gambar
yang disajikan, adakah yang ada dan terjadi disekitar masyarakat kalian?
5. Didalam
pengertian dan ciri-ciri manakah kalian berada ?
·
Mengeksplorasi
Didalam
mengeksplorasi siswa diminta untuk mengumpulkan informasi mengenai
penegertian dan ciri-ciri diferensiasi sosial dengan cara :
1.
Guru membagi kelas ke dalam 6 kelompok dengan cara berhitung 1-6
2.
Guru mengarahkan siswa untuk memposisikan diri sesuai dengan kelompok
masing-masing
3.
Guru memberikan lembar kerja siswa atau work sheet kepada masing-masing kelompok.
4.
Guru mengarahkan siswa yang telah memposisikan dirinya di masing-masing
kelompok untuk berdiskusi dan mengumpulkan berbagai informasi yang relevan,
membaca literature, mengamati objek, melakukan uji coba sendiri dan
sebagainya terkait dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah diajukan guru
tadi.
5.
Setelah semua data terkumpul dan sudah lengkap, data diolah,
dikasifikasikan, ditabulasi, dipilih, dan didiskusikan kembali dengan teman
sekelompok.
6.
Didalam diskusi tersebut siswa diaarahkan oleh guru untuk sharing mengenai ciri-ciri
diferensisasi yang ada dan terjadi di lingkungan masing-masing dan
contoh-contoh yang dijumpai oleh siswa di kehidupan sehari-hari guna
menemukan bukti konkrit atau nyata ciri-ciri diferensiasi sosial untuk
membuktikan kebenaran data yang telah diperoleh dan diolah.
7.
Siswa menuliskan hasil tersebut kedalam work sheet yang telah diberikan oleh guru mengenai garis besar
materi yang sudah dikumpulkan, diolah, didiskusikan dengan teman-teman
kelompok.
·
Mengasosiasikan
1. Guru memberikan
waktu kepada siswa untuk memikirkan dan mencerna materi pengertian dan ciri-ciri
diferensiasi sosial yang telah diperoleh siswa dari berbagai sumber yang
telah dibaca, diskusi dengan teman-teman di kelompok, dan observasi di
lingkungan sekitar masing-masing.
·
Mengomunikasikan
1.
Siswa menyajikannya hasil diskusi dan studi literature dan kajiannya ke dalam work sheet dalam bentuk tulisan tentang penegrtian dan ciri-ciri diferensiasi sosial
2.
Siswa mempresentasikan hasil temuan atau hasil kajiannya tentang
pengertian dan ciri-ciri diferensiasi sosial beserta contoh yang ada
disekitar lingkungannya serta yang pernah dijumpai oleh para siswa
|
70 menit
|
|
Penutup
|
·
Guru melakukan penilaian dan atau refleksi terhadap kegiatan yang
sudah dilaksanakan.
·
Guru memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran.
·
Guru bersama-sama dengan peserta didik membuat rangkuman simpulan
pelajaran.
·
Guru merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk tugas kelompok
dan menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
·
Guru menutup pelajaran dengan mengucapkan salam.
|
10
menit
|
Lampiran :
Materi
:
Pengertian
Diferensiasi Sosial dan Ciri-Ciri Diferensiasi Sosial
A. Pengertian
Diferensiasi Sosial
1. Secara
Umum
Perbedaan individu atau
kelompok dalam masyarakat yang tidak menunjukkan adanya tingkatan. Kata
diferensiasi sosial mula-mula berasal dari bahasa inggris, yaitu difference
yang artinya adalah pembedaan dan merupakan karakteristik sosial yang membuat
individu atau kelompok terpisah dan berbeda satu sama lain.
2. Menurut
Para Ahli
a. Menurut
soerjono soekanto
Menurut Soerjono Soekanto
diferensiasi sosial mengacu pada klasifikasi terhadap perbedaan yang biasanya
sama, adanya perbedaan tidak mengakibatkan tinggi rendahnya posisi (status)
seseorang , melainkan hanya menggambarkan keberagamaan corak pada suatu
masyarakat tertentu. Atau variasi pekerjaan , prestise, dan kekuasaan kelompok
dalam masyarakat, yang dikaitkan dengan interaksi atau akibat namun pada
interaksi yang lain.
b. Menurut
Kartajaya (dalam Syafrizal, 2007:183) bahwa pengertian diferensiasi adalah
semua upaya yang dilakukan untuk membedakan diri dari pesaing lain baik konten,
konteks, dan infrastruktur
c. Menurut
Kotler (2009:328) bahwa pengertian diferensiasi adalah tindakan merancang
serangkaian perbedaan yang berarti untuk membedakan tawaran perusahaan dengan
tawaran pesaing
d. Menurut
Aaker (dalam Ferdinand, 2003) bahwa pengertian diferensiasi yang sukses
haruslah strategi yang mampu :
1. menghasilkan nilai pelanggan
2. memunculkan persepsi yang bernilai khas
3. tampil sebagai wujud berbeda yang sulit
untuk ditiru
B. Ciri-Ciri
Diferensiasi Sosial
Diferensiasi
sosial ditandai dengan adanya perbedaan berdasarkan ciri-ciri sebagai berikut:
a. Ciri
Fisik
Diferensiasi ini terjadi karena perbedaan
ciri-ciri tertentu.
Misalnya : warna kulit, bentuk mata,
rambut, hidung, muka, dsb.
b. Ciri
Sosial
Diferensiasi sosial ini muncul karena
perbedaan pekerjaan yang menimbulkan cara pandang dan pola perilaku dalam
masyarakat berbeda. Termasuk didalam kategori ini adalah perbedaan peranan,
prestise dan kekuasaan.
Contohnya : pola perilaku seorang perawat
akan berbeda dengan seorang karyawan kantor.
c. Ciri
Budaya
Diferensiasi budaya berhubungan erat
dengan pandangan hidup suatu masyarakat menyangkut nilai-nilai yang dianutnya,
seperti religi atau kepercayaan, sistem kekeluargaan, keuletan dan ketangguhan
(etos).
Hasil dari nilai-nilai yang dianut suatu
masyarakat dapat kita lihat dari bahasa, kesenian, arsitektur, pakaian adat,
agama, dsb.
RENCANA
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(
RPP )
Satuan Pendidikan : SMA Negeri 4 Surakarta
Mata Pelajaran : Sosiologi
Kelas/Semester : XI/1
Materi Pokok : Partikuralisme dan Eksklusivisme Kelompok
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit
A.
Tujuan
Pembelajaran
1. Siswa
mampu menjelaskan pengertian partikularisme kelompok
2. Siswa
mampu menjelaskan pengertian eksklusivisme kelompok
3. Siswa
mampu mengidentifikasi ciri-ciri partikularisme kelompok
4. Siswa
mampu mengidentifikasi ciri-ciri partikularisme kelompok
a. Ranah
Kognitif
1. Siswa
mampu menjelaskan pengertian partikularisme kelompok
2. Siswa
mampu menjelaskan pengertian eksklusivisme kelompok
3. Siswa
mampu mengidentifikasi ciri-ciri partikularisme kelompok
4. Siswa
mampu mengidentifikasi ciri-ciri partikularisme kelompok
b. Ranah
Afektif
1. Siswa
mampu mendiskusikan pengertian partikularisme kelompok
2. Siswa
mampu mendiskusikan pengertian eksklusivisme kelompok
c. Ranah
Psikomotorik
1. Siswa
mampu membedakan partikularisme dan eksklusivisme kelompok
2. Siswa
mampu menunjukkan ciri-ciri partikularisme kelompok
3. Siswa
mampu menunjukkan ciri-ciri eksklusivisme kelompok
B.
Kompetensi
Inti
KI 1 : Menghayati dan
mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
KI 2 : Menghayati dan
mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab,
peduli
(gotong royong, kerjasama, toleran,
damai), santun, responsif, dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian
dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa
dalam pergaulan dunia
KI 3 :
Memahami, menerapkan, dan
menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural, dan
metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan,
teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait
penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada
bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan
masalah
KI 4 :
Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak
terkait dengan pengembangan dari yang
dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif,
serta mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan
|
Kompetensi
Dasar
|
Indikator
Pencapaian Kompetensi
|
|
3.1 Memahami
pengelompokan sosial di masyarakat dari sudut pandang dan pendekatan sosiologis
|
3.1.1
Siswa mampu menjelaskan pengertian
partikularisme kelompok
3.1.2
Siswa mampu menjelaskan pengertian
eksklusivisme kelompok
3.1.3
Siswa mampu mengidentifikasi ciri-ciri
partikularisme kelompok
3.1.4
Siswa mampu mengidentifikasi ciri-ciri
partikularisme kelompok
|
C.
Materi
Pembelajaran
1. Pengertian
partikularisme kelompok
2. Pengertian
eksklusivisme kelompok
3. Ciri-ciri
partikularisme kelompok
4. Ciri-ciri
eksklusivisme kelompok
D.
Pendekatan,
Model dan Metode Pembelajaran
Pendekatan : Scientific
Learning
Model Pembelajarn : Discovery Learning
Metode
Pembelajaran : Studi literatur, Diskusi Kelompok,
Presentasi, Tanya Jawab
E. Media dan alat
Media
: Power
point partikularisme dan eksklusivisme kelompok
Alat :
Laptop, LCD, Lembar Kerja Siswa
F. Sumber Belajar :
-
Soekanto, Soerjono. 2006.
Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada.
-
Indawatik, Rita, dkk. 2013. Eksklusifitas
Siswa (Studi Fenomenologi Konstruksi Sosial Pola Eksklusifitas Siswa Pada Kelas
Unggulan Di Sma Muhammadiyah 1 Sragen Tahun Ajaran 2011/2012).
Jurnal Analisa Sosiologi. 2(1): 54.
-
Riska, dkk. 2007. Makalah. Dalam:
Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan di Universitas Indraprasta PGRI Jakarta,
Januari 2007.
G.
Langkah-Langkah
Pembelajaran
|
Kegiatan
|
Deskripsi
|
Alokasi waktu
|
|
Pendahuluan
|
1. Guru
memberikan salam kepada peserta didik
2. Guru
mempersilakan berdoa bersama
3. Guru
menanyakan kabar siswa dan kehadiran siswa
4. Guru
menjelaskan mengenai KD dan tujuan dari proses pembelajaran
5. Guru
memberikan motivasi tentang pentingnya mempelajari partikularisme dan
eksklusivisme kelompok
6. Guru
melakukan apersepsi dengan memberikan pertanyaan kepada peserta didik yang
bersifat menuntun dan menggali mengenai partikularisme dan eksklusivisme
kelompok
|
10
menit
|
|
Kegiatan inti
|
· Penyajian Gambar
Guru
menyajikan beberapa gambar yang berkaitan dengan partikularisme dan
eksklusivisme kelompok menggunakan Power Point yang ditayangkan di LCD.
· Mengamati
Guru
mengarahkan siswa untuk mengamati gambar mengenai partikularisme dan
eksklusivisme kelompok yang ditayangkan di slide power point
· Menanya
Setelah
peserta didik mengamati gambar tersebut, selanjutnya guru mengajukan beberapa
pertanyaan kepada peserta didik, berupa :
-
Apa yang kalian ketahui
tentang gambar-gambar tersebut ?
-
Apa perbedaan dari
gambar-gambar tersebut ?
-
Apa saja ciri-ciri dari
gambar tersebut ?
-
Apakah gambar-gambar
tersebut pernah kalian temui dalam kehidupan sehari-hari ?
-
Menurut kalian mengapa
itu terjadi ?
· Mengeksplorasi
Guru
meminta siswa untuk menggali atau mengumpulkan informasi mengenai pengertian
dan ciri-ciri dari partikularisme dan eksklusivisme dengan cara :
-
Guru membagi kelas
menjadi 5 kelompok, dengan bahasan materi yang berbeda, yaitu kelompok 1-3
membahas partikularisme dan kelompok 4-5 membahas eksklusivisme, dengan cara
berhitung 1-5.
-
Guru mengarahkan siswa
untuk memposisikan diri sesuai dengan kelompok masing-masing.
-
Guru memberikan lembar
kerja siswa kepada masing-masing kelompok.
-
Guru mengarahkan siswa
yang telah memposisikan dirinya di masing-masing kelompok untuk berdiskusi
dan mengumpulkan berbagai informasi dengan membaca literatur atau internet
terkait dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah diajukan oleh guru
sebelumnya.
-
Di dalam diskusi
tersebut, siswa juga diarahkan oleh guru untuk sharing mengenai
partikularisme dan eksklusivisme kelompok yang pernah ditemuinya dalam
kehidupan sehari-hari.
-
Kemudian siswa
menuliskan hasil diskusi tersebut ke dalam lembar kerja yang telah diberikan
oleh guru mengenai materi yang sudah dikumpulkan, diolah, dan didiskusikan
dengan teman sekelompok.
· Mengasosiasi
Guru
memberikan waktu kepada siswa untuk memikirkan dan mencerna materi tentang
pengertian dan ciri-ciri dari partikularisme dan eksklusivisme kelompok yang
telah diperoleh siswa dari berbagai sumber yang telah dibaca dan
didiskusikan.
· Mengomunikasikan
-
Peserta didik
menyajikan hasil diskusinya ke dalam lembar kerja dalam bentuk tulisan
tentang pengertian dan ciri-ciri dari partikularisme dan eksklusivisme
kelompok.
-
Peserta didik
mempresentasikan hasil diskusinya tentang pengertian dan ciri-ciri dari
partikularisme dan eksklusivisme kelompok serta contoh yang pernah ditemui
para siswa.
-
Kemudian guru
memberikan kesempatan kepada siswa yang lain untuk bertanya kepada kelompok
yang maju terkait materi yang sudah dipresentasikan.
|
70
menit
|
|
Penutup
|
1.
Guru melakukan
penilaian terhadap kegiatan yang sudah dilakukan.
2.
Guru menunjuk beberapa
siswa untuk menyimpulkan materi tentang pengertian dan ciri-ciri dari partikularisme
dan eksklusivisme kelompok.
3.
Kemudian guru
memberikan kesimpulan terkait materi yang sudah dibahas kepada siswa dan
menanyakan kepada siswa apa manfaat yang diperoleh setelah belajar tentang
materi tersebut.
4.
Guru menutup
pembelajaran dengan salam.
|
10
menit
|
H.
Lampiran
Materi
Pembelajaran
A. Partikularisme
Kelompok
1. Pengertian
Partikularisme Kelompok
Partikularisme adalah sistem yang
mengutamakan kepentingan pribadi diatas kepentingan umum atau aliran politik,
ekonomi, kebudayaan yang membandingkan daerah atau kelompok sekunder khusus.
Dalam masyarakat partikularisme ini sering terjadi pada mereka yang hanya dapat
memikirkan dirinya sendiri saja tanpa mempedulikan sekitarnya. Partikularisme
kelompok dapat menyebabkan munculnya sikap egois dan cenderung tertutup dengan
kebudayaan yang lain. Selain itu, juga dapat menimbulkan sikap primordialisme
dan etnosentrisme. Partikularisme memiliki kemungkinan menjadi sumber konflik
karena cenderung mementingkan pribadi atau kelompok sendiri dari pada kepentingan
umum atau publik. Partikularisime juga dapat menghambat integrasi sosial dan
nasional.
Menurut Craig Stortie, partikularisme berkaitan dengan
bagaimana seseorang berperilaku dalam situasi tertentu. Orang tersebut akan
memperlakukan keluarga, teman, dan in-group
nya sebaik yang dia bisa, dan membiarkan orang lain mengurus dirinya sendiri.
2.
Ciri-Ciri Partikularisme
Kelompok
-
Individualis, mementingkan
kepentingan pribadi daripada umum
-
Heterogen, bersifat dan berpandangan
yang berbeda/ macam-macam
-
Mobilitas tinggi, memiliki dan
menghadapi perubahan yang cepat
-
Berorientasi pada rasionalitas dan
fungsi, mengedepankan logika dan teknologi
Contohnya dalam kehidupan
sehari-hari adalah seorang pemimpin di suatu perusahaan kontruksi yang hanya
memperkerjakan buruh yang berasal dari kampungnya sendiri. Contoh lain, Bangsa
Israel yang tidak mau melaksanakan pernikahan dengan suku bangsa lain, dan
seseorang yang selalu ingin dianggap paling baik dan benar, dan sebagainya.
B. Eksklusivisme
Kelompok
1. Pengertian
Eksklusivisme Kelompok
Eksklusivisme berarti paham yang mempunyai kecenderungan
untuk memisahkan diri dari masyarakat. Eksklusivisme ini berkaitan erat dengan
partikularisme, sebab mengutamakan kepentingan pribadi kemudian membuat
kelompok tersebut mempunyai kecenderungan memisahkan diri dengan sikap khusus
yang disepakati dalam kelompok.
Eksklusivisme dapat memiliki dampak
positif dan negatif. Dampak positif eksklusivisme, yaitu masyarakat dapat tetap
mempertahankan kebudayaan kelompoknya karena menganggap kelompoknya yang paling
baik dan wajib dipertahankan, mampu membedakan dirinya dengan orang lain, serta
tidak mudah terbawa oleh kelompok lain, sedangkan dampak negatif yang
ditimbulkan dari eksklusivisme, yaitu membuat seseorang menganggap kepentingan
kelompok sendiri menjadi satu-satunya hal yang penting, tertutup pada pengaruh
budaya lain sehingga sangat sulit melakukan berbagai perubahan yang bersifat
progresif, dan dapat memecah belah persatuan.
2.
Ciri-Ciri Eksklusivisme Kelompok
-
Mengutamakan kepentingan
pribadi.
-
Memiliki kecenderungan
untuk memisahkan diri dengan sikap khusus yang disepakati dalam kelompok.
Contohnya,
suatu
budaya terpencil memisahkan diri dari masyarakat karena mereka tidak mau budaya
mereka terpengaruh dengan budaya yang sedang berkembang sehingga mereka lebih
memilih untuk memisahkan diri dari masyarakat agar budaya mereka yang mereka
percayai tidak berubah atau tidak terpengaruh dengan budaya yang baru karena
mereka sudah menganggap peraturan dari budaya mereka sudah baik dan harus dilaksanakan,
seperti masyarakat Badui, masyarakat Suku Naga, masyarakat Metawai, masyarakat
Madura, dan masyarakat Bugis. Contoh lain masyarakat yang menganut konsep
eksklusif dan biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari dimana terdapat satu
kelompok yang terdiri dari orang-orang yang hanya mau berteman dengan orang
yang dianggap kaya, keren, atau orang yang memiliki status sosial yang tinggi.
Implementasi konsep partikularisme dan eksklusivisme
dalam kelompok sosial dapat dilihat dari bagaimana kelompok tersebut
diidentifikasi menurut karakteristik kelompok, misalnya penerapan nilai dan
norma dalam kelompok tersebut. Partikular dan eksklusif dapat dilihat dari
cakupan yang lebih luas, artinya melihat kelompok sosial secara global. Konsep
ini sering dikaitkan dengan bahasan universalisme dan globalisasi. Melihat
konsep globalisasi, sering kelompok sosial dengan konsep partikular ini
diidentikkan dengan masyarakat tradisional yang masih kuat mempertahankan nilai
dan norma yang dipercayai oleh kelompok tersebut. Di Indonesia, ada banyak
etnis yang ini sesuai dengan konsep partikular dan eksklusif ini.
Media Pembelajaran ( Power Point )
Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran
Sekolah :
SMA Negeri 58 Jakarta
Mata Pelajaran : Sosiologi
Kelas/Semester : XI/1
Materi Pokok : Kelompok Sosial Tidak Teratur
Waktu :
2 x 45 Menit
A.
Tujuan
Pembelajaran
Melalui
proses mencari informasi, menanya, mengasosiasi, mengomunikasikan dan
berdiskusi peserta didik dapat:
a. Afektif
1. Menunjukan jenis-jenis kelompok social tidak teratur yang ada di
lingkungan sekitarnya.
a.
Kognitif
1.
Menjelaskan pengertian
jenis-jenis kelompok social tidak teratur (massa, public, geng, dan klik).
2.
Menguraikan ciri-ciri
dari jenis kelompok social tidak teratur (massa, public, geng, dan klik).
3.
Mengklasifikasikan contoh
dari jenis kelompok social tidak teratur (massa, public, geng, dan klik).
b. Psikomotorik
1. Membedakan konsep dari jenis-jenis kelompok social tidak teratur.
B. Kompetensi Inti (KI)
|
KI
1 :
|
Menghayati dan mengamalkan
ajaran agama yang dianutnya.
|
|
KI
2 :
|
Menghyati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin,
tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun,
responsive, dan pro-aktif dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi
atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan
bangsa dalam pergaulan dunia.
|
|
KI
3 :
|
Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan
faktual, konseptual, procedural, dan metakognitif berdasarkan ingin tahunya
tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan
wawasan kemanusiaan, kebangsaan,
kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta
menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai
dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
|
|
KI
4 :
|
Mengolah,
menalar, dan menyaji ranah
konkret terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara
mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda
sesuai kaidah keilmuan.
|
C.
Kompetensi Dasar (KD) dan Indikator
|
Kompetensi Dasar
|
Indikator Pencapaian Kompetensi
|
|
3.1 Memahami
pengelompokan social di masyarakat dari sudut pandag dan pendekatan
Sosiologis.
|
3.1.1 Menjelaskan pengertian jenis-jenis
kelompok social tidak teratur (massa, public, geng, dan klik).
3.1.2 Menguraikan ciri-ciri dari jenis kelompok social tidak teratur
(massa, public, geng, dan klik).
3.1.3 Mengklasifikasikan
contoh dari jenis kelompok social tidak teratur (massa, public, geng, dan
klik).
|
|
4.1 Menalar tentang
terjadinya pengelompokan social di masyarakat dari sudut pandang dan
pendekatan Sosiologis.
|
4.1.1 Menunjukan
jenis-jenis kelompok social tidak teratur yang ada di lingkungan sekitarnya.
4.1.2 Membedakan
konsep dari jenis-jenis kelompok social tidak teratur.
|
D.
Materi Pembelajaran
1.
Pengertian jenis kelompok
social tidak teratur (massa, public, geng, dan klik).
2.
Ciri-ciri jenis kelompok
social tidak teratur (massa, public, geng, dan klik).
3. Contoh dari jenis kelompok social tidak teratur (massa, public,
geng, dan klik).
E.
Metode pembelajaran
1. Pendekatan : Scientific
2. Model : NHT (Numbered Head Together)
3. Metode : Ceramah, studi literatur, diskusi, dan
penugasan.
F.
Media pembelajaran
1. Media : Power
point, gambar kelompok
social tidak teratur (massa, public, geng, dan klik).
2. Alat : Laptop, LCD, proyektor, papan tulis, spidol,
speaker, kertas nomor; nomor 1 (pengertian) sebanyak 8 buah; nomor 2
(ciri-ciri) sebanyak 12
G.
Sumber pembelajaran
4.
Soekanto,
Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajagrafindo Persada
H.
Langkah-langkah kegiatan pembelajaran
|
Kegiatan
|
Deskripsi
|
Alokasi
Waktu
|
|
|
Pendahuluan
|
Pra-pembelajaran
1. Guru
mengkondisikan kelas dalam suasana kondusif untuk keberlangsungan proses
pembelajaran.
2. Guru
memberikan orientasi pembelajaran yang ingin dicapai, termasuk aspek-aspek
yang dinilai selama proses pembelajaran.
3. Guru
memberikan motivasi tentang pentingnya mempelajari kelompok-kelompok sosial
tidak teratur dalam masyarakat.
4. Guru
melakukan pembentukan kelompok siswa yang disesuaikan dengan model
pembelajaran kooperatif tipe NHT (Number Head Together).
5. Selanjutnya, guru membagi siswa menjadi beberapa
kelompok sejumlah 8 kelompok yang beranggotakan 3 orang siswa. Guru memberi
nomor kepada setiap siswa dalam kelompok da nama kelompok yang berbeda.
|
10
menit
|
|
|
Inti
|
1. Penyajian Fenomena
·
Guru menyajikan fenomena
kelompok-kelompok social tidak teratur melalui gambar kehidupan social yang
ditampilkan melalui LCD, kemudian guru meminta siswa mengasumsikan apa maksud
atau arti dari gambar yang ditampilkan
·
Selanjutnya guru membagikan materi kepada
masing-masing kelompok.
2. Mengamati
·
Peserta didik ditugasi untuk mempelajari
kelompok-kelompok sosial tidak teratur yang ada di masyarakat sesuai dengan
pembagian materi kelompok yang telah dibagikan sebelumnya.
·
Peserta didik diberi tugas untuk membaca
pengertian kelompok sosial dari berbagai sumber informasi atau referensi yang telah ditugaskan untuk membaca dan
membawa bacaan dari rumah.
3. Menanya
Melalui
kegiatan diskusi dalam pembelajaran, siswa diberi motivasi untuk mengemukakan
ide/pemikiran yang kritis dengan bahasa sendiri yang disampaikan secara logis
dan sistematis dapat menjawab pertanyaan tentang:
·
Apa pengertian dari masing-masing jenis kelompok
social tidak teratur?
·
Apa saja ciri-ciri dari tiap jenis
kelompok social tidak teratur?
·
Apa saja contoh nyata fenomena yang
terjadi di masyarakat terkait jenis-jenis kelompok social tidak teratur?
4. Mengeksplorasi
·
Membedakan kelompok-kelompok social tidak
teratur berdasarkan: (1) ciri dan karakteristik jenis-jenis kelompok social
tidak teratur, dan (2) model dan bentuk dari kelompok-kelompok social tidak
teratur.
·
Mengeksplorasi latar belakang
terbentuknya kelompok-kelompok social tidak teratur
·
Mendeskripsikan contoh dari masing-masing
jenis kelompok social tidak teratur
5. Mengasosiasikan
·
Mengasosiasikan konsep dan tujuan
terbentuknya kelompok social tidak teratur di dalam masyarakat
·
Mengklasifikasikan kelompok-kelompok
sosial tidak teratur menjadi kelompok social yang membawa dampak positif
ataupun negative
6.
Mengomunikasikan
· Perwakilan
peserta didik dari tiap kelompok mempresentasikan dan menyajikannya dalam
berbagai bentuk, baik dengan tulisan maupun lisan tentang ciri-ciri
dari jenis-jenis kelompok social tidak teratur.
·
Perwakilan peserta didik dari tiap
kelompok mempresentasikan hasil temuan atau hasil kajian dan diskusinya
tentang contoh fenomena social yang menggambarkan jenis-jenis kelompok social
tidak teratur.
|
2 x 35 menit
|
|
|
Penutup
|
1. Guru
bersama-sama dengan peserta didik membuat rangkuman kesimpulan pelajaran.
2. Guru
melakukan penilaian dan atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah
dilaksanakan.
3. Guru
memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran.
4. Guru
merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk tugas kelompok dan
menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
5. Guru
menutup pelajaran dengan mengucapkan salam.
|
10 menit
|
|
I.
Lampiran
1.
Peta konsep
2.
Materi
KD 3.1 Memahami Pengetahuan Dasar Sosiologi
sebagai Ilmu Pengetahuan yang Berfungsi Mengkaji Gejala Sosial di Masyarakat.
Kelompok Sosial Tidak Teratur (Massa, Publik,
Geng, dan Klik)
MASSA
1.
Pengertian
Massa adalah sekumpulan orang yang
dibentuk secara terencana dan mempunyai keinginan yang sama di setiap
anggotanya. Meskipun begitu, kehadirannya yang sementara tetap menjadi ciri
khas dari massa. Gustave Le Bon dalam Gerungan (1900) menyatakan bahwa massa
merupakan suatu kumpulan orang banyak yang berkumpul dan melakukan suatu
hubungan untuk sementara waktu, dimana hubungan tersebut dilakukan karena
mempunyai hobi dan kepentingan yang sifatnya sementara.
Mennicke
(1948) membagi massa menjadi dua, yaitu massa abstrak dan massa
konkret. Massa abstrak merupakan sekumpulan orang yang berkumpul karena
mempunyai sejumlah persamaan, entah itu persamaan minat, kepentingan, atau pun
tujuan. Massa abstrak ini tidak mempunyai struktur yang jelas dan juga tidak
terorganisir dengan baik. Massa abstrak ini bisa tiba-tiba menghilang tanpa
bekas. Sementara itu, massa konkret merupakan yang terbentuk karena adanya
persamaan batin antar anggotanya, mempunyai persamaan yang dianut, serta adanya
struktur yang jelas. Bentuk massa ini berbeda dari ciri-ciri massa pada
umumnya. Massa konkret sewaktu-waktu bisa menjadi massa abstrak, begitu pun
juga sebaliknya.
Sementara itu, Park dan Burgess (dalam Lindsey, 1959) membagi massa menjadi massa
aktif dan massa pasif. Massa aktif adalah kumpulan massa yang bertindak aktif
di lingkungan masyarakat. Tawuran, demonstran, dan sebagainya merupakan contoh
tindakan dalam massa jenis ini. Massa aktif akan terbentuk bila faktor perasaan
tidak puas dan tekanan yang dirasakan pada jiwa manusia mulai dialami oleh
anggota kelompok massa. Kelompok pasif adalah kelompok yang belum melakukan
tindakan atau hanya menjadi penonton perbuatan massa aktif.
2.
Ciri-ciri
·
Impulsif, memberikan respon secara cepat atau
spontan terhadap stimulus yang dikenakan kepada mereka.
·
Mudah tersinggung, gerak gerik massa sering
kali tersulut oleh ucapan atau perbuatan yang menyinggung perasaannya. Perasaan
mudah tersinggung itu membuat massa melakukan suatu tindakan yang terkadang
sedikit irasional.
·
Sugestibel, mudah tersugesti oleh stimulus apapun,
khususnya ucapan.
·
Irasional, muara dari tiga sifat di atas adalah
irasionalitas anggota massa yang tercermin dari tindakan yang dilakukannya.
·
Adanya social facilitation (F.
Allport), adanya rangsangan berupa tindakan dari seseorang, entah dari
sesama anggota massa maupun di luar anggota massa.
3.
Contoh
·
Massa aksi demonstrasi
·
Penonton pertandingan sepakbola
·
Aksi damai
·
Aksi solidaritas
PUBLIK
1.
Pengertian
Public merupakan
kelompok yang tidak merupakan kesatuan. Interaksi yang terjadi secara tidak
langsung melalui alat-alat komunikasi seperti misalnya pembicaraan pribadi yang
berantai, desas desus, surat kabar, radio, televisi, film, dsb. Alat penhubung
memungkinkan suatu publik punya pengikut yang lebih luas. Akan tetapi, karena
jumlahnya yang sangat besar taka da pusat perhatian yang tajam sehingga tidak
ada kesatuan. Untuk memudahkan mengumpulkan public tersebut, digunakan
cara-cara dengan menggandengkan nilai-nilai social atau tradisi masyarakat
bersangkutan, atau dengan menyiarkan pemberitaan-pemberitaan, baik yang benar
ataupun yang palsu sifatnya.
2.
Ciri-ciri
·
Diprakarsai oleh keinginan individu
·
Individu punya kesadaran akan kedudukan
social
·
Lebih mementingkan kepentingan pribadi
·
Kemungkinan tidak terbentuk di tempat yang sama.
·
Terbentuk karena adanya perhatian yang sama.
·
Tidak adanya interaksi secara terus menerus.
·
Tidak adanya kesadaran kelompok.
·
Kehadirannya hanya untuk sementara.
3.
Contoh
·
Pemungutan suara dalam pemilihan umum
·
Konser
·
Seminar
·
Kampanye
·
Diskusi public
KLIK
1.
Pengertian
Clique
yang dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai klik, merupakan kelompok kecil
orang tanpa struktur formal yang mempunyai pandangan atau kepentingan bersama
(Dependnas, 2001: 575). Namun istilah clique kurang populer di kalangan
masyarakat Indonesia yang lebih familiar dengan istilah geng, sehingga tidak
terdapat batas perbedaan yang jelas antara geng dan clique.
Clique
sendiri adalah sebuah grup sosial kecil yang biasanya terdiri dari dua sampai
dua belas orang (rerata enam orang). Mereka terbentuk karena kesamaan
karakteristik antar anggota-anggotanya, termasuk usia, jenis kelamin, ras,
status sosial, serta saling berbagi ketertarikan dan aktivitas (Davis dalam
Salkind, 2008: 149).
Soerjono
Soekamto, menurutnya,
peranan positif klik yang akan dialami terhadap remaja salah satunya adanya
rasa aman dianggap penting dari keanggotaan suatu klik tertentu, dan penting
bagi perkembangan jiwa yang sehat. Oleh karena itulah Soerjono menambahkan
bahwa seorang remaja dapat menyalurkan rasa kecewanya, rasa takut, rasa
khawatir, rasa gembira, dan lain sebagainya, dengan mendapatkan tanggapan yang
wajar dari rekan-rekannya seklik.
2.
Ciri-ciri
·
Adanya pertemuan timbal balik antar anggota
·
Bersifat egalitas
·
Ada kepentingan atau kesamaan pengalaman
3.
Contoh
·
Kelompok
belajar les
·
Kelompok
remaja masjid
·
Kelompok
karan taruna
·
Kelompok
sahabat/teman dekat
GENG
1.
Pengertian
Istilah geng di Indonesia
dipakai untuk hampir seluruh bentuk hubungan kelompok atau grup sosial remaja
dengan teman sebayanya. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, geng didefinisikan
sebagai kelompok remaja yang terkenal karena kesamaan latar belakang sosial,
sekolah, daerah, dan sebagainya; geng juga dapat berarti gerombolan (Dependnas,
2001: 353).
Berdasarkan definisi
tersebut istilah geng identik dengan remaja, dan saat ini kata geng sendiri
mengalami perubahan denotasi sehingga sering dikaitkan dengan perilaku negatif
seperti tindak kekerasan, pelecehan dan lain sebagainya, baik terhadap anggota
geng lain atau orang-orang yang berada di luar dari geng tersebut
Menurut
Mappiare 1982: 160 geng merupakan kelompok yang terbentuk dengan sendirinya
yang pada umumnya merupakan akibat pelarian dari empat jenis kelompok lainnya
seperti chums sahabat karib, cliques komplotan sahabat, crowds kelompok banyak
remaja dan kelompok yang diorganisir.
Menurut
Hurlock 2002: 215 kelompok geng diartikan bahwa remaja yang tidak termasuk klik
atau kelompok besar dan tidak merasa puas dengan kelompok yang terorganisasi
mungkin mengikuti kelompok geng. Anggota geng yang biasanya terdiri dari
anak-anak sejenis dan minat utama mereka adalah untuk menghadapi penolakan
teman-teman melalui perilaku antisosial.
Menurut
Chaplin 2004: 204 geng merupakan unit sosial yang terdiri atas
individu-individu yang diikat oleh minat atau suatu kepentingan yang sama. Geng
dapat tersusun atas orang-orang dari sembarang usia, namun sangat umum terdapat
di kalangan anak-anak atau pelajar tetapi tidak selalu begitu, geng bersifat
antisosial dalam pandangan dan kegiatannya.
Dari
pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa geng yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah kumpulan atau kelompok yang terdiri dari beberapa anggota
yang diikat oleh minat atau kepentingan yang sama.
2.
Ciri-ciri
·
Umumnya
berkonotasi negative
·
Anti
social
·
Punya
kesamaan minat dan kepentingan
3.
Contoh
·
Geng
motor
·
Gerombolan
remaja
Sumber referensi:
Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu
Pengantar. Jakarta: Rajagrafindo Persada
3.
Media
RENCANA
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Sekolah
: SMA Negeri 5 Surakarta
Mata Pelajaran : Sosiologi
Kelas/Semester : XI/1
Materi Pokok : Teori
tentang Masalah Sosial
Alokasi Waktu : 2 x 45
menit
A. Tujuan
Pembelajaran
1. Siswa
mampu menyebutkan teori masalah sosial
2. Siswa
mampu menjelaskan pengertian teori fungsional structural
3. Siswa
mampu menjelaskan pengertian teori konflik
4. Siswa
mampu menjelaskan pengertian teori interaksionisme simbolik
a. Ranah
Kognitif
1. Siswa
mampu menyebutkan teori masalah sosial
2. Siswa
mampu menjelaskan pengertian teori fungsional structural
3. Siswa
mampu menjelaskan pengertian teori konflik
4. Siswa
mampu menjelaskan pengertian teori interaksionisme simbolik
b. Ranah
Afektif
1. Siswa
mampu menunjukkan teori masalah sosial
2. Siswa
mampu mendiskusikan pengertian teori fungsional structural
3. Siswa
mampu mendiskusikan pengertian teori konflik
4. Siswa
mampu mendiskusikan pengertian teori interaksionisme simbolik
c. Ranah
Psikomotorik
1. Siswa
mampu menunjukkan teori masalah sosial
2. Siswa
mampu mendiskusikan pengertian teori fungsional structural
3. Siswa
mampu mendiskusikan pengertian teori konflik
4. Siswa
mampu mendiskusikan pengertian teori interaksionisme simbolik
B. Kompetensi
Inti
K1 1 :
Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang di anutnya
K1 2
: Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab,
peduli (gotog royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsive, dan pro
aktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi
secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai
cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
K1 3 : Memahami dan menerapkan pengetahuan
faktual, konseptual,procedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya
tentang ilmu pengetahuan, tegnologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan
kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena
dan kejadian, serta menerakan pengetahuan prosedural, pada bidang kajianserta
menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai
dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
K1 4 : Mengolah,menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan
ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah
secara mandiri, bertindak secara afektif dan kreatif, serta mampu menggunakan
metoda sesuai kaidah keilmuan.
|
Kompetensi Dasar
|
Indikator Pencapaian Kompetensi
|
|
3.2 Memahami
Permasalahan Sosial dalam Kaitannya dengan Pengelompokan Sosial dan
Kecenderungan Eksklusi Sosial di
Masyarakat dari Sudut Pandang dan Pendekatan Sosiologis
|
3.2.1 Siswa dapat menyebutkan teori masalah
sosial
3.2.2 Siswa
dapat menjelaskan pengertian teori fungsional structural
3.2.3 Siswa
dapat menjelaskan pengertian teori konflik
3.2.4 Siswa
dapat menjelaskan pengertian teori interaksionisme simbolik
|
C.
Materi
Pembelajaran
1.
Pengertian
teori fungsional structural
2.
Fungsi-fungsi
pokok fungsionali struktural menurut Setephen K.Sanderson
3. Tokoh-Tokoh
Teori Fungsional Struktural
4.
Dua
pandangan teori Fungsional Struktural
5.
Pengertian Teori Konflik
6.
Wewenang, posisi, dan
kekuasaan
7.
Pengertian Teori
Interaksionisme Simbolik
8.
Pandangan
teori interaksionisme simbolik oleh para ahli
D.
Pendekatan,
Model, dan Metode Pembelajaran
Pendekatan
: Scientific learning
Model
: Discovery learning
Metode : Diskusi, presentasi, tanya jawab,
ceramah
E.
Media,
dan Alat/bahan
Media
: Power point
Alat/bahan
: Laptop, lcd
F.
Sumber
Pembelajaran
Raho, Bernard, 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta:
Prestasi Pustaka.
Grathoff, Richard, 2000. Kesesuaianantara Alfred Schutz dan Talcott
Parsons:Teori Aksi Sosial. Jakarta: Kencana.
Marzali,
Amri. 2006. Struktural-Fungsionalisme.
Antropologi Indonesia Vol. 30, No. 2.
Tumengkol, Selvie M.
2012. Teori Sosiologi Suatu Perspektif Tentang Teori Konflik Dalam Masyarakat
Industri. Hal, 1-7. Pada tanggal 24 Maret 2019.
Ahmadi,
Dadi. 2008. Interaksi Simbolik: Suatu Pengantar. Mediator Vol. 9, No.2.
G.
Kegiatan
Pembelajaran
|
Kegiatan
|
Deskripsi
|
Alokasi Waktu
|
|
Pendahuluan
|
1.
Guru memberi salam, dan
mengajak siswa berdoa
2.
Bernyanyi Indonesia Raya
3.
Guru
menanyakan kabar dan mengecek kehadiran siswa
4.
Guru menanyakan apakah siswa sudah siap untuk memulai pembelajaran
5.
Guru menjelaskan KD Tujuan dari pembelajaran
|
10 Menit
|
|
Keiatan Inti
|
·
Mengamati
Guru mengarahkan siswa untuk mengamati tiga gambar
yang berkaitan dengan teori strukturan fungsionl, konflik, dan
interaksionisme simbolik, yang ada di slide power point.
·
Menanya
-
Setelah selesai mengamati, guru menanyakan kepada siswa tentang
maksud dari gambar yang ditampilkan dengan pertanyaan sebagai berikut:
a.
Apa yang
kalian ketahui tentng gambar pertama, kedua, dan ketiga?
b.
Apa yang
terjadi apabila pada gambar pertama, salah satu bagian tidak melaksanakan
fungsinya dengan baik?
c.
Mengapa
kejadian seperti gambar nomer dua bisa terjadi?
d.
Perhatikan
bendera yang dibawa oleh perempuan pada gambar nomer tiga? Apakah kalian tahu
maksud bendera tersebut?
-
Siswa diberi
kesempatan untuk menjawab pertanyaan-pertayaan tersebut di atas.
·
Mengumpulkan
-
Setelah guru memberikan pertanyaan kepada siswa dan siswa menjawab
pertanyaan tersebut, guru membagi siswa kedalam 3 kelompok dengan cara
berhitung 1-4, lalu siswa dipersilahkan untuk berkumpul dengan kelompoknya
masing-masing.
-
Setelah semua siswa berkumpul dengan kelmoknya, guru meminta
masing-masing kelompok untuk mencari,
a.
Kelompok 1 = pengertian teori
fungsional struktural, dan contoh nyata yang ada di masyarakat.
b.
Kelompok 2 = pengertian teori konflik, dan contoh nyata yang ada di
masyarakat.
c.
Kelompok 3 = pengertian teori interaksionisme simbolik, dan contoh
nyata yang ada di masyarakat.
Siswa boleh mencari di buku maupun e-jurnal. Siswa diberi waktu
selama tiga piluh menit.
·
Mengasosiasi
Setelah masing-masing kelompok selesai mencari
materi untuk tugas masing-masing melalui buku ataupun e-jurnal, guru meminta
meminta masing-masing kelompok memikirkan kesimpulan dari hasil diskusinya
sebelum dipresentasikan di depan kelas.
·
Mengomunikasikan
-
Guru meminta setiap kelompok, dimulai dari kelompok satu,
menyampaikan hasil diskusi kelompok masing-masing, kelompok satu mengenai
pengertian teori fungsional struktural, dan contoh nyata yang ada di
masyarakat, kelompok dua mengenai pengertian teori konflik, dan contoh nyata
yang ada di masyarakat, dan kelompok tiga megenai pengertian teori
interaksionisme simbolik, dan contoh nyata yang ada di masyarakat.
-
Setelah selesai mengkomunikasikan hasil diskusinya, setiap kelompok
akan membuka sesi tanya jawab. Bagi anak yang bertanya ataupun menambahi akan
diberi nilai tambahan oleh guru.
|
65 menit
|
|
Penutup
|
·
Setelah semua kelompok selesai mengkomunikasikan hasil diskusinya, guru
memberi kesempatan kepada satu yang ingin menyampaikan kesimpulan tentang
teori fungsionalisme structural, konflik, dan interaksionisme simbolik,
apabila tidak ada yang sukarela mengajukan diri, maka guru akan menunjuk
salah satu siswa secara random untuk menyamoaikan kesimpulan.
·
Setelah salah satu siswa memberi kesimpulan, barulah kemudian guru
memberi kesimpulan terkait materi yang sudah dibahas dan menunjukkan slide
power point tentang teori struktural fungsional, konflik, dan interaksionisme
simbolik, lalu menanyakan kepada siswa tentang apa manfaat yang diperoleh
setelah belajar materi hari ini.
·
Guru menutup pembelajaran dengan salam.
|
15
menit
|
H.
Lampiran
Peta Konsep
|
Memahami Permasalahan Sosial
dalam Kaitannya dengan Pengelompokan Sosial dan Kecenderungan Eksklusi
Sosial di Masyarakat danSudut Pandang dan Pendekatan Sosiologis
|
|
Berbagai jenis permasalahan
sosial di ranah publik
|
|
Dampak permasalahan sosial
terhadap kehidupan
|
|
Permasalahan sosial di
masyarakat
|
|
Partikularisme kelompok dan
dilema pembentukan
|
|
Pemecahan masalah sosial
untuk mencapai kehidupan
|
|
Teori tentang masalah sosial
|
Materi
Pembelajaran
Teori tentang Masalah Sosial
Masalah sosial merupakan situasi yang
dinyatakan sebagai keadaan yang bertentangan dengan nilai-nilai oleh warga
masyarakat yang cukup penting, dimana masyarakat sepakat melakukan suatu
tindakan guna mengubah situasi tersebut
1. Teori
Fungsional-Struktural
Menurut Bernard Raho (2007), teori
fungsional struktural dicetuskan oleh Talcott Parson. Asumsi dasar dari Teori
Fungsionalisme Struktural, salah satu paham atau prespektif di dalam sosiologi
yang memandang masyarakat sebagai satu sistem yang terdiri dari bagian-bagian
yang saling berhubungan satu sama lain dan bagian yang satu tidak dapat berfungsi
tanpaadanya hubungan dengan bagian yang lainya. Kemudian perubahan yang terjadi
pada satu bagian akan menyebabkan ketidakseimbangan dan pada giliranya akan
menciptakan perubahan pada bagian lainya.
Menurut Richard Grathoff (2000), masyarakat
terintegrasi atas dasar kesepakatan dari para anggotanya akan nilai-nilai
kemasyarakatan tertentu yang mempunyai kemampuan mengatasi perbedaan-perbedaan
sehingga masyarakat tersebut dipandang sebagai suatu sistem yang secara
fungsional terintegrasi dalam suatu keseimbangan. Dengan demikian masyarakat
adalah merupakan kumpulan sistem-sistem sosial yang satu sama lain berhubungan
dan saling ketergantungan
Dalam teori
fungsionalisme struktural, masyarakat sering dibandingkan dengan suatu
organisme raksasa yang terdiri dari banyak struktur, semuanya berfungsi secara
bersama-sama untuk memelihara keseluruhan sistem. Menurut Setephen K.Sanderson
(1993), fungsi-fungsi pokok fungsionalisme struktural ,antara lain :
a.
Masyarakat
merupakan system yang kompleks yang terdiri dari bagian-bagian yang saling
berhubungan dan tergantung.
b.
Setiap
bagian dari sebuah masyarakat eksis karena masyarakat tersebut memiliki fungsi
penting dalam memelihara eksistensi dan stabilitas masyarakat secara
keseluruhan.
c.
Semua
masyarakat memiliki mekanisme untuk mengintegrasikan dirinya, yaitu mekanisme
yang dapat merekatkannya menjadi satu.
d.
Masyarakat
cenderung mengarah pada satu keadaan equilibrium atau hemeostatis.
e.
Perubahan
sosial merupakan kejadian yang tidak biasa dalam masyarakat, tetapi bila itu
terjadi juga maka perubahan itu pada umumnya akan membawa
konsekuensi-konsekuensi pada masyarakat secara keseluruhan.
Tokoh-Tokoh Teori
Fungsional Struktural
a. Herbert
Spencer
Adalah ahli sosiologi Inggris pada
pertengahan abad ke-19 yang membahastentang fungsional struktural dengan
menganalogikan struktur biologi denganstruktur sosial. Pembahasan spencer
tentang masyrakat sebagai suatu organismehidup terdapat dalam butir-butir ini
(Margaret M. Poloma 2007: 24) :
a) Masyarakat maupun organisme hidup sama-sama
mengalamipertumbuhan
b) Strukur tubuh-sosial (social body) maupun organisme hidup (living
body) juga mengalami pertumbuhan, dimana semakin besar suatu struktur
sosialmaka semakin banyak pula bagian-bagiannya seperti halnya dengansistem
biologis yang menjadi semakin kompleks sementara ia tumbuh menjadi semakin
besar
c) Setiap bagian yang tumbuh di dalam
tubuh organisme biologis maupun organisme sosial memiliki fungsi dan tujuan
tertentu. Misalnya padamanusia struktur biologis seperti struktur dan fungsi
paru-paru berbedadengan struktur dan fungsi keluarga sebagai struktur
institusionalmemiliki tujuan yang berbeda dengan sistem politik atau ekonomi
d) Di dalam sistem organisme maupun
sistem sosial,perubahan pada suatubagian akan mengakibatkan perubahan pada
bagian lain dan padaakhirnya di dalam sistem secara keseluruhan. Misalnya
perubahan sistempolitik dari suatu pemerintah demokratis ke suatu
pemerintahantotaliterakan mempengaruhi keluarga,pendidikan, agama dan
sebagainya. Bagian-bagian itus aling berkaitan satu sama lain
e) Bagian-bagian yang saling berkaitan
tersebut merupakan suatu struktur-mikro yang dapat dipelajari secara terpisah.
b. Emile Durkheim
Emile Dukheim adalah
seorang sosiolog prancis, durkheim melihat masyrakat modern sebagai
keseluruhan organis yang memiliki realitas tersendiri, dimana setiap perangkat
tersebut memiliki seperangakat kebutuhan atau fungsi-fungsi tertentu yang harus
dipenuhi oleh bagian-bagian yang menjadi anggotanya agar dalam keadaan normal,
tetap langgeng (Margaret M. Poloma 2007: 25).
c.
Radcliffe Brown
Fungsionalisme Brown ini
merupakan perkembangan dari teori Fungsional Durkheim. Menrut Radcliffe Brown
(1976: 505), fungsi dari setiap kegiatan selalu berulang, seperti penghukuman
kejahatan, atau upacara penguburan, adalah merupakan bagian yangdimainkannya
dalam kehidupan social sebagai keseluruhan dan, karena itu,merupakan sumbangan
yang diberikan bagi pemelihara kelangsungan struktural
d.
Bronislaw Malinowski
Menurut Malinowski (1976: 551), para ahli
antropologi menganalisa kebudayaan dengan melihat pada fakta-fakta antropologis
dan bagian yang dimainkan oleh fakta-fakta itu dalam sistem kebudayaan .
e.
Talcott Parsons
Fungsionalisme structural Talcott Parsons
terkenal dengan skema AGIL.
Parson yakin bahwa ada empat fungsi penting yang diperlukan semua sistem,
yaitu,
·
Adaptation (adaptasi) : Sebuah system harus
menanggulangi situasi eksternal yang gawat. Sistemharus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan menyesuaikanlingkungan
itu dengan kebutuhannya.
·
Goal attainment (pencapaian tujuan) :
Sebuah system harus mendefenisikan dan mencapai tujuan utamanya.
·
Integration (integrasi) : Sebuah system harus
mengatur antar hubungan bagian-bagian yangmenjadi komponennya. Sistem juga
harus mengelola antar hubungan ketiga fungsi penting lainnya (A, G, L)
·
Latency (latensi atau pemeliharaan pola)
: Sebuah system harus mrlengkapi, memelihara, dan memperbaiki,baik
motivasi individual maupun pola-pola kultural yang menciptakandan menopang
motivasi.
f.
Robert K. Merton
Robert K. Merton, sebagai seorang yang mungkin
dianggap lebih dari ahliteori lainnya telah mengembangkan pernyataan mendasar
dan jelas tentang teori-teori fungsionalisme, merton merupakan seorang
pendukung yang mengajukantuntutan lebih terbatas bagi perspektif ini. Mengakui
bahwa pendekatan fungsional-struktural telah membawa kemajuan
bagi pengetahuan sosiologis.
Merton telah mengutip tiga postulat yang ia
kutip dari analisa fungsional dandisempurnakannya, diantaranya ialah :
Postulat pertama, adalah kesatuan fungsional masyarakat yang dapat dibatasi
sebagai suatu keadaan dimana seluruh bagian dari system sosialbekerjasama dalam
suatu tingkatan keselarasan atau konsistensi internalyang memadai, tanpa menghasilkan konflik berkepanjangan yang
tidak dapat diatasi atau diatur. Atas postulat ini Merton
memberikan koreksibahwa kesatuan fungsional yang sempurna dari satu masyarakat
adalahbertentangan dengan fakta. Hal ini disebabkan karena dalamkenyataannya
dapat terjadi sesuatu yang fungsional bagi satu kelompok,tetapi dapat pula
bersifat disfungsional bagi kelompok yang lain.
Postulat kedua, yaitu fungionalisme universal yang menganggap
bahwa seluruh bentuk sosial dan kebudayaan yang sudah baku memiliki
fungsi-fungsi positif. Terhadap postulat ini dikatakan bahwa
sebetulnyadisamping fungsi positif dari sistem sosial terdapat juga
dwifungsi.Beberapa perilaku sosial dapat dikategorikan kedalam bentuk atau
sifatdisfungsi ini. Dengan demikian dalam analisis keduanya harusdipertimbangkan.
Postulat ketiga, yaitu indispensability yang
menyatakan bahwa dalam setiap tipe peradaban, setiap kebiasaan, ide,
objek materiil dankepercayaan memenuhi beberapa fungsi penting, memiliki
sejumlah tugasyang harus dijalankan dan merupakan bagian penting yang tidak
dapatdipisahkan dalam kegiatan system sebagai keseluruhan. Menurut Merton,postulat
yang kertiga ini masih kabur (dalam artian tak memilikikejelasan, pen),
belum jelas apakah suatu fungsi merupakan keharusan.
Berdasarkan teori fungsional ini, ada dua pandangan tentang masalah
sosial. Kedua pandangan tersebut adalah patologi sosial dan disorganisasi
sosial.
a.
Patologi
Menurut M.P. Fairchild (1962), Keadaan
sosial yang sakit (abnormal) pada suatu masyarakat.
Semua tingkah laku yang bertentangan dengan
norma kebaikan, stabilitas lokal, pola kesederhanaan, moral, hak milik,
solidaritas kekeluargaan, hidup rukun bertetangga, disiplin, kebaikan dan hukum
formal.
Contoh : kemiskinan, pengangguran, perceraian,
pelacuran, mirasantika dll.
b. Disorganisasi
Menurut Soerjono Soekanto (1990) disorganisasi
adalah proses melemahnya atau berpudarnya norma-norma dan nilai-nilai di dalam
masyarakat karena adanya perubahan.
2. Teori
Konflik
Teori konflik Ralf
Dahrendorf muncul sebagai
reaksi atas teori fungsionalisme struktural yang kurang
memperhatikan fenomena konflik dalam masyarakat.
Dahrendraf
adalah pencetus pendapat yang mengatakan bahwa masyarakat memiliki dua wajah
(konflik dan konsensus) dan karena itulah teori sosiologi harus dibagi ke dalam
dua bagian, teori konflik dan teori consensus.
Konflik
merupakan gejala sosial yang serba hadir dalam kehidupan sosial, sehingga
konflik bersifat inheren artinya konflik akan senantiasa ada dalam setiap ruang
dan waktu, dimana saja dan kapan saja. Dalam pandangan ini, masyarakat
merupakan arena konflik atau arena pertentangan dan integrasi yang senantiasa
berlangsung.
Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia Konflik
artinya percekcokan, perselisihan dan pertentangan. Sedangkan konflik sosial
yaitu pertentangan antar anggota atau masyarakat yang bersifat menyeluruh
dikehidupan.
Menurut
J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto (2005), dalam pengertian lain, konflik adalah
merupakan suatu proses sosial yang berlangsung dengan melibatkan orang-orang
atau kelompok-kelompok yang saling menantang dengan ancaman kekerasan.
Menurut
George Ritzer dan Douglas J. Goodman (2004), teori ini dibangun dalam rangka
untuk menentang secara langsung terhadap Teori Fungsionalisme Struktural. Kalau
menurut Teori Fungsionalisme structural masyarakat dalam kondisi yang statis
atau tepatnya bergerak dalam kondisi keseimbangan. Fungsionalis menekankan
keteraturan masyarakat, sedangkan teoritisi konflik melihat pertikaian dan
konflik dalam system sosial. Fungsionalis menyatakan bahwa setiap elemen
masyarakat berperan dalam menjaga stabilitas. Teoritisi konflik melihat
berbagai elemen kemasyarakatan menyumbang terhadap disintegrasi dan perubahan.
Fungsionalis cenderung melihat masyarakat secara informal diikat oleh norma,
nilai dan moral. Teoritisi konflik melihat apa pun keteraturan yang terdapat
dalam masyarakat berasal dari pemaksaan terhadap anggotanya oleh mereka yang
berada di atas. Fungsionalis memusatkan perhatian pada kohesi yang diciptakan
oleh nilai bersama masyarakat. Teoritisi konflik menekankan pada peran
kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban dalam masyarakat
Menurut
George Ritzer (2013), masyarakat senantiasa dalam proses perubahan yang
ditandai pertentangan yang terus menerus di antara unsur-unsur. Manusia adalah
makhluk sosial yang mempunyai andil dalam terjadinya disintegrasi dan perubahan
sosial. Masyarakat selalu dalam keadaan konflik menuju proses perubahan.
Masyarakat dalam berkelompok dan hubungan sosial didasarkan atas dasar dominasi
yang menguasai orang atau kelompok yang tidak mendominasi.
Konsep
sentral dari teori ini adalah wewenang dan posisi. Keduanya merupakan fakta
sosial. Dalam teori konflik wewenang dan juga kekuasaan merupakan faktor yang
menentukan terjadinya konflik sosial. Perbedaan wewenang adalah suatu tanda
dari adanya berbagai posisi dalam masyarakat. Perbedaan posisi serta perbedaan
wewenang di antara individu dalam masyarakat itulah yang harus menjadi
perhatian utama para sosiolog. Struktur yang sebenarnya dari konflik-konflik
harus diperhatikan di dalam susunan peranan sosial yang dibantu oleh
harapan-harapan terhadap kemungkinan mendapatkan dominasi. Tugas utama
menganalisa konflik adalah mengidentifikasi berbagai peranan kekuasaan dalam
masyarakat.
Kekuasaan
dan wewenang seantiasa menempatkan individu pada posisi atas dan posisi bawah
dalam setiap struktur. Karena wewenang itu adalah sah, maka setiap individu yang
tidak tunduk terhadap wewenang yang ada akan terkena sanksi. Dengan demikian
masyarakat disebut oleh Dahrendorf sebagai : persekutuan yang terkoordinasi
secara paksa. Oleh karena kekuasaan selalu memisahkan dengan tegas antara
penguasa dan yang dikuasai maka dalam masyarakat selalu terdapat dua golongan
yang saling bertentangan. Masing-masing golongan dipersatukan oleh ikatan
kepentingan nyata yang bertentangan secara subtansial dan secara langsung di
antara golongan-golongan itu. Pertentangan itu terjadi dalam situasi di mana
golongan yang berkuasa berusaha mempertahankan status quo sedangkan golongan
yang dikuasai berusaha untuk mengadakan perubahan-perubahan.
Kekuasaan
atau otoritas mengandung dua unsur yaitu penguasa (orang yang berkuasa) dan
orang yang dikuasai atau dengan kata lain atasan dan bawahan. Kelompok
dibedakan atas tiga tipe antara lain : 1. Kelompok Semu (quasi group) 2.
Kelompok Kepentingan (manifes) 3. Kelompok Konflik Kelompok semu adalah
sejumlah pemegang posisi dengan kepentingan yang sama tetapi belum menyadari
keberadaannya, dan kelompok ini juga termasuk dalam tipe kelompok kedua, yakni
kelompok kepentingan dan karena kepentingan inilah melahirkan kelompok ketiga
yakni kelompok konflik sosial. Sehingga dalam kelompok akan terdapat dalam dua
perkumpulan yakni kelompok yang berkuasa (atasan) dan kelompok yang dibawahi
(bawahan). Kedua kelompok ini mempunyai kepentingan berbeda. Bahkan, menurut
Ralf, mereka dipersatukan oleh kepentingan yang sama.
3. Teori
Interaksionisme Simbolik
Konsep
interaksionisme simbolik ini diperkenalkan oleh Herbert Blummer sekitar tahun
1939. Dalam lingkup sosiologi ide ini sudah lebih dulu dikemukakan oleh Herbert
Mead, tetapi kemudian dimodifikasi oleh Blummer guna mencapai tujuan tertentu.
Interaksi
Simbolik menunjuk pada “komunikasi” atau secara lebih khusus “simbol-simbol”
sebagai kunci untuk memahami kehidupan manusia itu. Interaksi Simbolik menunjuk
pada sifat khas dari interaksi antar manusia. Artinya manusia saling
menerjemahkan dan mendefinisikan tindakannya, baik dalam interaksi dengan orang
lain maupun dengan dirinya sendiri. Proses interaksi yang terbentuk melibatkan
pemakaian simbol-simbol bahasa, ketentuan adat istiadat, agama dan
pandangan-pandangan. Manusia selalu memaknai situasi sosial.
Interaksi simbolik
merupakan suatu aktivitas yang merupakan cirri khas manusia, yakni komunikasi
atau pertukaran simbol yang diberi makna. Blumermenyatukan gagasan-gagasan
tentang interaksi simbolik lewat tulisannya,
dan juga diperkaya dengan gagasan-gagasan dari John Dewey, William I. Thomas,dan
Charles H. Cooley (Mulyana, 2001 : 68)
Berikut adalah
penjelasan lebih lanjut menurut para ahli
a. George Herbert Mead
(1863-1931)
Pengertian
berfikir Mead adalah suatu proses dimana individu berinteraksi dengan dirinya sendiri
dengan menggunakan simbol-simbol yang bermakna. Menurut Mead tertib masyarakat
akan tercipta apabila ada interaksi dan komunikasi melalui simbol-simbol. Dalam
buku Mind Set and Society, Mead memperkenalkan konsep diri dengan menyebut
bahwa diri dapat bersifat sebagai objek maupun subjek sekaligus menjadi objek
yaitu: Merupakan objek bagi dirinya sendiri, diri merupakan karakteristik
manusia yang membedakan manusia dengan hewan, menjadikan manusia mampu mencapai
kesadaran diri sehingga seseorang dapat mengambil sikap yang impersonal dan
objektif.
Mead mengklaim
bahwa bahasa memungkinkan kita untuk menjadi makhluk yang self-conscious yang
sadar akan individualitasnya dan unsur kunci dalam proses itu adalah simbol.
Inti pemikiran Mead dalam teori interaksionisme simbolik adalah bahwa manusia
memiliki dunianya sendiri dimana ia mampu menjadi subjek sekaligus objek bagi
dirinya sendiri. Sehingga ia mampu melakukan tindakan yang sesuai dengan
keinginannya sendiri. Tindakan dan alur berfikir Mead memandang tindakan
merupakan inti dari teorinya dengan memusatkan pada proses terjadinya tindakan
akibat rangsangan dan tanggapan. Bahasa mempunyai fungsi yang signifikan yaitu
menggerakkan tanggapan yang sama pada pihak rangsang dan respon.
b. Charles Horton Cooley (1864-1929)
Konsep penting
dalam bangunan teori Cooley adalah konsep cermin diri looking-glass self dan
kelompok primer, dimana dalam individu senantiasa terjadi suatu proses yang
ditandai dengan 3 tahap terpisah yaitu, persepsi, dalam tahap ini kita membayangkan
bagaimana orang melihat kita, interpretasi dan definisi, disini
kitamembayangkan bagaimana orang lain menilai penampilan kita, Respon,
berdasarkan persepsi dan interpretasi idividu tersebut menyusun respon terhadap
respon kita.
Kelompok primer
dianggap penting oleh Cooley sebab, kelompok ini memiliki pengaruh yang sangat
mendasar dan merupakan tempat pembentukan watak diri, kelompok ini
merupakan utama dalam hubungan anatr ias dengan masyarakat yang lebih luas, kelompok
memberikan kepada individu pengalaman tentang kesatuan iasl yang paling awal
dan paling lengkap dan juga dalam pengertian bahwa kelompok ini tidak mengalami
perubahan derajat yang sama seperti pada hubungan yang luas tetapi merupakan
sumber yang dari mana struktur iasl itu muncul.
c. Herbert Blummer
Individu dalam interaksionisme simbolik Blumer dapat dilihat dalam 3
premis yang diajukan:
·
Manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna yang ada
pada sesuatu itu pada mereka.
·
Makna tersebut berasal dari interaksi dengan orang lain.
·
Makna-makna tersebut disempurnakan pada saat proses interaksi
berlangsung.
Interaksionisme simbolik,
kata Blumer dalam interaksi aktor tidak semata-mata bereaksi terhadap tindakan
dari ornag lain tetapi mencoba menafsirka dan mendefinikan setiap tindakan
orang lain. Dalam melakukan interaksi secara langsung maupun tidak langsung
indivudu dijembatani oleh penggunaan simbol-simbol penafsiran yaitu bahasa.
Konsep Blumer dikenal dengan self-indication yaitu proses komunikasi yang
sedang berjalan dimana individu mengetahui sesuatu, menilainya, memberinya
makna dan memutuskan untuk bertindak berdasarkan makna itu.
Inti pemikiran Blumer
mengenai interaksionisme simbolik dapat disadur dari kajian Poloma 1984 sebagai
berikut:
·
Masyarakat terdiri dari manusia yang berinteraksi.
·
Interaksi terdiri dari kegiatan yang berhubungan dengan
kegiatan manusia lain. Interaksi non simbolis mencakup stimulus respon yang
sederhana. Interaksionisme simbolis mencakup penafsiran tindakan.
Media Power Point
|
PETA KONSEP KELAS XI KD 3.2
|
|
|
Komentar
Posting Komentar