RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN KELAS XI SEMESTER 1


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )


Nama Sekolah           : SMA Negeri Mojoagung
Mata Pelajaran          : Sosiologi
Kelas /Semester         : XI/1

Pertemuan ke            : 7

Materi                         : Pengertian Diferensiasi Sosial dan Ciri-Ciri Diferensiasi Sosial

Alokasi Waktu           : 2 x 45 menit


A.      Tujuan Pembelajaran
1.      Siswa mampu menjelaskan pengertian diferensiasi sosial
2.      Siswa mampu  menyebutkan ciri-ciri diferensiasi sosial
a.       Kognitif
1.      Siswa mampu menjelaskan pengertian diferensiasi sosial
2.      Siswa mampu menyebutkan ciri-ciri diferensiasi sosial
b.      Afektif
1.      Siswa mampu mendiskusikan pengertian diferensiasi sosial
2.      Siswa mampu mengidentifikasi ciri-ciri diferensiasi sosial
c.       Psikomotorik
1.      Siswa mampu menunjukkan pengertian diferensiasi sosial
2.      Siswa mampu menentukan ciri-ciri diferensiasi sosial

B.     Kompetensi Inti
KI 1 :
Menghayati dan mengamalkan  ajaran agama yang dianutnya.
KI 2 :
Menghyati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsive, dan pro-aktif dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI 3 :
Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, procedural, dan metakognitif berdasarkan ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,  kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI 4 :
Mengolah, menalar, dan menyaji ranah konkret terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

C.    Komptensi Dasar dan Indikator
Kompetensi Dasar
Indikator
3.3 Memahami arti penting prinsip kesetaraan untuk menyikapi perbedaan sosial demi terwujudnya kehidupan sosial yang damai dan demokratis

3.3.1 Siswa mampu mendifinisikan pengertian diferensiasi sosial
3.3.2 Siswa mampu menyebutkan ciri-ciri diferensiasi sosial



D.    Materi Pembelajaran
1.      Pengertian diferensiasi sosial
2.      Ciri-ciri diferensiasi sosial

E.     Pendekatan, Model dan Metode Pembelajaran
1.      Pendekatan                       : Scientific Learning
2.      Model Pembelajaran         : Discovery Learning
3.      Metode Pembelajaran       : Studi Literatur, diskusi, kerja kelompok dan penugasan

F.     Media, Alat/Bahan Pembelajaran
1.      Media        Pembelajaran               : Power point pengertian dan ciri-ciri diferensiasi
                                                        sosial
2.      Alat/bahan Pembelajaran              : Papan tulis, spidol, LCD, laptop dan lembar kerja   
                                                        siswa (work sheet) mengenai pengertian dan ciri
                                                        ciri diferensiasi sosial

G.    Sumber Pembelajaran
1.      Soekanto, soerjono. 2012. Pengantar Ilmu Sosiologi. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
2.      Subakti, A. Ramlan dkk. 2011. Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

H.    Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan
Deskripsi
Alokasi waktu
Pendahuluan
Pra Pembelajaran
(Orientasi, motivasi, apresepsi, acuan)
·          Guru memasuki ruang kelas
·          Guru mengkondisikan kelas agar suasana menjadi kondusif untuk berlangsungnya pembelajaran
·          Guru mengucapkan salam, menanyakan kabar siswa dan siapa yang tidak masuk
·          Guru memberikan orientasi pembelajaran yang ingin dicapai, termasuk aspek-aspek yang dinilai selama proses pembelajaran.
·          Guru memberikan motivasi tentang pentingnya mempelajari pengertian dan ciri-ciri diferensiasi sosial
·          Guru melakukan apersepsi dengan memberikan pertanyaan kepada peserta didik yang bersifat menuntun dan menggali mengenai “Pengertian dan ciri-ciri diferensiasi sosial” yang ada di dalam masyarakat mengenai ciri fisik, ciri sosial dan ciri budaya
10 menit




Kegiatan inti





·         Penyajian Fenomena
Guru menyajikan gambar mengenai pengertian dan ciri-ciri diferensiasi sosial menggunakan Microsoft Power Point yang ditayangkan di LCD

·         Mengamati
1.      Siswa mengamati gambar yang disajikan guru mengenai pengertian dan ciri-ciri diferensiasi sosial
2.      Siswa mengamati gambar yang disajikan guru mengenai pengertian dan ciri-ciri diferensiasi sosial
3.      Siswa diberi tugas untuk membaca serta mengidentifikasi sendiri pengertian dan ciri-ciri diferensiasi sosial dari berbagai sumber informasi atau referensi

·         Menanya
Setelah siswa mengamati gambar yang disajikan oleh guru, maka guru akan mengajukan beberapa pertanyakan kepada siswa :
1.      Apa yang kalian ketahui tentang gambar tersebut?
2.      Apa perbedaan antara satu gambar dengan gambar lainnya?
3.      Termasuk dalam pengertian dan ciri-ciri deferensiasi apakah masing-masing gambar tersebut ?
4.      Diantara gambar yang disajikan, adakah yang ada dan terjadi disekitar masyarakat kalian?
5.      Didalam pengertian dan ciri-ciri manakah kalian berada ?

·         Mengeksplorasi
Didalam mengeksplorasi siswa diminta untuk mengumpulkan informasi mengenai penegertian dan ciri-ciri diferensiasi sosial dengan cara :
1.        Guru membagi kelas ke dalam 6 kelompok dengan cara berhitung 1-6
2.        Guru mengarahkan siswa untuk memposisikan diri sesuai dengan kelompok masing-masing
3.        Guru memberikan lembar kerja siswa atau work sheet kepada masing-masing kelompok.
4.        Guru mengarahkan siswa yang telah memposisikan dirinya di masing-masing kelompok untuk berdiskusi dan mengumpulkan berbagai informasi yang relevan, membaca literature, mengamati objek, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya terkait dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah diajukan guru tadi.
5.        Setelah semua data terkumpul dan sudah lengkap, data diolah, dikasifikasikan, ditabulasi, dipilih, dan didiskusikan kembali dengan teman sekelompok.
6.        Didalam diskusi tersebut siswa diaarahkan oleh guru untuk sharing mengenai ciri-ciri diferensisasi yang ada dan terjadi di lingkungan masing-masing dan contoh-contoh yang dijumpai oleh siswa di kehidupan sehari-hari guna menemukan bukti konkrit atau nyata ciri-ciri diferensiasi sosial untuk membuktikan kebenaran data yang telah diperoleh dan diolah.
7.        Siswa menuliskan hasil tersebut kedalam work sheet yang telah diberikan oleh guru mengenai garis besar materi yang sudah dikumpulkan, diolah, didiskusikan dengan teman-teman kelompok.

·         Mengasosiasikan
1.      Guru memberikan waktu kepada siswa untuk memikirkan dan mencerna materi pengertian dan ciri-ciri diferensiasi sosial yang telah diperoleh siswa dari berbagai sumber yang telah dibaca, diskusi dengan teman-teman di kelompok, dan observasi di lingkungan sekitar masing-masing.

·         Mengomunikasikan
1.      Siswa menyajikannya hasil diskusi dan studi literature dan kajiannya ke dalam work sheet dalam bentuk tulisan tentang penegrtian dan ciri-ciri diferensiasi sosial
2.      Siswa mempresentasikan hasil temuan atau hasil kajiannya tentang pengertian dan ciri-ciri diferensiasi sosial beserta contoh yang ada disekitar lingkungannya serta yang pernah dijumpai oleh para siswa
70 menit
Penutup
·         Guru melakukan penilaian dan atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan.
·         Guru memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran.
·         Guru bersama-sama dengan peserta didik membuat rangkuman simpulan pelajaran.
·         Guru merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk tugas kelompok dan menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
·         Guru menutup pelajaran dengan mengucapkan salam.
10 menit
























Lampiran :

Materi :
Pengertian Diferensiasi Sosial dan Ciri-Ciri Diferensiasi Sosial
A.    Pengertian Diferensiasi Sosial
1.      Secara Umum
Perbedaan individu atau kelompok dalam masyarakat yang tidak menunjukkan adanya tingkatan. Kata diferensiasi sosial mula-mula berasal dari bahasa inggris, yaitu difference yang artinya adalah pembedaan dan merupakan karakteristik sosial yang membuat individu atau kelompok terpisah  dan berbeda satu sama lain.
2.      Menurut Para Ahli
a.       Menurut soerjono soekanto
Menurut Soerjono Soekanto diferensiasi sosial mengacu pada klasifikasi terhadap perbedaan yang biasanya sama, adanya perbedaan tidak mengakibatkan tinggi rendahnya posisi (status) seseorang , melainkan hanya menggambarkan keberagamaan corak pada suatu masyarakat tertentu. Atau variasi pekerjaan , prestise, dan kekuasaan kelompok dalam masyarakat, yang dikaitkan dengan interaksi atau akibat namun pada interaksi yang lain.
b.      Menurut Kartajaya (dalam Syafrizal, 2007:183) bahwa pengertian diferensiasi adalah semua upaya yang dilakukan untuk membedakan diri dari pesaing lain baik konten, konteks, dan infrastruktur
c.       Menurut Kotler (2009:328) bahwa pengertian diferensiasi adalah tindakan merancang serangkaian perbedaan yang berarti untuk membedakan tawaran perusahaan dengan tawaran pesaing
d.      Menurut Aaker (dalam Ferdinand, 2003) bahwa pengertian diferensiasi yang sukses haruslah strategi yang mampu :
1. menghasilkan nilai pelanggan
2. memunculkan persepsi yang bernilai khas
3. tampil sebagai wujud berbeda yang sulit untuk ditiru

B.     Ciri-Ciri Diferensiasi Sosial
Diferensiasi sosial ditandai dengan adanya perbedaan berdasarkan ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Ciri Fisik
Diferensiasi ini terjadi karena perbedaan ciri-ciri tertentu.
Misalnya : warna kulit, bentuk mata, rambut, hidung, muka, dsb.
b.      Ciri Sosial
Diferensiasi sosial ini muncul karena perbedaan pekerjaan yang menimbulkan cara pandang dan pola perilaku dalam masyarakat berbeda. Termasuk didalam kategori ini adalah perbedaan peranan, prestise dan kekuasaan.
Contohnya : pola perilaku seorang perawat akan berbeda dengan seorang karyawan kantor.
c.       Ciri Budaya
Diferensiasi budaya berhubungan erat dengan pandangan hidup suatu masyarakat menyangkut nilai-nilai yang dianutnya, seperti religi atau kepercayaan, sistem kekeluargaan, keuletan dan ketangguhan (etos).
Hasil dari nilai-nilai yang dianut suatu masyarakat dapat kita lihat dari bahasa, kesenian, arsitektur, pakaian adat, agama, dsb.




    

    


    
    




















RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )

Satuan Pendidikan      : SMA Negeri 4 Surakarta
Mata Pelajaran : Sosiologi
Kelas/Semester            : XI/1
Materi Pokok              : Partikuralisme dan Eksklusivisme Kelompok
Alokasi Waktu            : 2 x 45 menit

A.  Tujuan Pembelajaran
1.      Siswa mampu menjelaskan pengertian partikularisme kelompok
2.      Siswa mampu menjelaskan pengertian eksklusivisme kelompok
3.      Siswa mampu mengidentifikasi ciri-ciri partikularisme kelompok
4.      Siswa mampu mengidentifikasi ciri-ciri partikularisme kelompok

a.       Ranah Kognitif
1.      Siswa mampu menjelaskan pengertian partikularisme kelompok
2.      Siswa mampu menjelaskan pengertian eksklusivisme kelompok
3.      Siswa mampu mengidentifikasi ciri-ciri partikularisme kelompok
4.      Siswa mampu mengidentifikasi ciri-ciri partikularisme kelompok
b.      Ranah Afektif
1.      Siswa mampu mendiskusikan pengertian partikularisme kelompok
2.      Siswa mampu mendiskusikan pengertian eksklusivisme kelompok
c.       Ranah Psikomotorik
1.      Siswa mampu membedakan partikularisme dan eksklusivisme kelompok
2.      Siswa mampu menunjukkan ciri-ciri partikularisme kelompok
3.      Siswa mampu menunjukkan ciri-ciri eksklusivisme kelompok

B.  Kompetensi Inti
KI 1                        : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
KI 2                        : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab,
peduli
(gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif, dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
KI 3                        : Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,  kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
KI 4                        : Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak
terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan

Kompetensi Dasar
Indikator Pencapaian Kompetensi

3.1  Memahami pengelompokan sosial di masyarakat dari sudut pandang dan  pendekatan sosiologis

3.1.1        Siswa mampu menjelaskan pengertian partikularisme kelompok
3.1.2        Siswa mampu menjelaskan pengertian eksklusivisme kelompok
3.1.3        Siswa mampu mengidentifikasi ciri-ciri partikularisme kelompok
3.1.4        Siswa mampu mengidentifikasi ciri-ciri partikularisme kelompok



C.  Materi Pembelajaran
1.      Pengertian partikularisme kelompok
2.      Pengertian eksklusivisme kelompok
3.      Ciri-ciri partikularisme kelompok
4.      Ciri-ciri eksklusivisme kelompok

D.  Pendekatan, Model dan Metode Pembelajaran
Pendekatan                         :  Scientific Learning
Model Pembelajarn :  Discovery Learning
Metode Pembelajaran         :  Studi literatur, Diskusi Kelompok, Presentasi, Tanya Jawab

E.   Media dan alat
Media                               : Power point partikularisme dan eksklusivisme kelompok
Alat                                 : Laptop, LCD, Lembar Kerja Siswa

F.       Sumber Belajar  :
-          Soekanto, Soerjono. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
-          Indawatik, Rita, dkk. 2013. Eksklusifitas Siswa (Studi Fenomenologi Konstruksi Sosial Pola Eksklusifitas Siswa Pada Kelas Unggulan Di Sma Muhammadiyah 1 Sragen Tahun Ajaran 2011/2012). Jurnal Analisa Sosiologi. 2(1): 54.
-          Riska, dkk. 2007. Makalah. Dalam: Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan di Universitas Indraprasta PGRI Jakarta, Januari 2007.

G.      Langkah-Langkah Pembelajaran

Kegiatan
Deskripsi
Alokasi waktu



Pendahuluan
1.    Guru memberikan salam kepada peserta didik
2.    Guru mempersilakan berdoa bersama
3.    Guru menanyakan kabar siswa dan kehadiran siswa
4.    Guru menjelaskan mengenai KD dan tujuan dari proses pembelajaran
5.    Guru memberikan motivasi tentang pentingnya mempelajari partikularisme dan eksklusivisme kelompok
6.    Guru melakukan apersepsi dengan memberikan pertanyaan kepada peserta didik yang bersifat menuntun dan menggali mengenai partikularisme dan eksklusivisme kelompok





10 menit
















Kegiatan inti

·     Penyajian Gambar
Guru menyajikan beberapa gambar yang berkaitan dengan partikularisme dan eksklusivisme kelompok menggunakan Power Point yang ditayangkan di LCD.
·      Mengamati
Guru mengarahkan siswa untuk mengamati gambar mengenai partikularisme dan eksklusivisme kelompok yang ditayangkan di slide power point
·      Menanya
Setelah peserta didik mengamati gambar tersebut, selanjutnya guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada peserta didik, berupa :
-          Apa yang kalian ketahui tentang gambar-gambar tersebut ?
-          Apa perbedaan dari gambar-gambar tersebut ?
-          Apa saja ciri-ciri dari gambar tersebut ?
-          Apakah gambar-gambar tersebut pernah kalian temui dalam kehidupan sehari-hari ?
-          Menurut kalian mengapa itu terjadi ?
·      Mengeksplorasi
Guru meminta siswa untuk menggali atau mengumpulkan informasi mengenai pengertian dan ciri-ciri dari partikularisme dan eksklusivisme dengan cara :
-          Guru membagi kelas menjadi 5 kelompok, dengan bahasan materi yang berbeda, yaitu kelompok 1-3 membahas partikularisme dan kelompok 4-5 membahas eksklusivisme, dengan cara berhitung 1-5.
-          Guru mengarahkan siswa untuk memposisikan diri sesuai dengan kelompok masing-masing.
-          Guru memberikan lembar kerja siswa kepada masing-masing kelompok.
-          Guru mengarahkan siswa yang telah memposisikan dirinya di masing-masing kelompok untuk berdiskusi dan mengumpulkan berbagai informasi dengan membaca literatur atau internet terkait dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah diajukan oleh guru sebelumnya.
-          Di dalam diskusi tersebut, siswa juga diarahkan oleh guru untuk sharing mengenai partikularisme dan eksklusivisme kelompok yang pernah ditemuinya dalam kehidupan sehari-hari.
-          Kemudian siswa menuliskan hasil diskusi tersebut ke dalam lembar kerja yang telah diberikan oleh guru mengenai materi yang sudah dikumpulkan, diolah, dan didiskusikan dengan teman sekelompok.
·      Mengasosiasi
Guru memberikan waktu kepada siswa untuk memikirkan dan mencerna materi tentang pengertian dan ciri-ciri dari partikularisme dan eksklusivisme kelompok yang telah diperoleh siswa dari berbagai sumber yang telah dibaca dan didiskusikan.
·      Mengomunikasikan
-          Peserta didik menyajikan hasil diskusinya ke dalam lembar kerja dalam bentuk tulisan tentang pengertian dan ciri-ciri dari partikularisme dan eksklusivisme kelompok.
-          Peserta didik mempresentasikan hasil diskusinya tentang pengertian dan ciri-ciri dari partikularisme dan eksklusivisme kelompok serta contoh yang pernah ditemui para siswa.
-          Kemudian guru memberikan kesempatan kepada siswa yang lain untuk bertanya kepada kelompok yang maju terkait materi yang sudah dipresentasikan.
















70 menit
Penutup
1.        Guru melakukan penilaian terhadap kegiatan yang sudah dilakukan.
2.        Guru menunjuk beberapa siswa untuk menyimpulkan materi tentang pengertian dan ciri-ciri dari partikularisme dan eksklusivisme kelompok.
3.        Kemudian guru memberikan kesimpulan terkait materi yang sudah dibahas kepada siswa dan menanyakan kepada siswa apa manfaat yang diperoleh setelah belajar tentang materi tersebut.
4.        Guru menutup pembelajaran dengan salam.

10 menit









H.  Lampiran


Materi Pembelajaran

A.  Partikularisme Kelompok
1.      Pengertian Partikularisme Kelompok
Partikularisme adalah sistem yang mengutamakan kepentingan pribadi diatas kepentingan umum atau aliran politik, ekonomi, kebudayaan yang membandingkan daerah atau kelompok sekunder khusus. Dalam masyarakat partikularisme ini sering terjadi pada mereka yang hanya dapat memikirkan dirinya sendiri saja tanpa mempedulikan sekitarnya. Partikularisme kelompok dapat menyebabkan munculnya sikap egois dan cenderung tertutup dengan kebudayaan yang lain. Selain itu, juga dapat menimbulkan sikap primordialisme dan etnosentrisme. Partikularisme memiliki kemungkinan menjadi sumber konflik karena cenderung mementingkan pribadi atau kelompok sendiri dari pada kepentingan umum atau publik. Partikularisime juga dapat menghambat integrasi sosial dan nasional.
Menurut Craig Stortie, partikularisme berkaitan dengan bagaimana seseorang berperilaku dalam situasi tertentu. Orang tersebut akan memperlakukan keluarga, teman, dan in-group nya sebaik yang dia bisa, dan membiarkan orang lain mengurus dirinya sendiri.

2.      Ciri-Ciri Partikularisme Kelompok
-          Individualis, mementingkan kepentingan pribadi daripada umum
-          Heterogen, bersifat dan berpandangan yang berbeda/ macam-macam
-          Mobilitas tinggi, memiliki dan menghadapi perubahan yang cepat
-          Berorientasi pada rasionalitas dan fungsi, mengedepankan logika dan teknologi

Contohnya dalam kehidupan sehari-hari adalah seorang pemimpin di suatu perusahaan kontruksi yang hanya memperkerjakan buruh yang berasal dari kampungnya sendiri. Contoh lain, Bangsa Israel yang tidak mau melaksanakan pernikahan dengan suku bangsa lain, dan seseorang yang selalu ingin dianggap paling baik dan benar, dan sebagainya.

B.  Eksklusivisme Kelompok
1.      Pengertian Eksklusivisme Kelompok
Eksklusivisme berarti paham yang mempunyai kecenderungan untuk memisahkan diri dari masyarakat. Eksklusivisme ini berkaitan erat dengan partikularisme, sebab mengutamakan kepentingan pribadi kemudian membuat kelompok tersebut mempunyai kecenderungan memisahkan diri dengan sikap khusus yang disepakati dalam kelompok.
Eksklusivisme dapat memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positif eksklusivisme, yaitu masyarakat dapat tetap mempertahankan kebudayaan kelompoknya karena menganggap kelompoknya yang paling baik dan wajib dipertahankan, mampu membedakan dirinya dengan orang lain, serta tidak mudah terbawa oleh kelompok lain, sedangkan dampak negatif yang ditimbulkan dari eksklusivisme, yaitu membuat seseorang menganggap kepentingan kelompok sendiri menjadi satu-satunya hal yang penting, tertutup pada pengaruh budaya lain sehingga sangat sulit melakukan berbagai perubahan yang bersifat progresif, dan dapat memecah belah persatuan.

2.      Ciri-Ciri Eksklusivisme Kelompok
-          Mengutamakan kepentingan pribadi.
-          Memiliki kecenderungan untuk memisahkan diri dengan sikap khusus yang disepakati dalam kelompok.

Contohnya, suatu budaya terpencil memisahkan diri dari masyarakat karena mereka tidak mau budaya mereka terpengaruh dengan budaya yang sedang berkembang sehingga mereka lebih memilih untuk memisahkan diri dari masyarakat agar budaya mereka yang mereka percayai tidak berubah atau tidak terpengaruh dengan budaya yang baru karena mereka sudah menganggap peraturan dari budaya mereka sudah baik dan harus dilaksanakan, seperti masyarakat Badui, masyarakat Suku Naga, masyarakat Metawai, masyarakat Madura, dan masyarakat Bugis. Contoh lain masyarakat yang menganut konsep eksklusif dan biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari dimana terdapat satu kelompok yang terdiri dari orang-orang yang hanya mau berteman dengan orang yang dianggap kaya, keren, atau orang yang memiliki status sosial yang tinggi.
Implementasi konsep partikularisme dan eksklusivisme dalam kelompok sosial dapat dilihat dari bagaimana kelompok tersebut diidentifikasi menurut karakteristik kelompok, misalnya penerapan nilai dan norma dalam kelompok tersebut. Partikular dan eksklusif dapat dilihat dari cakupan yang lebih luas, artinya melihat kelompok sosial secara global. Konsep ini sering dikaitkan dengan bahasan universalisme dan globalisasi. Melihat konsep globalisasi, sering kelompok sosial dengan konsep partikular ini diidentikkan dengan masyarakat tradisional yang masih kuat mempertahankan nilai dan norma yang dipercayai oleh kelompok tersebut. Di Indonesia, ada banyak etnis yang ini sesuai dengan konsep partikular dan eksklusif ini.







Media Pembelajaran ( Power Point )
 

 
 
 
 
 




Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran

Sekolah                                   : SMA Negeri 58 Jakarta
Mata Pelajaran            : Sosiologi
Kelas/Semester                        : XI/1
Materi Pokok                          : Kelompok Sosial Tidak Teratur
Waktu                                     : 2 x 45 Menit

A.    Tujuan Pembelajaran
Melalui proses mencari informasi, menanya, mengasosiasi, mengomunikasikan dan berdiskusi peserta didik dapat:
a.       Afektif
1.      Menunjukan jenis-jenis kelompok social tidak teratur yang ada di lingkungan sekitarnya.
a.       Kognitif
1.      Menjelaskan pengertian jenis-jenis kelompok social tidak teratur (massa, public, geng, dan klik).
2.      Menguraikan ciri-ciri dari jenis kelompok social tidak teratur (massa, public, geng, dan klik).
3.      Mengklasifikasikan contoh dari jenis kelompok social tidak teratur (massa, public, geng, dan klik).
b.      Psikomotorik
1.      Membedakan konsep dari jenis-jenis kelompok social tidak teratur.

B.     Kompetensi Inti (KI)
KI 1 :
Menghayati dan mengamalkan  ajaran agama yang dianutnya.
KI 2 :
Menghyati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong  royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsive, dan pro-aktif dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI 3 :
Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, procedural, dan metakognitif berdasarkan ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,  kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI 4 :
Mengolah, menalar, dan menyaji ranah konkret terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

C.    Kompetensi Dasar (KD) dan Indikator

Kompetensi Dasar
Indikator Pencapaian Kompetensi
3.1 Memahami pengelompokan social di masyarakat dari sudut pandag dan pendekatan Sosiologis.
3.1.1 Menjelaskan pengertian jenis-jenis kelompok social tidak teratur (massa, public, geng, dan klik).

3.1.2 Menguraikan ciri-ciri dari jenis kelompok social tidak teratur (massa, public, geng, dan klik).

3.1.3 Mengklasifikasikan contoh dari jenis kelompok social tidak teratur (massa, public, geng, dan klik).

4.1 Menalar tentang terjadinya pengelompokan social di masyarakat dari sudut pandang dan pendekatan Sosiologis.
4.1.1 Menunjukan jenis-jenis kelompok social tidak teratur yang ada di lingkungan sekitarnya.

4.1.2 Membedakan konsep dari jenis-jenis kelompok social tidak teratur.


D.    Materi Pembelajaran
1.      Pengertian jenis kelompok social tidak teratur (massa, public, geng, dan klik).
2.      Ciri-ciri jenis kelompok social tidak teratur (massa, public, geng, dan klik).
3.      Contoh dari jenis kelompok social tidak teratur (massa, public, geng, dan klik).

E.     Metode pembelajaran
1.      Pendekatan           :  Scientific
2.      Model                    :  NHT (Numbered Head Together)
3.      Metode                  :  Ceramah, studi literatur, diskusi, dan penugasan.

F.     Media pembelajaran
1.      Media                    : Power point, gambar kelompok social tidak teratur (massa, public, geng, dan klik).
2.      Alat                       :  Laptop, LCD, proyektor, papan tulis, spidol, speaker, kertas nomor; nomor 1 (pengertian) sebanyak 8 buah; nomor 2 (ciri-ciri) sebanyak 12

G.    Sumber pembelajaran
4.      Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajagrafindo Persada
H.    Langkah-langkah kegiatan pembelajaran

Kegiatan
Deskripsi
Alokasi
Waktu
 Pendahuluan
Pra-pembelajaran
1.      Guru mengkondisikan kelas dalam suasana kondusif untuk keberlangsungan proses pembelajaran.
2.      Guru memberikan orientasi pembelajaran yang ingin dicapai, termasuk aspek-aspek yang dinilai selama proses pembelajaran.
3.      Guru memberikan motivasi tentang pentingnya mempelajari kelompok-kelompok sosial tidak teratur dalam masyarakat.
4.      Guru melakukan pembentukan kelompok siswa yang disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Number Head Together).
5.      Selanjutnya, guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok sejumlah 8 kelompok yang beranggotakan 3 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok da nama kelompok yang berbeda.

10 menit
Inti
1.      Penyajian Fenomena
·         Guru menyajikan fenomena kelompok-kelompok social tidak teratur melalui gambar kehidupan social yang ditampilkan melalui LCD, kemudian guru meminta siswa mengasumsikan apa maksud atau arti dari gambar yang ditampilkan
·         Selanjutnya guru membagikan materi kepada masing-masing kelompok.

2.      Mengamati
·         Peserta didik ditugasi untuk mempelajari kelompok-kelompok sosial tidak teratur yang ada di masyarakat sesuai dengan pembagian materi kelompok yang telah dibagikan sebelumnya.
·         Peserta didik diberi tugas untuk membaca pengertian kelompok sosial dari berbagai sumber informasi atau referensi  yang telah ditugaskan untuk membaca dan membawa bacaan dari rumah.

3.      Menanya
Melalui kegiatan diskusi dalam pembelajaran, siswa diberi motivasi untuk mengemukakan ide/pemikiran yang kritis dengan bahasa sendiri yang disampaikan secara logis dan sistematis dapat menjawab pertanyaan tentang:
·         Apa pengertian dari masing-masing jenis kelompok social tidak teratur?
·         Apa saja ciri-ciri dari tiap jenis kelompok social tidak teratur?
·         Apa saja contoh nyata fenomena yang terjadi di masyarakat terkait jenis-jenis kelompok social tidak teratur?

4.      Mengeksplorasi
·         Membedakan kelompok-kelompok social tidak teratur berdasarkan: (1) ciri dan karakteristik jenis-jenis kelompok social tidak teratur, dan (2) model dan bentuk dari kelompok-kelompok social tidak teratur.
·         Mengeksplorasi latar belakang terbentuknya kelompok-kelompok social tidak teratur
·         Mendeskripsikan contoh dari masing-masing jenis kelompok social tidak teratur

5.      Mengasosiasikan
·         Mengasosiasikan konsep dan tujuan terbentuknya kelompok social tidak teratur di dalam masyarakat
·         Mengklasifikasikan kelompok-kelompok sosial tidak teratur menjadi kelompok social yang membawa dampak positif ataupun negative

6.      Mengomunikasikan
·      Perwakilan peserta didik dari tiap kelompok mempresentasikan dan menyajikannya dalam berbagai bentuk, baik dengan tulisan maupun lisan tentang ciri-ciri dari jenis-jenis kelompok social tidak teratur.
·      Perwakilan peserta didik dari tiap kelompok mempresentasikan hasil temuan atau hasil kajian dan diskusinya tentang contoh fenomena social yang menggambarkan jenis-jenis kelompok social tidak teratur.

2 x 35 menit
Penutup
1.      Guru bersama-sama dengan peserta didik membuat rangkuman kesimpulan pelajaran.
2.      Guru melakukan penilaian dan atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan.
3.      Guru memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran.
4.      Guru merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk tugas kelompok dan menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
5.      Guru menutup pelajaran dengan mengucapkan salam.
10 menit

I.       Lampiran
1.      Peta konsep

2.      Materi

KD 3.1 Memahami Pengetahuan Dasar Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan yang Berfungsi Mengkaji Gejala Sosial di Masyarakat.

Kelompok Sosial Tidak Teratur (Massa, Publik, Geng, dan Klik)
MASSA
1.      Pengertian
Massa adalah sekumpulan orang yang dibentuk secara terencana dan mempunyai keinginan yang sama di setiap anggotanya. Meskipun begitu, kehadirannya yang sementara tetap menjadi ciri khas dari massa. Gustave Le Bon dalam Gerungan (1900) menyatakan bahwa massa merupakan suatu kumpulan orang banyak yang berkumpul dan melakukan suatu hubungan untuk sementara waktu, dimana hubungan tersebut dilakukan karena mempunyai hobi dan kepentingan yang sifatnya sementara.
Mennicke (1948) membagi massa menjadi dua, yaitu massa abstrak dan massa konkret. Massa abstrak merupakan sekumpulan orang yang berkumpul karena mempunyai sejumlah persamaan, entah itu persamaan minat, kepentingan, atau pun tujuan. Massa abstrak ini tidak mempunyai struktur yang jelas dan juga tidak terorganisir dengan baik. Massa abstrak ini bisa tiba-tiba menghilang tanpa bekas. Sementara itu, massa konkret merupakan yang terbentuk karena adanya persamaan batin antar anggotanya, mempunyai persamaan yang dianut, serta adanya struktur yang jelas. Bentuk massa ini berbeda dari ciri-ciri massa pada umumnya. Massa konkret sewaktu-waktu bisa menjadi massa abstrak, begitu pun juga sebaliknya.
Sementara itu, Park dan Burgess (dalam Lindsey, 1959) membagi massa menjadi massa aktif dan massa pasif. Massa aktif adalah kumpulan massa yang bertindak aktif di lingkungan masyarakat. Tawuran, demonstran, dan sebagainya merupakan contoh tindakan dalam massa jenis ini. Massa aktif akan terbentuk bila faktor perasaan tidak puas dan tekanan yang dirasakan pada jiwa manusia mulai dialami oleh anggota kelompok massa. Kelompok pasif adalah kelompok yang belum melakukan tindakan atau hanya menjadi penonton perbuatan massa aktif.

2.      Ciri-ciri
·         Impulsif, memberikan respon secara cepat atau spontan terhadap stimulus yang dikenakan kepada mereka.
·         Mudah tersinggung, gerak gerik massa sering kali tersulut oleh ucapan atau perbuatan yang menyinggung perasaannya. Perasaan mudah tersinggung itu membuat massa melakukan suatu tindakan yang terkadang sedikit irasional.
·         Sugestibel, mudah tersugesti oleh stimulus apapun, khususnya ucapan.
·         Irasional, muara dari tiga sifat di atas adalah irasionalitas anggota massa yang tercermin dari tindakan yang dilakukannya.
·         Adanya social facilitation (F. Allport), adanya rangsangan berupa tindakan dari seseorang, entah dari sesama anggota massa maupun di luar anggota massa.

3.      Contoh
·         Massa aksi demonstrasi
·         Penonton pertandingan sepakbola
·         Aksi damai
·         Aksi solidaritas
PUBLIK
1.      Pengertian
Public merupakan kelompok yang tidak merupakan kesatuan. Interaksi yang terjadi secara tidak langsung melalui alat-alat komunikasi seperti misalnya pembicaraan pribadi yang berantai, desas desus, surat kabar, radio, televisi, film, dsb. Alat penhubung memungkinkan suatu publik punya pengikut yang lebih luas. Akan tetapi, karena jumlahnya yang sangat besar taka da pusat perhatian yang tajam sehingga tidak ada kesatuan. Untuk memudahkan mengumpulkan public tersebut, digunakan cara-cara dengan menggandengkan nilai-nilai social atau tradisi masyarakat bersangkutan, atau dengan menyiarkan pemberitaan-pemberitaan, baik yang benar ataupun yang palsu sifatnya.

2.      Ciri-ciri
·         Diprakarsai oleh keinginan individu
·         Individu punya kesadaran akan kedudukan social
·         Lebih mementingkan kepentingan pribadi
·         Kemungkinan tidak terbentuk di tempat yang sama.
·         Terbentuk karena adanya perhatian yang sama.
·         Tidak adanya interaksi secara terus menerus.
·         Tidak adanya kesadaran kelompok.
·         Kehadirannya hanya untuk sementara.

3.      Contoh
·         Pemungutan suara dalam pemilihan umum
·         Konser
·         Seminar
·         Kampanye
·         Diskusi public
KLIK
1.      Pengertian
Clique yang dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai klik, merupakan kelompok kecil orang tanpa struktur formal yang mempunyai pandangan atau kepentingan bersama (Dependnas, 2001: 575). Namun istilah clique kurang populer di kalangan masyarakat Indonesia yang lebih familiar dengan istilah geng, sehingga tidak terdapat batas perbedaan yang jelas antara geng dan clique.
Clique sendiri adalah sebuah grup sosial kecil yang biasanya terdiri dari dua sampai dua belas orang (rerata enam orang). Mereka terbentuk karena kesamaan karakteristik antar anggota-anggotanya, termasuk usia, jenis kelamin, ras, status sosial, serta saling berbagi ketertarikan dan aktivitas (Davis dalam Salkind, 2008: 149).
Soerjono Soekamto, menurutnya, peranan positif klik yang akan dialami terhadap remaja salah satunya adanya rasa aman dianggap penting dari keanggotaan suatu klik tertentu, dan penting bagi perkembangan jiwa yang sehat. Oleh karena itulah Soerjono menambahkan bahwa seorang remaja dapat menyalurkan rasa kecewanya, rasa takut, rasa khawatir, rasa gembira, dan lain sebagainya, dengan mendapatkan tanggapan yang wajar dari rekan-rekannya seklik.

2.      Ciri-ciri
·         Adanya pertemuan timbal balik antar anggota
·         Bersifat egalitas
·         Ada kepentingan atau kesamaan pengalaman

3.      Contoh
·         Kelompok belajar les
·         Kelompok remaja masjid
·         Kelompok karan taruna
·         Kelompok sahabat/teman dekat
GENG
1.      Pengertian
Istilah geng di Indonesia dipakai untuk hampir seluruh bentuk hubungan kelompok atau grup sosial remaja dengan teman sebayanya. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, geng didefinisikan sebagai kelompok remaja yang terkenal karena kesamaan latar belakang sosial, sekolah, daerah, dan sebagainya; geng juga dapat berarti gerombolan (Dependnas, 2001: 353).
Berdasarkan definisi tersebut istilah geng identik dengan remaja, dan saat ini kata geng sendiri mengalami perubahan denotasi sehingga sering dikaitkan dengan perilaku negatif seperti tindak kekerasan, pelecehan dan lain sebagainya, baik terhadap anggota geng lain atau orang-orang yang berada di luar dari geng tersebut
Menurut Mappiare 1982: 160 geng merupakan kelompok yang terbentuk dengan sendirinya yang pada umumnya merupakan akibat pelarian dari empat jenis kelompok lainnya seperti chums sahabat karib, cliques komplotan sahabat, crowds kelompok banyak remaja dan kelompok yang diorganisir.
Menurut Hurlock 2002: 215 kelompok geng diartikan bahwa remaja yang tidak termasuk klik atau kelompok besar dan tidak merasa puas dengan kelompok yang terorganisasi mungkin mengikuti kelompok geng. Anggota geng yang biasanya terdiri dari anak-anak sejenis dan minat utama mereka adalah untuk menghadapi penolakan teman-teman melalui perilaku antisosial.
Menurut Chaplin 2004: 204 geng merupakan unit sosial yang terdiri atas individu-individu yang diikat oleh minat atau suatu kepentingan yang sama. Geng dapat tersusun atas orang-orang dari sembarang usia, namun sangat umum terdapat di kalangan anak-anak atau pelajar tetapi tidak selalu begitu, geng bersifat antisosial dalam pandangan dan kegiatannya.
Dari pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa geng yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kumpulan atau kelompok yang terdiri dari beberapa anggota yang diikat oleh minat atau kepentingan yang sama.

2.      Ciri-ciri
·         Umumnya berkonotasi negative
·         Anti social
·         Punya kesamaan minat dan kepentingan

3.      Contoh
·         Geng motor
·         Gerombolan remaja
Sumber referensi:
Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajagrafindo Persada

3.      Media












































RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Sekolah                       :          SMA Negeri 5 Surakarta
Mata Pelajaran :          Sosiologi
Kelas/Semester            :           XI/1
Materi Pokok              :           Teori tentang Masalah Sosial
Alokasi Waktu            :          2 x 45 menit

A.    Tujuan Pembelajaran
1.      Siswa mampu menyebutkan teori masalah sosial
2.      Siswa mampu menjelaskan pengertian teori fungsional structural
3.      Siswa mampu menjelaskan pengertian teori konflik
4.      Siswa mampu menjelaskan pengertian teori interaksionisme simbolik

a.       Ranah Kognitif
1.      Siswa mampu menyebutkan teori masalah sosial
2.      Siswa mampu menjelaskan pengertian teori fungsional structural
3.      Siswa mampu menjelaskan pengertian teori konflik
4.      Siswa mampu menjelaskan pengertian teori interaksionisme simbolik
b.      Ranah Afektif
1.      Siswa mampu menunjukkan teori masalah sosial
2.      Siswa mampu mendiskusikan pengertian teori fungsional structural
3.      Siswa mampu mendiskusikan pengertian teori konflik
4.      Siswa mampu mendiskusikan pengertian teori interaksionisme simbolik
c.       Ranah Psikomotorik
1.      Siswa mampu menunjukkan teori masalah sosial
2.      Siswa mampu mendiskusikan pengertian teori fungsional structural
3.      Siswa mampu mendiskusikan pengertian teori konflik
4.      Siswa mampu mendiskusikan pengertian teori interaksionisme simbolik

B.     Kompetensi Inti
K1 1    :  Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang di anutnya
K1 2  : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotog royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsive, dan pro aktif sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
K1 3 : Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual,procedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, tegnologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerakan pengetahuan prosedural, pada bidang kajianserta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
K1 4 : Mengolah,menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara afektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
Kompetensi Dasar
Indikator Pencapaian Kompetensi
3.2 Memahami Permasalahan Sosial dalam Kaitannya dengan Pengelompokan Sosial dan Kecenderungan  Eksklusi Sosial di Masyarakat dari Sudut Pandang dan Pendekatan Sosiologis

3.2.1 Siswa dapat menyebutkan teori masalah sosial
3.2.2 Siswa dapat menjelaskan pengertian teori fungsional structural
3.2.3 Siswa dapat menjelaskan pengertian teori konflik
3.2.4 Siswa dapat menjelaskan pengertian teori interaksionisme simbolik


C.     Materi Pembelajaran
1.      Pengertian teori fungsional structural
2.      Fungsi-fungsi pokok fungsionali struktural menurut Setephen K.Sanderson
3.      Tokoh-Tokoh Teori Fungsional Struktural
4.      Dua pandangan teori Fungsional Struktural
5.      Pengertian Teori Konflik
6.      Wewenang, posisi, dan kekuasaan
7.      Pengertian Teori Interaksionisme Simbolik
8.      Pandangan teori interaksionisme simbolik oleh para ahli
D.    Pendekatan, Model, dan Metode Pembelajaran
Pendekatan     : Scientific learning
Model              : Discovery learning
Metode            : Diskusi, presentasi, tanya jawab, ceramah
E.     Media, dan Alat/bahan
Media              : Power point
Alat/bahan       : Laptop, lcd
F.      Sumber Pembelajaran
Raho, Bernard, 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Grathoff, Richard, 2000. Kesesuaianantara Alfred Schutz dan Talcott Parsons:Teori Aksi Sosial. Jakarta: Kencana.
Marzali, Amri. 2006. Struktural-Fungsionalisme. Antropologi Indonesia Vol. 30, No. 2.
Tumengkol, Selvie M. 2012. Teori Sosiologi Suatu Perspektif Tentang Teori Konflik Dalam Masyarakat Industri. Hal, 1-7. Pada tanggal 24 Maret 2019.
Ahmadi, Dadi. 2008. Interaksi Simbolik: Suatu Pengantar. Mediator Vol. 9, No.2.
G.    Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan
Deskripsi
Alokasi Waktu
Pendahuluan
1.      Guru memberi salam, dan mengajak siswa berdoa
2.      Bernyanyi Indonesia Raya
3.      Guru menanyakan kabar dan mengecek kehadiran siswa
4.      Guru menanyakan apakah siswa sudah siap untuk memulai pembelajaran
5.      Guru menjelaskan KD Tujuan dari pembelajaran
10 Menit
Keiatan Inti
·         Mengamati
Guru mengarahkan siswa untuk mengamati tiga gambar yang berkaitan dengan teori strukturan fungsionl, konflik, dan interaksionisme simbolik, yang ada di slide power point.
·         Menanya
-          Setelah selesai mengamati, guru menanyakan kepada siswa tentang maksud dari gambar yang ditampilkan dengan pertanyaan sebagai berikut:
a.       Apa yang kalian ketahui tentng gambar pertama, kedua, dan ketiga?
b.      Apa yang terjadi apabila pada gambar pertama, salah satu bagian tidak melaksanakan fungsinya dengan baik?
c.       Mengapa kejadian seperti gambar nomer dua bisa terjadi?
d.      Perhatikan bendera yang dibawa oleh perempuan pada gambar nomer tiga? Apakah kalian tahu maksud bendera tersebut?
-          Siswa diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan-pertayaan tersebut di atas.

·         Mengumpulkan
-          Setelah guru memberikan pertanyaan kepada siswa dan siswa menjawab pertanyaan tersebut, guru membagi siswa kedalam 3 kelompok dengan cara berhitung 1-4, lalu siswa dipersilahkan untuk berkumpul dengan kelompoknya masing-masing.
-          Setelah semua siswa berkumpul dengan kelmoknya, guru meminta masing-masing kelompok untuk mencari,
a.        Kelompok 1 = pengertian teori fungsional struktural, dan contoh nyata yang ada di masyarakat.
b.      Kelompok 2 = pengertian teori konflik, dan contoh nyata yang ada di masyarakat.
c.       Kelompok 3 = pengertian teori interaksionisme simbolik, dan contoh nyata yang ada di masyarakat.
Siswa boleh mencari di buku maupun e-jurnal. Siswa diberi waktu selama tiga piluh menit.
·         Mengasosiasi
Setelah masing-masing kelompok selesai mencari materi untuk tugas masing-masing melalui buku ataupun e-jurnal, guru meminta meminta masing-masing kelompok memikirkan kesimpulan dari hasil diskusinya sebelum dipresentasikan di depan kelas.
·         Mengomunikasikan
-          Guru meminta setiap kelompok, dimulai dari kelompok satu, menyampaikan hasil diskusi kelompok masing-masing, kelompok satu mengenai pengertian teori fungsional struktural, dan contoh nyata yang ada di masyarakat, kelompok dua mengenai pengertian teori konflik, dan contoh nyata yang ada di masyarakat, dan kelompok tiga megenai pengertian teori interaksionisme simbolik, dan contoh nyata yang ada di masyarakat.
-          Setelah selesai mengkomunikasikan hasil diskusinya, setiap kelompok akan membuka sesi tanya jawab. Bagi anak yang bertanya ataupun menambahi akan diberi nilai tambahan oleh guru.
65 menit
Penutup
·         Setelah semua kelompok selesai mengkomunikasikan hasil diskusinya, guru memberi kesempatan kepada satu yang ingin menyampaikan kesimpulan tentang teori fungsionalisme structural, konflik, dan interaksionisme simbolik, apabila tidak ada yang sukarela mengajukan diri, maka guru akan menunjuk salah satu siswa secara random untuk menyamoaikan kesimpulan.
·         Setelah salah satu siswa memberi kesimpulan, barulah kemudian guru memberi kesimpulan terkait materi yang sudah dibahas dan menunjukkan slide power point tentang teori struktural fungsional, konflik, dan interaksionisme simbolik, lalu menanyakan kepada siswa tentang apa manfaat yang diperoleh setelah belajar materi hari ini.
·         Guru menutup pembelajaran dengan salam.
15    menit






H.    Lampiran

Peta Konsep
Memahami Permasalahan Sosial dalam Kaitannya dengan Pengelompokan Sosial dan Kecenderungan Eksklusi Sosial di Masyarakat danSudut Pandang dan Pendekatan Sosiologis
Berbagai jenis permasalahan sosial di ranah publik
Dampak permasalahan sosial terhadap kehidupan
Permasalahan sosial di masyarakat
Partikularisme kelompok dan dilema pembentukan
Pemecahan masalah sosial untuk mencapai kehidupan
Teori tentang masalah sosial



Materi Pembelajaran
Teori tentang Masalah Sosial
Masalah sosial merupakan situasi yang dinyatakan sebagai keadaan yang bertentangan dengan nilai-nilai oleh warga masyarakat yang cukup penting, dimana masyarakat sepakat melakukan suatu tindakan guna mengubah situasi tersebut
1.      Teori Fungsional-Struktural
Menurut Bernard Raho (2007), teori fungsional struktural dicetuskan oleh Talcott Parson. Asumsi dasar dari Teori Fungsionalisme Struktural, salah satu paham atau prespektif di dalam sosiologi yang memandang masyarakat sebagai satu sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan satu sama lain dan bagian yang satu tidak dapat berfungsi tanpaadanya hubungan dengan bagian yang lainya. Kemudian perubahan yang terjadi pada satu bagian akan menyebabkan ketidakseimbangan dan pada giliranya akan menciptakan perubahan pada bagian lainya.
Menurut Richard Grathoff (2000), masyarakat terintegrasi atas dasar kesepakatan dari para anggotanya akan nilai-nilai kemasyarakatan tertentu yang mempunyai kemampuan mengatasi perbedaan-perbedaan sehingga masyarakat tersebut dipandang sebagai suatu sistem yang secara fungsional terintegrasi dalam suatu keseimbangan. Dengan demikian masyarakat adalah merupakan kumpulan sistem-sistem sosial yang satu sama lain berhubungan dan saling ketergantungan
Dalam teori fungsionalisme struktural, masyarakat sering dibandingkan dengan suatu organisme raksasa yang terdiri dari banyak struktur, semuanya berfungsi secara bersama-sama untuk memelihara keseluruhan sistem. Menurut Setephen K.Sanderson (1993), fungsi-fungsi pokok fungsionalisme struktural ,antara lain :
a.       Masyarakat merupakan system yang kompleks yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan dan tergantung.
b.      Setiap bagian dari sebuah masyarakat eksis karena masyarakat tersebut memiliki fungsi penting dalam memelihara eksistensi dan stabilitas masyarakat secara keseluruhan.
c.       Semua masyarakat memiliki mekanisme untuk mengintegrasikan dirinya, yaitu mekanisme yang dapat merekatkannya menjadi satu.
d.      Masyarakat cenderung mengarah pada satu keadaan equilibrium atau hemeostatis.
e.       Perubahan sosial merupakan kejadian yang tidak biasa dalam masyarakat, tetapi bila itu terjadi juga maka perubahan itu pada umumnya akan membawa konsekuensi-konsekuensi pada masyarakat secara keseluruhan.
Tokoh-Tokoh Teori Fungsional Struktural
a.       Herbert Spencer
Adalah ahli sosiologi Inggris pada pertengahan abad ke-19 yang membahastentang fungsional struktural dengan menganalogikan struktur biologi denganstruktur sosial. Pembahasan spencer tentang masyrakat sebagai suatu organismehidup terdapat dalam butir-butir ini (Margaret M. Poloma 2007: 24) :
a)      Masyarakat maupun organisme hidup sama-sama mengalamipertumbuhan
b)      Strukur tubuh-sosial (social body) maupun organisme hidup (living body) juga mengalami pertumbuhan, dimana semakin besar suatu struktur sosialmaka semakin banyak pula bagian-bagiannya seperti halnya dengansistem biologis yang menjadi semakin kompleks sementara ia tumbuh menjadi semakin besar
c)      Setiap bagian yang tumbuh di dalam tubuh organisme biologis maupun organisme sosial memiliki fungsi dan tujuan tertentu. Misalnya padamanusia struktur biologis seperti struktur dan fungsi paru-paru berbedadengan struktur dan fungsi keluarga sebagai struktur institusionalmemiliki tujuan yang berbeda dengan sistem politik atau ekonomi
d)     Di dalam sistem organisme maupun sistem sosial,perubahan pada suatubagian akan mengakibatkan perubahan pada bagian lain dan padaakhirnya di dalam sistem secara keseluruhan. Misalnya perubahan sistempolitik dari suatu pemerintah demokratis ke suatu pemerintahantotaliterakan mempengaruhi keluarga,pendidikan, agama dan sebagainya. Bagian-bagian itus aling berkaitan satu sama lain
e)      Bagian-bagian yang saling berkaitan tersebut merupakan suatu struktur-mikro yang dapat dipelajari secara terpisah.
b.      Emile Durkheim

Emile Dukheim adalah seorang sosiolog prancis, durkheim melihat masyrakat modern sebagai keseluruhan organis yang memiliki realitas tersendiri, dimana setiap perangkat tersebut memiliki seperangakat kebutuhan atau fungsi-fungsi tertentu yang harus dipenuhi oleh bagian-bagian yang menjadi anggotanya agar dalam keadaan normal, tetap langgeng (Margaret M. Poloma 2007: 25).

c.       Radcliffe Brown
Fungsionalisme Brown ini merupakan perkembangan dari teori Fungsional Durkheim. Menrut Radcliffe Brown (1976: 505), fungsi dari setiap kegiatan selalu berulang, seperti penghukuman kejahatan, atau upacara penguburan, adalah merupakan bagian yangdimainkannya dalam kehidupan social sebagai keseluruhan dan, karena itu,merupakan sumbangan yang diberikan bagi pemelihara kelangsungan struktural

d.      Bronislaw Malinowski
Menurut Malinowski (1976: 551), para ahli antropologi menganalisa kebudayaan dengan melihat pada fakta-fakta antropologis dan bagian yang dimainkan oleh fakta-fakta itu dalam sistem kebudayaan .
e.       Talcott Parsons
Fungsionalisme structural Talcott Parsons terkenal dengan skema AGIL. Parson yakin bahwa ada empat fungsi penting yang diperlukan semua sistem, yaitu,
·         Adaptation (adaptasi) : Sebuah system harus menanggulangi situasi eksternal yang gawat. Sistemharus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan menyesuaikanlingkungan itu dengan kebutuhannya.
·         Goal attainment (pencapaian tujuan) :  Sebuah system harus mendefenisikan dan mencapai tujuan utamanya.
·         Integration (integrasi) : Sebuah system harus mengatur antar hubungan bagian-bagian yangmenjadi komponennya. Sistem juga harus mengelola antar hubungan ketiga fungsi penting lainnya (A, G, L)
·         Latency (latensi atau pemeliharaan pola) : Sebuah system harus mrlengkapi, memelihara, dan memperbaiki,baik motivasi individual maupun pola-pola kultural yang menciptakandan menopang motivasi.
f.       Robert K. Merton
Robert K. Merton, sebagai seorang yang mungkin dianggap lebih dari ahliteori lainnya telah mengembangkan pernyataan mendasar dan jelas tentang teori-teori fungsionalisme, merton merupakan seorang pendukung yang mengajukantuntutan lebih terbatas bagi perspektif ini. Mengakui bahwa pendekatan fungsional-struktural telah membawa kemajuan bagi pengetahuan sosiologis.
Merton telah mengutip tiga postulat yang ia kutip dari analisa fungsional dandisempurnakannya, diantaranya ialah :
Postulat pertama, adalah kesatuan fungsional masyarakat yang dapat dibatasi sebagai suatu keadaan dimana seluruh bagian dari system sosialbekerjasama dalam suatu tingkatan keselarasan atau konsistensi internalyang memadai, tanpa menghasilkan konflik berkepanjangan yang tidak dapat diatasi atau diatur. Atas postulat ini Merton memberikan koreksibahwa kesatuan fungsional yang sempurna dari satu masyarakat adalahbertentangan dengan fakta. Hal ini disebabkan karena dalamkenyataannya dapat terjadi sesuatu yang fungsional bagi satu kelompok,tetapi dapat pula bersifat disfungsional bagi kelompok yang lain.
Postulat kedua, yaitu fungionalisme universal yang menganggap bahwa seluruh bentuk sosial dan kebudayaan yang sudah baku memiliki fungsi-fungsi positif. Terhadap postulat ini dikatakan bahwa sebetulnyadisamping fungsi positif dari sistem sosial terdapat juga dwifungsi.Beberapa perilaku sosial dapat dikategorikan kedalam bentuk atau sifatdisfungsi ini. Dengan demikian dalam analisis keduanya harusdipertimbangkan.
Postulat ketiga, yaitu indispensability yang menyatakan bahwa dalam setiap tipe peradaban, setiap kebiasaan, ide, objek materiil dankepercayaan memenuhi beberapa fungsi penting, memiliki sejumlah tugasyang harus dijalankan dan merupakan bagian penting yang tidak dapatdipisahkan dalam kegiatan system sebagai keseluruhan. Menurut Merton,postulat yang kertiga ini masih kabur (dalam artian tak memilikikejelasan, pen), belum jelas apakah suatu fungsi merupakan keharusan.

Berdasarkan teori fungsional ini, ada dua pandangan tentang masalah sosial. Kedua pandangan tersebut adalah patologi sosial dan disorganisasi sosial.
a.       Patologi
Menurut M.P. Fairchild (1962), Keadaan sosial yang sakit (abnormal) pada suatu masyarakat.
Semua tingkah laku yang bertentangan dengan norma kebaikan, stabilitas lokal, pola kesederhanaan, moral, hak milik, solidaritas kekeluargaan, hidup rukun bertetangga, disiplin, kebaikan dan hukum formal.
Contoh : kemiskinan, pengangguran, perceraian, pelacuran, mirasantika dll.
b.      Disorganisasi
Menurut Soerjono Soekanto (1990) disorganisasi adalah proses melemahnya atau berpudarnya norma-norma dan nilai-nilai di dalam masyarakat karena adanya perubahan.

2.      Teori Konflik
Teori  konflik Ralf  Dahrendorf  muncul  sebagai  reaksi  atas  teori fungsionalisme struktural yang kurang memperhatikan fenomena konflik  dalam masyarakat. Dahrendraf adalah pencetus pendapat yang mengatakan bahwa masyarakat memiliki dua wajah (konflik dan konsensus) dan karena itulah teori sosiologi harus dibagi ke dalam dua bagian, teori konflik dan teori consensus.
Konflik merupakan gejala sosial yang serba hadir dalam kehidupan sosial, sehingga konflik bersifat inheren artinya konflik akan senantiasa ada dalam setiap ruang dan waktu, dimana saja dan kapan saja. Dalam pandangan ini, masyarakat merupakan arena konflik atau arena pertentangan dan integrasi yang senantiasa berlangsung.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia  Konflik artinya percekcokan, perselisihan dan pertentangan. Sedangkan konflik sosial yaitu pertentangan antar anggota atau masyarakat yang bersifat menyeluruh dikehidupan.
Menurut J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto (2005), dalam pengertian lain, konflik adalah merupakan suatu proses sosial yang berlangsung dengan melibatkan orang-orang atau kelompok-kelompok yang saling menantang dengan ancaman kekerasan.
Menurut George Ritzer dan Douglas J. Goodman (2004), teori ini dibangun dalam rangka untuk menentang secara langsung terhadap Teori Fungsionalisme Struktural. Kalau menurut Teori Fungsionalisme structural masyarakat dalam kondisi yang statis atau tepatnya bergerak dalam kondisi keseimbangan. Fungsionalis menekankan keteraturan masyarakat, sedangkan teoritisi konflik melihat pertikaian dan konflik dalam system sosial. Fungsionalis menyatakan bahwa setiap elemen masyarakat berperan dalam menjaga stabilitas. Teoritisi konflik melihat berbagai elemen kemasyarakatan menyumbang terhadap disintegrasi dan perubahan. Fungsionalis cenderung melihat masyarakat secara informal diikat oleh norma, nilai dan moral. Teoritisi konflik melihat apa pun keteraturan yang terdapat dalam masyarakat berasal dari pemaksaan terhadap anggotanya oleh mereka yang berada di atas. Fungsionalis memusatkan perhatian pada kohesi yang diciptakan oleh nilai bersama masyarakat. Teoritisi konflik menekankan pada peran kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban dalam masyarakat
Menurut George Ritzer (2013), masyarakat senantiasa dalam proses perubahan yang ditandai pertentangan yang terus menerus di antara unsur-unsur. Manusia adalah makhluk sosial yang mempunyai andil dalam terjadinya disintegrasi dan perubahan sosial. Masyarakat selalu dalam keadaan konflik menuju proses perubahan. Masyarakat dalam berkelompok dan hubungan sosial didasarkan atas dasar dominasi yang menguasai orang atau kelompok yang tidak mendominasi.
Konsep sentral dari teori ini adalah wewenang dan posisi. Keduanya merupakan fakta sosial. Dalam teori konflik wewenang dan juga kekuasaan merupakan faktor yang menentukan terjadinya konflik sosial. Perbedaan wewenang adalah suatu tanda dari adanya berbagai posisi dalam masyarakat. Perbedaan posisi serta perbedaan wewenang di antara individu dalam masyarakat itulah yang harus menjadi perhatian utama para sosiolog. Struktur yang sebenarnya dari konflik-konflik harus diperhatikan di dalam susunan peranan sosial yang dibantu oleh harapan-harapan terhadap kemungkinan mendapatkan dominasi. Tugas utama menganalisa konflik adalah mengidentifikasi berbagai peranan kekuasaan dalam masyarakat.
Kekuasaan dan wewenang seantiasa menempatkan individu pada posisi atas dan posisi bawah dalam setiap struktur. Karena wewenang itu adalah sah, maka setiap individu yang tidak tunduk terhadap wewenang yang ada akan terkena sanksi. Dengan demikian masyarakat disebut oleh Dahrendorf sebagai : persekutuan yang terkoordinasi secara paksa. Oleh karena kekuasaan selalu memisahkan dengan tegas antara penguasa dan yang dikuasai maka dalam masyarakat selalu terdapat dua golongan yang saling bertentangan. Masing-masing golongan dipersatukan oleh ikatan kepentingan nyata yang bertentangan secara subtansial dan secara langsung di antara golongan-golongan itu. Pertentangan itu terjadi dalam situasi di mana golongan yang berkuasa berusaha mempertahankan status quo sedangkan golongan yang dikuasai berusaha untuk mengadakan perubahan-perubahan.
Kekuasaan atau otoritas mengandung dua unsur yaitu penguasa (orang yang berkuasa) dan orang yang dikuasai atau dengan kata lain atasan dan bawahan. Kelompok dibedakan atas tiga tipe antara lain : 1. Kelompok Semu (quasi group) 2. Kelompok Kepentingan (manifes) 3. Kelompok Konflik Kelompok semu adalah sejumlah pemegang posisi dengan kepentingan yang sama tetapi belum menyadari keberadaannya, dan kelompok ini juga termasuk dalam tipe kelompok kedua, yakni kelompok kepentingan dan karena kepentingan inilah melahirkan kelompok ketiga yakni kelompok konflik sosial. Sehingga dalam kelompok akan terdapat dalam dua perkumpulan yakni kelompok yang berkuasa (atasan) dan kelompok yang dibawahi (bawahan). Kedua kelompok ini mempunyai kepentingan berbeda. Bahkan, menurut Ralf, mereka dipersatukan oleh kepentingan yang sama.

3.      Teori Interaksionisme Simbolik
Konsep interaksionisme simbolik ini diperkenalkan oleh Herbert Blummer sekitar tahun 1939. Dalam lingkup sosiologi ide ini sudah lebih dulu dikemukakan oleh Herbert Mead, tetapi kemudian dimodifikasi oleh Blummer guna mencapai tujuan tertentu.
Interaksi Simbolik menunjuk pada “komunikasi” atau secara lebih khusus “simbol-simbol” sebagai kunci untuk memahami kehidupan manusia itu. Interaksi Simbolik menunjuk pada sifat khas dari interaksi antar manusia. Artinya manusia saling menerjemahkan dan mendefinisikan tindakannya, baik dalam interaksi dengan orang lain maupun dengan dirinya sendiri. Proses interaksi yang terbentuk melibatkan pemakaian simbol-simbol bahasa, ketentuan adat istiadat, agama dan pandangan-pandangan. Manusia selalu memaknai situasi sosial.
Interaksi simbolik merupakan suatu aktivitas yang merupakan cirri khas manusia, yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna. Blumermenyatukan gagasan-gagasan tentang interaksi simbolik lewat tulisannya, dan juga diperkaya dengan gagasan-gagasan dari John Dewey, William I. Thomas,dan Charles H. Cooley (Mulyana, 2001 : 68)
Berikut adalah penjelasan lebih lanjut menurut para ahli
a.       George Herbert Mead (1863-1931)
                     Pengertian berfikir Mead adalah suatu proses dimana individu berinteraksi dengan dirinya sendiri dengan menggunakan simbol-simbol yang bermakna. Menurut Mead tertib masyarakat akan tercipta apabila ada interaksi dan komunikasi melalui simbol-simbol. Dalam buku Mind Set and Society, Mead memperkenalkan konsep diri dengan menyebut bahwa diri dapat bersifat sebagai objek maupun subjek sekaligus menjadi objek yaitu: Merupakan objek bagi dirinya sendiri, diri merupakan karakteristik manusia yang membedakan manusia dengan hewan, menjadikan manusia mampu mencapai kesadaran diri sehingga seseorang dapat mengambil sikap yang impersonal dan objektif.
                     Mead mengklaim bahwa bahasa memungkinkan kita untuk menjadi makhluk yang self-conscious yang sadar akan individualitasnya dan unsur kunci dalam proses itu adalah simbol. Inti pemikiran Mead dalam teori interaksionisme simbolik adalah bahwa manusia memiliki dunianya sendiri dimana ia mampu menjadi subjek sekaligus objek bagi dirinya sendiri. Sehingga ia mampu melakukan tindakan yang sesuai dengan keinginannya sendiri. Tindakan dan alur berfikir Mead memandang tindakan merupakan inti dari teorinya dengan memusatkan pada proses terjadinya tindakan akibat rangsangan dan tanggapan. Bahasa mempunyai fungsi yang signifikan yaitu menggerakkan tanggapan yang sama pada pihak rangsang dan respon.
b.      Charles Horton Cooley (1864-1929)
                     Konsep penting dalam bangunan teori Cooley adalah konsep cermin diri looking-glass self dan kelompok primer, dimana dalam individu senantiasa terjadi suatu proses yang ditandai dengan 3 tahap terpisah yaitu, persepsi, dalam tahap ini kita membayangkan bagaimana orang melihat kita, interpretasi dan definisi, disini kitamembayangkan bagaimana orang lain menilai penampilan kita, Respon, berdasarkan persepsi dan interpretasi idividu tersebut menyusun respon terhadap respon kita.
                     Kelompok primer dianggap penting oleh Cooley sebab, kelompok ini memiliki pengaruh yang sangat mendasar dan merupakan tempat pembentukan watak diri, kelompok ini merupakan utama dalam hubungan anatr ias dengan masyarakat yang lebih luas, kelompok memberikan kepada individu pengalaman tentang kesatuan iasl yang paling awal dan paling lengkap dan juga dalam pengertian bahwa kelompok ini tidak mengalami perubahan derajat yang sama seperti pada hubungan yang luas tetapi merupakan sumber yang dari mana struktur iasl itu muncul.
c.       Herbert Blummer
Individu dalam interaksionisme simbolik Blumer dapat dilihat dalam 3 premis yang diajukan:
·         Manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna yang ada pada sesuatu itu pada mereka.
·         Makna tersebut berasal dari interaksi dengan orang lain.
·         Makna-makna tersebut disempurnakan pada saat proses interaksi berlangsung.
Interaksionisme simbolik, kata Blumer dalam interaksi aktor tidak semata-mata bereaksi terhadap tindakan dari ornag lain tetapi mencoba menafsirka dan mendefinikan setiap tindakan orang lain. Dalam melakukan interaksi secara langsung maupun tidak langsung indivudu dijembatani oleh penggunaan simbol-simbol penafsiran yaitu bahasa. Konsep Blumer dikenal dengan self-indication yaitu proses komunikasi yang sedang berjalan dimana individu mengetahui sesuatu, menilainya, memberinya makna dan memutuskan untuk bertindak berdasarkan makna itu.
Inti pemikiran Blumer mengenai interaksionisme simbolik dapat disadur dari kajian Poloma 1984 sebagai berikut:
·         Masyarakat terdiri dari manusia yang berinteraksi.
·         Interaksi terdiri dari kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan manusia lain. Interaksi non simbolis mencakup stimulus respon yang sederhana. Interaksionisme simbolis mencakup penafsiran tindakan.

Media Power Point

 
 
 

PETA KONSEP KELAS XI KD 3.2

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MATERI PEMBELAJARAN KELAS XI