MATERI PEMBELAJARAN KELAS X
Nama :
Feni Dwi Erni Chusainiyah
MIM/Kelas : K8417030/B
KD
3.3 Menerapkan Konsep-Konsep Dasar Sosiologi untuk Memahami Ragam Gejala Sosia
di Masyarakat
Mata
Pelajaran : Sosiologi
Kelas/Semester : X/2
Materi : Faktor Keanekaragaman
Masyarakat
Alokasi
Waktu : 1 x 45 Menit
Faktor Penyebab
Keanekaragaman/Masyarakat Indonesia
Masyarakat
Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk (multikultural). Banyak kebudayaan
yang mempunyai ciri dan karakteristik yang berbeda-beda pada tiap-tiap daerah.
Perbedaan yang timbul dalam masyarakat Indonesia dipengaruhi oleh beberapa
faktor berikut:
1. Faktor Sejarah
Dalam
sejarah, dinyatakan bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa imigran yang datang
dari daerah Yunan Selatan (Indocina). Pada waktu itu bangsa Yunan Selatan sudah
mulai berkembang dengan membawa kebudayaannya masuk ke Indonesia. Masuknya
bangsa Yunan Selatan ke Indonesia terjadi secara bergelombang. Gelombang
masuknya bangsa imigran tersebut dapat dibagi menjadi:
a. Gelombang pertama
Gelombang
pertama disebut dengan Proto Melayu. Proto artinya pertama, jadi hal ini dapat
diartikan sebagai golongan pertama yang datang ke Indonesia. Bangsa yang datang
pada gelombang pertama ini kemudian menetap di beberapa bagian daerah di
Indonesia. Mereka menurunkan suku bangsa Batak dan Toraja. Secara fisik kedua
suku bangsa tersebut mempunyai kemiripan.
b. Gelombang kedua
Gelombang
kedua yaitu bangsa Yunan Selatan yang masuk belakangan. Gelombang ini disebut
dengan Deutero Melayu atau Neo Melayu. Deutero atau neo mempunyai arti baru,
jadi hal ini menunjukkan bahwa bangsa tersebut adalah yang lebih belakangan
masuk/datang ke Indonesia. Bangsa neo melayu ini menetap di banyak daerah di
Indonesia yang menurunkan suku-suku bangsa selain suku yang datang terdahulu.
Hampir semua suku bangsa di Indonesia adalah keturunan dari bangsa neo melayu.
Sejalan
dengan berkembangnya zaman, maka kemudian datanglah bangsa-bangsa asing di
Indonesia. Mereka kemudian beradaptasi dan berasimilasi dengan suku bangsa
setempat, sehingga terjadi pembauran. Sekarang bangsa asing yang datang
tersebut kemudian menjadi penduduk asli dari daerah tersebut. Bangsa asing yang
kemudian datang dan berbaur dengan suku asli yaitu bangsa India, Arab, Belanda,
dan Cina. Mereka membentuk pembauran budaya baru yang kemudian menjadi ciri
budaya daerah.
2. Faktor Geografi
Indonesia
merupakan negara yang sangat luas yang terdiri dari kepulauan. Setiap pulau
dibatasi oleh lautan di sekelilingnya. Di samping itu, Indonesia juga merupakan
negara vulkanis dengan banyak pegunungan, baik gunung berapi ataupun yang bukan
berapi. Karena kedua faktor tadi, maka di Indonesia terjadi isolasi geografi .
Isolasi geografi adalah pembatasan suatu daerah oleh karena keadaan alam, yaitu
laut dan gunung.
Isolasi
akibat laut menyebabkan munculnya hambatan dalam melakukan hubungan diantara
masing-masing pulau, walaupun tidak sama sekali terputus. Masing-masing pulau
kemudian berkembang sesuai dengan alam yang ada di sekitar daerahnya. Oleh
karena itu, antara satu pulau dengan pulau lain mempunyai suku bangsa yang
berbeda kebudayaannya. Contohnya antara pulau Kalimantan dengan pulau Sulawesi
mempunyai suku bangsa dengan budaya yang berbeda-beda. Di Kalimantan terdapat
suku bangsa dominan, yaitu suku Dayak. Sedangkan di Sulawesi terdapat banyak
suku bangsa yang berbeda tanpa ada dominasi. Begitu pula antara pulau Jawa
dengan pulau Bali yang dipisahkan oleh selat Bali. Walaupun dalam sejarah
tercatat bahwa suku bangsa Bali berasal dari suku bangsa Jawa, tetapi dalam
perkembangan budayaanya diantara kedua suku bangsa tersebut memiliki perbedaan.
Isolasi
akibat gunung yang tinggi, sehingga menghambat hubungan antara satu daerah
dengan daerah lain. Dalam satu pulau terdapat banyak suku bangsa karena adanya
hambatan geografi yang berupa pegunungan.Pada dasarnya ada budaya yang masih
sama, tetapi dapat pula terjadi perbedaan yang menyolok antara suku bangsa satu
dengan suku bangsa lain dalam satu pulau. Contohnya di pulau Jawa terdapat suku
bangsa Sunda dan Jawa. Kedua suku tersebut mempunyai kebudayaan yang berbeda,
walaupun tetap ada beberapa bagian budaya yang masih sama.
3. Faktor Iklim
Berdasarkan
pembagian iklim matahari, iklim di Indonesia secara umum adalah berupa iklim
tropis yang panas. Iklim yang ada di suatu daerah dapat berbeda dengan daerah
lain, hal ini dinamakan dengan iklim setempat. Faktor iklim setempat dapat
menyebabkan perbedaan tata cara hidup masyarakat. Hal ini memengaruhi pula pola
perilaku masyarakatnya.
Daerah
yang mempunyai iklim yang panas dengan banyak sinar matahari dan curah hujannya
akan menjadi daerah yang subur. Karena itu, masyarakat pada daerah seperti itu
pola hidup dan mata pencahariannya adalah menjadi petani. Daerah-daerah
pertanian pada umumnya terdapat di daerah dataran rendah. Banyak suku bangsa di
Indonesia yang hidup di daerah dataran rendah dengan mata pencaharian utama
sebagai petani. Oleh sebab itu, negara Indonesia dikenal sebagai negara
agraris.
Sedangkan
pada daerah yang berupa dataran tinggi dengan karakteristik seperti itu akan
berkembang masyarakat yang hidup dengan berkebun. Masyarakat yang memiliki pola
hidup petani misalnya pada suku Sunda, Jawa, dan Melayu yang pada umumnya
berada di wilayah Indonesia bagian barat dan beberapa di daerah bagian tengah.
Daerah
dengan iklim panas tetapi sedikit turun hujan menyebabkan daerah tersebut
kurang subur. Daerah ini banyak ditumbuhi semak belukar dan rumput, sehingga
menjadi daerah padang rumput yang luas. Masyarakat yang tinggal di daerah
seperti ini kemudian berkembang dengan pola hidup sebagai peternak. Mata
pencaharian sebagai peternak menjadi pilihan utama karena alam mendukung usaha
tersebut. Kondisi masyarakat seperti ini misalnya terjadi pada suku bangsa-suku
bangsa di wilayah Nusa Tenggara, seperti Flores, Ende, Timor, Sumbawa, dan
sebagainya.
Daerah
yang beriklim panas di pinggir-pinggir pantai menyebabkan masyarakatnya menjadi
nelayan yang mengembangkan budaya menangkap ikan. Pola hidup sebagai nelayan
tentu berbeda dengan pola hidup masyarakat yang mengolah tanah. Pada umumnya
masyarakat yang tinggal di pantai hidup dengan budaya nelayan.
4. Faktor Letak
Indonesia
terletak pada wilayah yang strategis dalam persimpangan lalu lintas dunia.
Letak Indonesia secara geografis adalah antara dua benua, yaitu benua Asia dan
Australia serta antara dua samudra, yaitu Samudra Pasifik dan Hindia.
Karakteristik dari posisi Indonesia tersebut menjadikan Indonesia sebagai
negara terbuka. Artinya, negara Indonesia sangat mudah untuk mengadakan kontak
budaya dengan bangsa asing melalui jalur pelayaran dunia. Karakteristik dari
keberadaan Indonesia di jalur dunia tersebut yaitu:
Benua
Asia di sebelah utara Indonesia merupakan bangsa Asia yang mempunyai adat
timur. Secara somatologis bangsa Indonesia mempunyai ciri-ciri sebagai bangsa
Asia, hal ini berarti bangsa Indonesia akan lebih mudah menerima budaya dari
Asia karena adanya kesamaan asal-usul. Budaya timur lebih kental dengan
kepatuhan pada etika yang hamper sama dengan budaya bangsa Indonesia.
Benua
Australia yang terletak di sebelah selatan Indonesia merupakan benua imigran
bangsa Eropa, yaitu bangsa Inggris. Dengan demikian, budaya yang berkembang
merupakan budaya bangsa barat. Mereka lebih cenderung mengembangkan budaya
liberal yang sedikit banyak akan berpengaruh terhadap perkembangan budaya
bangsa Indonesia. Apalagi sekarang ini banyak kerjasama terutama dalam bidang
pendidikan dengan Australia.
Jalur
lalu lintas laut yang menghubungkan antara Samudra Pasifik dengan Hindia dalam
catatan sejarah menjadi pesat pada abad pertengahan. Ramainya lalu lintas
perdagangan antarnegara yang mau tidak mau harus melalui Indonesia menyebabkan
banyak pedagang asing yang singgah di Indonesia. Bahkan mereka mulai menetap di
beberapa daerah di Indonesia. Masuknya agama Hindu dan Budha dimulai dengan
singgahnya para pedagang dari India yang kemudian menyebarkan agama tersebut.
Perdagangan dengan bangsa Gujarat di India dan Arab dengan membawa agama Islam
menorehkan warna Islami dalam perkembangan budaya di beberapa suku bangsa
Indonesia.
Datangnya
bangsa Portugis ke Indonesia yang menyebarkan agama Katolik kemudian berkembang
di beberapa daerah. Bangsa Belanda dengan VOC-nya yang semula bertujuan dagang
kemudian berubah menjadi kolonial. Selama 3,5 abad bangsa Belanda menguasai
bangsa Indonesia yang tentunya berpengaruh terhadap budaya di Indonesia.
Bersama dengan VOC terdapat para misionaris yang menyebarkan agama Kristen.
5. Faktor Agama
Masuknya
agama dapat memengaruhi perkembangan budaya pada suku-suku bangsa tertentu. Hal
ini menyebabkan terjadinya perbedaan-perbedaan pada budaya suku bangsa. Bangsa
Indonesia pada zaman dahulu sudah mengenal kepercayaan yang berupa animisme dan
dinamisme sebelum masuknya agama ke Indonesia. Perkembangan lebih lanjut ada
sebagian dari masyarakat yang mencampuradukkan antara kepercayaan lokal dengan agama.
Adapun proses masuknya dan perkembangan agama-agama di Indonesia akan diuraikan
secara singkat sebagai berikut:
Agama
Hindu dan Budha masuk ke Indonesia hampir bersamaan. Tetapi pada bukti sejarah
menyatakan bahwa agama Budha lebih dulu masuk ke Indonesia, baru kemudian agama
Hindu. Hal ini dapat dilihat dari keberadaan candi yang menjadi simbol agama
Hindu dan Budha. Agama Hindu berkembang pada masyarakat Bali dan Lombok.
Sedangkan pengaruh agama Budha ada di sebagian masyarakat Jawa dan beberapa masyarakat
di luar suku Jawa.
Agama
Islam pada awalnya masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedagang Gujarat dari
India. Kemudian bangsa Arab datang ke Indonesia sambil melakukan perdagangan.
Pengaruh agama Islam tampak nyata dalam perkembangan budaya di beberapa suku
bangsa. Suku bangsa yang perkembangan budayanya dipengaruhi oleh agama Islam
diantaranya adalah Suku Minangkabau, Aceh, Sunda, Banjar, Makassar, dan
sebagainya.
Agama
Katolik yang dibawa oleh bangsa Portugis berkembang pesat pada suku bangsa Flores
dan Timor.
Agama Kristen memengaruhi kebudayaan di beberapa suku bangsa diantaranya adalah suku bangsa Ambon, Batak, Minahasa, dan sebagian suku bangsa lainya. Pada suku bangsa Jawa mempunyai keunikan tersendiri dengan berkembangnya semua agama dan kepercayaan pada masyarakatnya. Pada masyarakat Jawa terjadi perkembangan sinkretisme dari semua agama dan kepercayaan yang terwujud dalam budaya kejawen.
Agama Kristen memengaruhi kebudayaan di beberapa suku bangsa diantaranya adalah suku bangsa Ambon, Batak, Minahasa, dan sebagian suku bangsa lainya. Pada suku bangsa Jawa mempunyai keunikan tersendiri dengan berkembangnya semua agama dan kepercayaan pada masyarakatnya. Pada masyarakat Jawa terjadi perkembangan sinkretisme dari semua agama dan kepercayaan yang terwujud dalam budaya kejawen.
Sumber :Raharjo,
Puji. 2009. Sosiologi 2: untuk SMA/MA Kelas XI.
Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Komentar
Posting Komentar