RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN KELAS X


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN



Sekolah                                    : SMA Negeri Mojoagung
Mata Pelajaran                        : Sosiologi
Kelas/Semester                        : X/ Genap
Materi Pokok                          : Dampak Gejala Sosial dan Cara Mengatasi Gejala Sosial
Alokasi Waktu                         : 2 x 45 Menit

A.    Kompetensi Inti
KI-1 dan KI-2:Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, santun, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), bertanggung jawab, responsif, dan pro-aktif dalam berinteraksi secara efektif sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan kawasan internasional”.
KI 3: Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
KI4: Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan

B.     Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator
3.1 Memahami pengetahuan dasar sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berfungsi mengkaji gejala sosial di masyarakat
3.1.1        Siswa mampu menganalis dampak gejala sosial yang ada dalam masyarakat
3.1.2        Siswa mampu mengkategorikan dampak gejala sosial yang ada dalam masyarakat
3.1.3        Siswa mampu mendiskusikan cara mengatasi gejala sosial


C.    Tujuan Pembelajaran
1.      Siswa mampu menganalis dampak gejala sosial yang ada dalam masyarakat
2.      Siswa mampu mengkategorikan dampak gejala sosial yang ada dalam masyarakat
3.      Siswa mampu mendiskusikan cara mengatasi gejala sosial

4.      Materi pembelajaran
a.       Dampak gejala social
1.      Dampak positif
2.      Dampak negatif
b.      Cara mengatasi gejala social
1.      Lingkungan Sekitar
2.      Pendidikan
3.      Ekonomi
4.      Budaya 

5.      Metode Pembelajaran
1)  Pendekatan                  : Scientific Learning
2)  Model Pembelajaran    : Problem Based Learning

6.      Media Pembelajaran
Media :
Ø Worksheet atau lembar kerja (siswa)
Ø Lembar penilaian
Ø Power point
Ø Cetak: buku, modul, dan gambar
Ø Manusia dalam lingkungan: guru

Alat/Bahan :
Ø Penggaris, spidol, papan tulis
Ø Laptop & infocus

7.      Sumber Belajar
a.    Rufikasari, Lia Chandra. 2013. Sosiologi untuk SMA/MA. Surakarta: Mediatama
b.    Heryansyah, Tedy. 2017. Dampak potif gejala sosial dalam masyarakat. jakarta

2.    Langkah-Langkah Pembelajaran
1.
Pertemuan Ke-15 (2 x 45 Menit)
Kegiatan Pendahuluan (10 Menit)
Guru :
Orientasi
Melakukan pembukaan dengan salam pembuka, memanjatkan syukur kepada Tuhan YME dan berdoa  untuk  memulai pembelajaran
Memeriksa kehadiran peserta didik sebagai sikap disiplin
Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik  dalam mengawali kegiatan pembelajaran.
Aperpepsi
Mengaitkan materi/tema/kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan dengan pengalaman peserta didik dengan materi/tema/kegiatan sebelumnya
Mengingatkan kembali materi prasyarat dengan bertanya.
Mengajukan pertanyaan yang ada keterkaitannya dengan pelajaran yang akan dilakukan.
Motivasi
Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.
Apabila materi tema/projek ini kerjakan  dengan baik dan sungguh-sungguh ini dikuasai dengan baik, maka peserta didik diharapkan dapat menjelaskan tentang materi :

Dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial

Menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan yang  berlangsung
Mengajukan pertanyaan
Pemberian Acuan
Memberitahukan  materi pelajaran yang akan dibahas pada pertemuan saat itu.
Memberitahukan tentang kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, dan KKM pada pertemuan yang  berlangsung
Pembagian kelompok belajar
Menjelaskan mekanisme pelaksanaan pengalaman belajar  sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran.
Kegiatan Inti ( 70 Menit )
Sintak Model Pembelajaran
Kegiatan Pembelajaran
Stimulation
(stimullasi/
pemberian
rangsangan)
KEGIATAN LITERASI
Peserta didik diberi motivasi atau rangsangan untuk memusatkan perhatian pada topik materi dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial  dengan cara :
Melihat (tanpa atau dengan Alat)

Menayangkan gambar dari power point yang relevan.
Mengamati
Lembar kerja materi dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial
Pemberian contoh-contoh materi dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial untuk dapat dikembangkan peserta didik, dari media interaktif, dsb
Membaca.

Kegiatan literasi ini dilakukan di rumah dan di sekolah dengan membaca materi dari buku paket atau buku-buku penunjang lain, dari internet/materi yang berhubungan dengan dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial
Menulis

Menulis resume dari hasil pengamatan dan bacaan terkait definisi gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial
Mendengar

Pemberian materi dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial oleh guru.
Menyimak

Penjelasan pengantar kegiatan secara garis besar/global tentang materi pelajaran mengenai materi :

Dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial



untuk melatih rasa syukur, kesungguhan dan kedisiplinan, ketelitian, mencari informasi.
Problem
statemen
(pertanyaan/
identifikasi
masalah)
 
CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK)
Guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin pertanyaan/masalah yang berkaitan dengan gambar yang disajikan dan akan dijawab melalui kegiatan belajar, contohnya :
Mengajukan pertanyaan tentang materi :

Dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial


yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik) untuk mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat.
Data
collection
(pengumpulan
data)
KEGIATAN LITERASI
Peserta didik mengumpulkan informasi yang relevan untuk menjawab pertanyan yang telah diidentifikasi melalui kegiatan:
Mengamati obyek/kejadian

Mengamati dengan seksama materi dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial yang sedang dipelajari dalam bentuk gambar/slide presentasi yang disajikan dan mencoba menginterprestasikannya.
Membaca sumber lain selain buku teks

Secara disiplin melakukan kegiatan literasi dengan mencari dan membaca berbagai referensi dari berbagai sumber guna menambah pengetahuan dan pemahaman tentang materi dampak gejala dan cara mengatasi gejala sosial yang sedang dipelajari.
Aktivitas

Menyusun daftar pertanyaan atas hal-hal yang belum dapat dipahami dari kegiatan mengmati dan membaca yang akan diajukan kepada guru berkaitan dengan materi dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial yang sedang dipelajari.
Wawancara/tanya jawab dengan nara sumber

Mengajukan pertanyaan berkaiatan dengan materi gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial yang telah disusun dalam daftar pertanyaan kepada guru.


COLLABORATION (KERJASAMA)
Peserta didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk:
Mendiskusikan

Peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas contoh dalam buku paket mengenai materi dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial
Mengumpulkan informasi

Mencatat semua informasi tentang materi dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial yang telah diperoleh pada buku catatan dengan tulisan yang rapi dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Mempresentasikan ulang

Peserta didik mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan materi dengan rasa percaya diri dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial sesuai dengan pemahamannya.
Saling tukar informasi tentang materi :

dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial


dengan ditanggapi aktif oleh peserta didik dari kelompok lainnya sehingga diperoleh sebuah pengetahuan baru yang dapat dijadikan sebagai bahan diskusi kelompok kemudian, dengan menggunakan metode ilmiah yang terdapat pada buku pegangan peserta didik atau pada lembar kerja yang disediakan dengan cermat untuk mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.
Data
processing
(pengolahan
Data)
COLLABORATION (KERJASAMA) dan CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK)
Peserta didik dalam kelompoknya berdiskusi mengolah data hasil pengamatan dengan cara :
Berdiskusi tentang data dari Materi :

dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial


Mengolah informasi dari materi definisi dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial yang sudah dikumpulkan dari hasil kegiatan/pertemuan sebelumnya mau pun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi yang sedang berlangsung dengan bantuan pertanyaan-pertanyaan pada lembar kerja.
Peserta didik mengerjakan beberapa soal mengenai dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial
Verification (pembuktian)
CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK)
Peserta didik mendiskusikan hasil pengamatannya dan memverifikasi hasil pengamatannya dengan data-data atau teori pada buku sumber melalui kegiatan :
Menambah keluasan dan kedalaman sampai kepada pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan untuk mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam membuktikan tentang materi :

dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial


antara lain dengan : Peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas jawaban soal-soal yang telah dikerjakan oleh peserta didik.
Generalization (menarik kesimpulan)
COMMUNICATION (BERKOMUNIKASI)
Peserta didik berdiskusi untuk menyimpulkan
Menyampaikan hasil diskusi  tentang materi definisi gejala sosial / penyimpangan sosial berupa kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya untuk mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan sopan.
Mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara klasikal tentang materi :

dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial


Mengemukakan  pendapat  atas presentasi yang dilakukan tentanag materi  dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial dan ditanggapi oleh kelompok yang mempresentasikan.
Bertanya atas presentasi tentang materi  dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial yang dilakukan dan peserta didik lain diberi kesempatan  untuk menjawabnya.


CREATIVITY (KREATIVITAS)
Menyimpulkan tentang point-point penting yang muncul dalam kegiatan pembelajaran yang baru dilakukan berupa :

Laporan hasil pengamatan secara tertulis tentang materi :

dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial


Menjawab pertanyaan tentang materi  dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial yang terdapat pada buku pegangan peserta didik atau lembar kerja yang telah disediakan.
Bertanya tentang hal yang belum dipahami, atau guru melemparkan beberapa pertanyaan kepada siswa berkaitan dengan dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial yang akan selesai dipelajari
Menyelesaikan uji kompetensi untuk materi  dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial yang terdapat pada buku pegangan peserta didik atau pada lembar lerja yang telah disediakan secara individu untuk mengecek penguasaan siswa terhadap materi pelajaran.
Catatan : Selama pembelajaran  dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial berlangsung, guru mengamati sikap siswa dalam pembelajaran yang meliputi sikap: nasionalisme,  disiplin, rasa percaya diri, berperilaku jujur, tangguh menghadapi masalah tanggungjawab, rasa ingin tahu, peduli lingkungan
Kegiatan Penutup (10 Menit)
Peserta didik :
Membuat resume (CREATIVITY) dengan bimbingan guru tentang point-point penting yang muncul dalam kegiatan pembelajaran tentang materi dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial yang baru dilakukan.
Mengagendakan pekerjaan rumah untuk materi pelajaran  dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial yang baru diselesaikan.
Mengagendakan materi atau tugas projek/produk/portofolio/unjuk kerja yang harus mempelajarai pada pertemuan berikutnya di luar jam sekolah atau dirumah.
Guru :
Memeriksa pekerjaan siswa  yang selesai  langsung diperiksa untuk materi pelajaran  dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial
Peserta didik yang  selesai mengerjakan tugas projek/produk/portofolio/unjuk kerja dengan benar diberi paraf serta diberi nomor urut peringkat,  untuk penilaian tugas
Memberikan penghargaan untuk materi pelajaran  dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial kepada kelompok yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.

















MATERI :













Dampak Gejala Sosial di Masyarakat
Terjadinya perubahan sosial-budaya dimasyarakat merupakan salah satu akibat dari gejala sosial. Dampak gejala sosial ada yang bersifat positif dan negatif.
1.    Dampak positif
(Rufikasari, 2013) Gejala sosial yang ada di masyarakat harus kita sikapi dengan baik. Bila kita dapat terbuka dan mengimbangi perubahan sosial-budaya yang ada. Maka perubahan tersebut akan berdampak positif dan memberikan kita mamfaat. Hal ini dapat dilihat dengan kemajuan bidang tekhnologi. Dalam bidang tekhnologi kita mengenal tekhnologi komunikasi, seperi telepon, handphone, telegram, email, dsb. Dengan adanya alat komunikasi yang modern, maka, maka kita dapat melakukan interaksi jarak jauh tanpa harus bertemu secara langsung.
Tedy Heryansyah(2017) dampak positif gejala sosial adalah sebagai berikut :
1.      Potensi Munculnya Nilai dan Norma Baru
Gejala sosial bisa menjadi penanda bahwa ada nilai dan norma masyarakat yang sudah ketinggalan zaman. Sehingga munculnya gejala sosial diharapkan dapat memunculkan nilai dan norma baru yang sesuai dengan perkembangan zaman.
2.      Adanya Upaya Mewujudkan Kesetaraan Gender
Perkembangan zaman di masyarakat akan meningkatkan kesadaran bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak asasi yang sama sebagai manusia. Ini jelas merupakan pertanda yang baik karena dengan adanya kesetaraan gender, tidak ada lagi ketimpangan atau judgement dari lingkungan terhadap suatu gender.
3.      Adanya Diferensiasi Struktural
Diferensiasi struktural ini mengacu kepada berkembangnya lembaga-lembaga sosial baru. Berbagai macam kebutuhan di masyarakat yang semakin kompleks membutuhkan wadah dan lembaga baru untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
4.      Tingkat Pendidikan Formal Semakin Tinggi dan Merata
Sadar akan pendidikan adalah salah satu dampak dari munculnya gejala sosial.
Gejala sosial yang berhasil diatasi akan membawa pemahaman bahwa “pendidikan itu penting”. Akibatnya, masyarakat akan lebih aware terhadap pendidikan dan berusaha untuk mendapatkan akses pendidikan, khususnya pendidikan formal, yang lebih baik lagi.
5.      Meningkatnya Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan pendidikan, munculnya berbagai penelitian ilmiah terkait gejala sosial yang telah terjadi semakin menyadarkan masyarakat terhadap pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan taraf hidup.
6.      Berkembangnya Industrialisasi
Ketika masyarakat sudah mendapatkan pendidikan yang baik, produktivitas masyarakat pun akan meningkat dengan sendirinya. Hal ini mengakibatkan industri-industri semakin berkembang menjadi lebih baik.
7.      Kesadaran Politik Semakin Tinggi
Masyarakat yang terdidik umumnya akan menyadari pentingnya kontribusi setiap individu dalam praktek politik. Tingginya kesadaran politik ini ditandai dengan meningkatnya partisipasi dalam politik praktis.
8.      Perlindungan terhadap Kebebasan dalam Kehidupan Beragama
Gejala sosial memberi pelajaran pada masyarakat akan pentingnya hidup berdampingan dan menghormati keanekaragaman. Dengan begitu, diharapkan akan munculnya kerukunan antar umat beragama yang berujung pada terwujudnya kebebasan beragama secara hakiki.

2.    Dampak negatif
1.      Seseorang yang tidak dapat menerima perubahan yang terjadi akan mengalami keguncangan culture shock. Ketidak sanggupan seseorang dalam menghadapi gejala sosial akan membawa kearah prilaku menyimpang.
2.      Adanya Disorientasi Nilai dan Norma
3.      Perubahan Tingkah Laku
4.      Budaya Konsumtif yang Semakin Besar
5.      Berkembangnya Sifat Individualisme
6.      Munculnya Konflik Sosial Vertikal maupun Horizontal
7.      Lembaga-lembaga Sosial yang ada Tidak Dapat Berfungsi Maksimal
8.      Banyak Pengangguran
9.      Adanya Kesenjangan Sosial
10.  Terjadinya Berbagai Bentuk Kerusakan Lingkungan dan Bencana Alam
11.  Tiap individu yang tidak dapat mengizinkan transformasi akan menemui fluktuasi budaya. Ketidak kecukupan individu dalam menentang gejala sosial akan menyebabkan ke arah sikap tersesat.

Simak lebih lanjut di Brainly.co.id - https://brainly.co.id/tugas/14868413#readmore

Cara Mengatasi Gejala Sosial
Dampak yang ditimbulkan dari gejala sosial dimasyrakat sangat beragam, mulai dari dampak positif maupun negatif. Adanya dampak negatif di masyarakat harus menjadi perhatian khusus bagi kita, karena dapat merugikan orang lain. Untuk itu perlu adanya pengendalian sosial. Pengendalian sosial merupakan suatu proses yang dilakukan oleh individu maupun kelompok, sehingga anggotanya dapat bertindak sesuai dengan harapan kelompok atau masyarakat. Dengan adanya pengendalian sosial, diharapkan masyarakat dapat memahami mengenai norma. Norma menjadi aturan-aturan yang bertujuan untuk mendorong individu atau kelompok dalam mencapai nilai-nilai sosial. Pihak-pihak yang ikut berperan untuk mengatasi gejal sosial yang ada di lingkungan masyarakat, antara lain :
1.      Lingkungan Sekitar
Bagi lingkungan sekitar diperlukan adanya lingkungan masyarakat yang baik dan terhindar dari hal-hal yang negative agar tidak terjadi lagi gejala sosial yang ada di masyarakat. Memberikan edukasi tentang pentingnya bersosialisasi dan terbuka, memilih dan memilah mana yang baik untuk kehidupan berasyarakat.
2.      Pendidikan
Harus memeberi pemahaman bahwa pendidikan itu penting bagi setiap individu. Pemahaman ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesenjangan antara masyarakat satu dengan yang lain dalam mengenyam pendidikan di Indonesia. Dengan pemahaman tersebut kita akan bisa mengatasinya
3.      Ekonomi
Diperlukan adanya pemeataa harga didalam masyarakat.




















Media Power point :



































RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )

Sekolah                       : SMA Negeri 4 Surakarta
Mata Pelajaran : Sosiologi
Kelas/Semester            : X/1
Materi Pokok              : Manusia Sebagai Makhluk Individu dan Makhluk Sosial
Alokasi Waktu            : 2 x 45 menit

A.  Kompetensi Inti
KI 1                        : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
KI 2                        : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab,
peduli
(gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif, dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
KI 3                        : Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,  kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
KI 4                        : Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak
terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan

B.  Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi

Kompetensi Dasar
Indikator
3. 2 Mengenali dan Mengidentifikasi
       Realitas Individu, Kelompok, dan
       Hubungan Sosial Di Masyarakat

3.2.1        Siswa mampu menguraikan pengertian manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
3.2.2        Siswa mampu menguraikan ciri-ciri manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
3.2.3        Siswa mampu mengaitkan antara konsep dengan gambar maupun kasus terkait materi manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial

4.2 Mengolah realitas individu, kelompok,
      dan hubungan sosial sehingga mendiri
      dalam memposisikan diri dalam
      pergaulan sosial di masyarakat
4.2.1        Siswa mampu mengomunikasikan hasil temuannya terkait pengertian dan ciri-ciri manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial


C.  Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti proses pembelajaran, peserta didik dapat :
1.      Siswa mampu menguraikan pengertian manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
2.      Siswa mampu menguraikan ciri-ciri manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
3.      Siswa mampu mengaitkan antara konsep dengan gambar maupun kasus terkait materi manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
4.      Siswa mampu mengomunikasikan hasil temuannya terkait pengertian dan ciri-ciri manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial

D.  Materi pembelajaran
1.      Manusia sebagai makhluk individu
2.      Ciri manusia sebagai makhluk individu
3.      Manusia sebagai makhluk sosial
4.      Ciri manusia sebagai makhluk sosial

Fakta
·      Manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
Konsep
·       Definisi manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
Prinsip
·       Ciri-ciri manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
Prosedur
·      Keterkaitan antara manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial di dalam kehidupan sehari-hari

E.  Metode Pembelajaran
Pendekatan                         : Saintifik
Model Pembelajaran           : Kooperatif dengan tipe Make A Match
Metode Pembelajaran         : Ceramah, Studi literatur, Diskusi, Penugasan

F.   Media Pembelajaran
Media                                 : Kartu berpasangan tentang manusia sebagai makhluk individu
  dan makhluk sosial
Alat/Bahan                                     : Laptop, LCD, 2 buah kartu yang terdiri dari sebuah  
  pernyataan (gambar/kasus) dan jawaban, lembar kerja siswa

G.    Sumber Belajar
§  Effendi, R. dan Setiadi, E.M. 2010. Pendidikan Lingkungan, Sosial, Budaya, dan Teknologi. Bandung: UPI Press.
§  Sumaatmadja, Nursid. 2012. Manusia dalam Konteks Sosial, Budaya, dan Lingkungan Hidup. Bandung: Alfabeta.
§  Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo.
§  Rangga, Aryadanuraja. (2015, Januari 2). Manusia sebagai Makhluk Individu dan Makhluk Sosial. Dikutip pada 13 April 2019 dari https://ranggaadr.wordpress.com/2015/01/02/manusia-sebagai-makhluk-individu-dan-makhluk-sosial/

H.    Langkah-Langkah Pembelajaran

Pertemuan ke 1 ( 2 x 45 menit )
                                              Kegiatan Pendahuluan ( 10 menit )
Guru :
Orientasi
§  Guru memberikan salam kepada peserta didik
§  Guru mempersilakan berdoa bersama
§  Guru menanyakan kabar siswa dan kehadiran siswa
Apersepsi
§  Guru memberikan pertanyaan kepada peserta didik yang bersifat menuntun dan menggali mengenai materi yang akan dibahas, yaitu manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
Motivasi
§  Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-hari yaitu tentang manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
§  Apabila materi tema ini kerjakan dan dikuasai dengan baik, maka peserta didik diharapkan dapat menjelaskan tentang materi :
Manusia Sebagai Makhluk Individu dan Makhluk Sosial
§  Menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan yang berlangsung
Pemberian Acuan
§  Guru memberitahukan materi pelajaran yang akan dibahas pada pertemuan hari ini, yaitu tentang manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
§  Guru memberitahukan tentang kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, dan KKM pada pertemuan yang berlangsung
§  Menjelaskan mekanisme pelaksanaan pengalaman belajar sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran
Kegiatan Inti (70 menit)
Sintak Model Pembelajaran
Kegiatan Pembelajaran
Stimulation
(stimullasi/
pemberian
rangsangan)
KEGIATAN LITERASI
Peserta didik diberi motivasi atau rangsangan untuk memusatkan perhatian pada topik materi tentang manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, dengan cara :
·      Melihat
Menayangkan gambar tentang manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial di layar LCD.
·      Mengamati
Guru mengarahkan siswa untuk mengamati realita dalam kehidupan masyarakat sekitar mengenai manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.
·      Membaca
Siswa melakukan kegiatan literasi yang dilakukan di rumah dan di sekolah dengan membaca materi dari buku paket atau internet yang berhubungan dengan manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.
·      Menulis
Menulis resume dari hasil pengamatan dan bacaan terkait materi manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.
·      Mendengar
Guru memberikan materi tentang manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial dan siswa mendengarkannya.
·      Menyimak
Guru memberikan penjelasan pengantar kegiatan secara garis besar tentang materi pelajaran mengenai manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.
Problem Statement (pertanyaan/identifikasi masalah)
CRITICAL THINGKING (BERPIKIR KRITIK)
Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi pertanyaan yang berkaitan dengan gambar maupun hasil pengamatan yang sudah dilakukan dan akan dijawab melalui kegiatan belajar, contohnya :
Mengajukan pertanyaan tentang materi manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, dimana guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya terkait materi yang belum dipahaminya.
Data collection (pengumpulan data)
KEGIATAN LITERASI
Peserta didik mengumpulkan informasi yang relevan untuk menjawab pertanyaan yang telah diidentifikasi melalui kegiatan :
·      Mengamati objek/kejadian
Mengamati dengan seksama materi tentang manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial yang sedang dipelajari dalam bentuk gambar ataupun hasil pengamatannya yang sudah dilakukan.
·      Membaca sumber lain selain buku teks
Kegiatan literasi dilakukan dengan mencari dan membaca berbagai referensi dari berbagai sumber guna menambah pengetahuan dan pemahaman tentang materi manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial yang sedang dipelajari.
·      Aktivitas
Menyusun daftar pertanyaan atas hal-hal yang belum dapat dipahami dari kegiatan mengamati dan membaca yang akan diajukan kepada guru berkaitan dengan materi manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial yang sedang dipelajari.

COLLABORATION (KERJA SAMA)
-        Guru kemudian membagi siswa menjadi 2 kelompok, kelompok pertama diberi kartu yang berisi pernyataan dari sebuah kasus dan gambar mengenai manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial dan kartu kedua berisi konsep dari pernyataan tersebut.
-        Guru kemudian membagi kartu secara acak kepada masing-masing siswa.
-        Setelah masing-masing siswa mendapat 1 buah kartu, guru kemudian menjelaskan mekanisme tentang penggunaan kartu berpasangan.
-        Guru kemudian memberikan waktu kepada tiap-tiap siswa untuk mencermati dan memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegangnya.
-        Kemudian setiap siswa diberi waktu untuk mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartu yang dipegangnya.
-        Guru memberikan poin kepada siswa yang menemukan pasangan kartunya dengan cepat dan yang belum menemukan kartu pasangan atau tidak tepat dalam menemukan pasangan kartunya akan diberi hukuman.
Data processing (pengolahan data)







Verification (pembuktian)
COLLABORATION (KERJA SAMA) dan CRITICAL THINGKING (BERPIKIR KRITIK)
-       Peserta didik bersama pasangannya berdiskusi mengenai hasil temuan dari kartu yang sudah didapatkannya.
-       Guru memberikan waktu kepada siswa yang sudah berpasangan untuk mendiskusikan, memikirkan dan mencerna mengenai pernyataan dan konsep yang sudah didapatkan.

CRITICAL THINGKING (BERPIKIR KRITIK)
Peserta didik mendiskusikan dan memverifikasi hasil temuannya dengan data-data atau teori pada buku sumber.
Generalization (menarik kesimpulan)
COMMUNICATION (BERKOMUNIKASI)
-       Setiap siswa yang berpasangan kemudian diminta maju ke depan untuk mengomunikasikan hasil pekerjaannya dari kartu berpasangan yang sudah didapatkan dengan menyampaikan kesimpulan berdasarkan hasil analisis atas temuannya.
-       Guru juga akan memberikan sedikit penjelasan mengenai jawaban baik itu benar maupun salah.
-       Kemudian guru meminta pasangan siswa yang lama dalam menemukan kartu pasangan dan pasangan yang salah dalam memasangkan jawaban dan soal akan diberikan hukuman, yaitu dengan meminta untuk menjelaskan pemahaman mereka mengenai materi manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.
Catatan : Selama pembelajaran mengenai materi manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial berlangsung, guru mengamati sikap siswa dalam pembelajaran yang meliputi sikap : nasionalisme, disiplin, rasa percaya diri, berperilaku jujur, tangguh menghadapi masalah, tanggung jawab, rasa ingin tahu, dan peduli lingkungan.
Kegiatan Penutup (10 menit)
Peserta didik :
-          Beberapa siswa diminta untuk menyimpulkan materi tentang manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial yang sudah dipelajarinya.
Guru :
-          Guru melakukan penilaian terhadap kegiatan yang sudah dilakukan.
-          Guru memberikan kesimpulan terkait materi yang sudah dibahas kepada siswa dan menanyakan kepada siswa apa manfaat yang diperoleh setelah belajar tentang materi tersebut.
-          Guru merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk tugas individu dan menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan selanjutnya.
-          Guru menutup pembelajaran dengan salam.

















I.     Lampiran

Materi Pembelajaran

A.  Individu Dalam Hubungan Dengan Orang Lain

1.      Pengertian Manusia sebagai Makhluk Individu
Menurut Effendi (2010:37) kata individu berasal dari kata in dan devided. Dalam bahasa Inggris in salah satunya mengandung pengertian tidak, sedangkan devide artinya terbagi. Menurut pendapat Dr. A Lysen individu berasal dari bahasa latin individum, yang artinya tak terbagi. Jadi, manusia lahir merupakan makhluk individual yang tidak terbagi atau tidak terpisah dan merupakan suatu kesatuan. Individu bukan berarti manusia sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dibagi-bagi melainkan sebagai kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai manusia perorangan sehingga sering digunakan sebagai sebutan “orang-seorang” atau “manusia perorangan”. Seseorang lahir sebagai suatu sistem yang terdiri atas subsistem jasmani dan subsistem rohani. Dengan kemampuan rohaninya individu dapat berhubungan dan berfikir serta dengan pikirannya itu dapat mengendalikan dan memimpin kesanggupan akal dan kesanggupan budi untuk mengatasi segala masalah dan kenyataan yang dialaminya. Menurut Landgren perbedaan individual menyangkut variasi yang terjadi, baik pada spek fisik dan psikisnya.  Manusia sebagai mahluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan psikis, unsur raga dan jiwa. Seseorang dikatakan sebagai manusia individu manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya. Jika unsur tersebut sudah tidak menyatu lagi maka seseorang tidak disebut sebagai individu.
Dalam perkembangannya, manusia sebagai makhluk individu tidak hanya bermakna kesatuan jiwa dan raga, tetapi akan menjadi pribadi yang khas dengan corak kepribadiannya, termasuk kemampuan kecakapannya. Manusia sebagai makhluk individu adalah manusia sebagai perseorangan yang memiliki sifat sendiri-sendiri. Setiap manusia memiliki perbedaan. Hal itu dikarenakan manusia mempunyai karakteristik dan keunikan tersendiri. Oleh karena itu, manusia sebagai makhluk individu merupakan suatu hal yang unik karena setiap orang berbeda-beda.
Perbedaan individual terjadi dalam berbagai bidang. Garry mengkategorikan perbedaan individual ke dalam bidang-bidang berikut :
-          Perbedaan fisik           , didasarkan pada usia, berat badan, jenis kelamin, kemampuan bertinda, dan sebagainya.
-          Perbedaan sosial termasuk status ekonomi, agama, keluarga, dan suku.
-          Perbedaan kepribadian termasuk watak, motif, minat, dan sikap.
-          Perbedaan intelegensi dan kemampuan dasar.
-          Perbedaan kecakapan atau kepandaian di sekolah.

2.      Ciri Manusia sebagai Makhluk Individu
-          Manusia ingin mempertahankan hidup
-          Manusia ingin memperoleh keturunan 
-          Ingin tahu dan mempunyai pemikiran tersendiri
-          Memiliki hak-hak yang berbeda
-          Memiliki bakat dan kemampuan yang berbeda
-          Menjaga dan mempertahankan harkat dan martabatnya
-          Mengupayakan tentang terpenuhinya hak-hak dasar sebagai manusia
-          Memenuhi kebutuhan dan kepentingan diri demi kesejahteraan hidupnya
-          Manusia Memiliki Keinginan Atau Cita-Cita yang Berbeda Dengan Yang Lain

Contoh manusia sebagai makhluk individu, yaitu setiap manusia memiliki cita-cita atau keinginan yang berbeda-beda dengan yang lainnya. Misalnya, manusia menentukan nantinya ia akan memilih untuk menjadi seorang guru. Dalam hal pemenuhan kebutuhan, setiap manusia juga memiliki perbedaan, dan setiap manusia pasti punya tingkat kebutuhan yang berbeda-beda dengan yang lainnya. Ada manusia yang ingin memenuhi kebutuhan pangannya sehari-hari, ada manusia yang berusaha untuk memenuhi kebutuhannya dalam pendidikan.

3.      Pengertian Manusia sebagai Makhluk Sosial
Manusia sebagai makhluk sosial mempunyai makna bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri. Artinya, manusia di dalam kehidupan bermasyarakat membutuhkan bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, hal ini disebabkan karena manusia mempunyai hasrat, keinginan, dan rasa untuk membentuk dirinya sebagai manusia utuh dan dapat hidup bersama dengan manusia lainnya. Keinginan untuk berkelompok adalah hakikat manusia sebagai makhluk sosial.
Menurut Soekanto (1990:75) bahwa di dalam diri manusia pada dasarnya telah terdapat keinginan yaitu keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lainnya dan keinginan untuk menjadi satu dengan alam sekitarnya. Menurut Aristoteles (384-322 sebelum masehi), seorang ahli fikir yunani menyatakan dalam ajaranya, bahwa manusia adalah Zoon Politicon, artinya pada dasarnya manusia adalah makhluk yang ingin bergaul dan berkumpul dalam masyarakat, karena sifatnya yang selalu ingin bergaul dengan manusia lain, maka manusia disebut sebagai makhluk sosial.
Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, karena beberapa alasan, yaitu:
1.      Manusia tunduk pada aturan atau norma sosial.
2.      Perilaku manusia mengharapkan suatu penilaian dari orang lain.
3.      Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain.
4.      Potensi manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah manusia.

4.      Ciri Manusia sebagai Makhluk Sosial
Manusia sebagai makhluk sosial memiliki naluri untuk saling tolong menolong, setia kawan, dan toleransi serta simpati dan empati terhadap sesamanya. Keadaan inilah yang dapat menjadikan suatu masyarakat menjadi baik, harmonis, rukun, hingga timbullah norma, etika dan kesopan santunan yang dianut oleh masyarakat. Ciri manusia sebagai makhluk sosial yang lainnya, yaitu :
-          Manusia tidak bisa hidup sendiri
-          Manusia selalu membutuhkan bantuan orang lain
-          Manusia saling berinteraksi satu sama lainnya
-          Manusia bertindak dan bersikap sesuai dengan nilai dan norma dalam masyarakat
-          Manusia bermusyawarah dan gotong royong dengan masyarakat lain

Contoh manusia sebagai makhluk sosial, yaitu saat ada tetangga yang sakit maka kita sebagai tetangga baiknya menjenguk dan menunjukkan empati kita kepadanya, selain itu, saat di kampung diadakan kerja bakti maka kita sebagai warga kampung juga harus ikut serta dan membantu dalam kegiatan kerja bakti.


Media Kartu Berpasangan

NO
KONSEP
SOAL





1.





Manusia Membutuhkan Bantuan Orang Lain

Seorang petani dan seorang nelayan tiap harinya melakukan pekerjaan yang berbeda. Setelah mereka selesai bekerja, mereka akan mendapatkan hasil kerja mereka masing-masing. Nelayan mendapatkan hewan laut yang dapat dimakan sebagai lauk dan petani mendapatkan beras yang dapat dimakan sebagai makanan pokok. Namun, tidak mungkin bila seorang petani hanya memakan beras yang telah ia olah menjadi nasi saja, dan tidak mungkin pula seorang nelayan hanya memakan ikan saja. Pada dasarnya nelayan dan petani pasti membutuhkan beras ataupun lauk untuk dijadikan makanan yang saling melengkapi. Hal tersebut merupakan salah satu ciri manusia sebagai makhluk sosial, yaitu...





2.





Makhluk Individu
Bayu sebagai seorang muslim selalu mengerjakan ibadah salat 5 waktu di masjid dan selalu mengaji atau tadarus Al-Quran. Bayu menyadari kewajibannya sebagai seorang muslim untuk taat beribadah kepada Tuhannya. Selain menjalankan kewajibannya untuk taat kepada Tuhannya, Bayu melakukan ibadah-ibadah tersebut juga dilakukan untuk mendapatkan ketenangan hati, jiwa, dan pikirannya agar selalu senantiasa ingat kepada Tuhannya. Hal tersebut menunjukkan bahwa Bayu sebagai manusia menjalankan tugasnya sebagai makhluk...





3.





Zoon Politicon
Manusia merupakan makhluk yang ingin bergaul dan berkumpul dengan masyarakat, karena sifatnya yang selalu ingin bergaul dengan manusia lain, maka manusia disebut sebagai makhluk sosial. Manusia tidak bisa hidup sendirian. Manusia memerlukan manusia lain. Secara kodrati, manusia adalah makhluk yang memiliki kecenderungan untuk hidup dalam kebersamaan dengan yang lain untuk belajar hidup sebagai manusia. Dari pengertian tersebut, ada istilah yang dinyatakan dari seorang ahli yang berasal dari Yunani, bahwa manusia merupakan...



4.







Manusia Tidak Bisa Hidup Sendiri

Seorang perempuan tidak akan pernah dikatakan menjadi seorang ibu apabila tidak ada seorang lelaki atau pria yang menjadi pendamping hidupnya dan apabila belum memiliki seorang anak. Sehingga seorang perempuan jika ingin menjadi seorang istri dan ibu haruslah memiliki seorang pasangan terlebih dahulu. Hal tersebut menunjukkan bahwa ciri manusia sebagai makhluk sosial, yaitu...




5.




Manusia Memiliki Bakat dan Kemampuan yang Berbeda

Ada 2 anak yang bernama Ina dan Desi. Ina dan desi adalah dua anak yang berbeda dalam hal prestasi. Ina di sekolah selalu mendapat nilai bagus pada mata pelajaran menggambar dan mendapat nilai kurang bagus pada mata pelajaran matematika. Sedangkan Desi, ia selalu mendapat nilai bagus pada mata pelajaran matematika dan mendapat nilai kurang bagus pada mata pelajaran menggambar. Dari kasus kedua anak tersebut, menunjukkan bahwa manusia memiliki ciri sebagai makhluk individu, yaitu...






6.





Makhluk Sosial

Ibu Tina tinggal di daerah kampung Nayu. Ibu Tina berperan aktif dalam setiap kegiatan yang diadakan di kampungnya, seperti mengikuti arisan ibu-ibu PKK, ikut kerja bakti. Ibu Tina juga selalu menaati aturan yang ada di kampungnya, seperti tidak membuang sampah sembarangan, membayar iuran arisan tepat waktu. Bahkan saat ada tetangganya yang sedang sakit, ibu Tina tak lupa untuk menjenguk tetangganya yang sakit itu dan membawakan beberapa makanan untuknya sebagai bentuk empati kepada tetangganya itu. Dari kasus Ibu Tina tersebut menunjukkan bahwa ibu Tina sebagai manusia melakukan perannya sebagai makhluk...







7.






Manusia Saling Bergotong Royong







8.




Manusia Memiliki Cita-Cita yang Berbeda Dengan Yang Lain










9.











Manusia Saling Berinteraksi








10.





Manusia Memenuhi Kebutuhan dan Kepentingannya Demi Kesejahteraan Hidupnya























Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran

Sekolah                                   : SMA Negeri 105 Jakarta
Mata Pelajaran            : Sosiologi
Kelas/Semester                        : XI/2
Materi Pokok                          : Faktor yang Mendasari Terjadinya Interaksi Sosial
Waktu                                     : 1 x 45 Menit (1 JP)

A.    Kompetensi Inti (KI)
KI 1 :
Menghayati dan mengamalkan  ajaran agama yang dianutnya.
KI 2 :
Menghyati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong  royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsive, dan pro-aktif dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI 3 :
Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, procedural, dan metakognitif berdasarkan ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,  kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI 4 :
Mengolah, menalar, dan menyaji ranah konkret terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
B.     Kompetensi Dasar (KD) dan Indikator Pencapaian Kompetensi

Kompetensi Dasar
Indikator
3.2  Mengenali dan mengidentifikasi realitas individu, kelompok, dan hubungan sosial di masyarakat

4.2 Mengolah realitas individu, kelompok, dan hubungan social sehingga mandiri dalam memposisikan diri dalam pergaulan sosial di masyarakat

·         Siswa mampu menguraikan faktor-faktor yang menjadi pendorong terjadinya Interaksi Sosial

·         Menentukan faktor apa saja yang mendasari alasan seseorang berhubungan dengan sesamanya.

C.    Tujuan Pembelajaran
Melalui proses mencari informasi, menanya, mengasosiasi, mengomunikasikan dan berdiskusi peserta didik dapat:
a.       Kognitif
1.      Menguraikan faktor-faktor yang menjadi pendorong terjadinya Interaksi Sosial
b.      Psikomotorik
1.      Menentukan faktor apa saja yang mendasari alasan seseorang berhubungan dengan sesamanya.


D.    Materi Pembelajaran
1.      Faktor yang mendasari terjadinya interaksi sosial.
·         Imitasi
·         Sugesti
·         Identifikasi
·         Simpati
·         Empati
·         Motivasi
·         Sikap kepada orang lain

E.     Metode pembelajaran
1.      Pendekatan           :  Scientific
2.      Model                    :  Konteksual Learning

F.     Media pembelajaran
1.      Media                    :  Power Point, Lembar Kerja Siswa, Buku, Gambar.
2.      Alat dan Bahan     :  Laptop, LCD, proyektor, papan tulis, spidol.

G.    Sumber pembelajaran
·         Pengalaman guru dan siswa

H.    Langkah-langkah kegiatan pembelajaran

Kegiatan
Deskripsi
Alokasi
Waktu
 Pendahuluan
1.      Melakukan pembukaan dengan salam pembuka, memanjatkan syukur kepada Tuhan YME dan berdoa  untuk  memulai pembelajaran
2.      Memeriksa kehadiran peserta didik sebagai sikap disiplin
3.      Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik  dalam mengawali kegiatan pembelajaran.
4.      Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.
5.      Memberitahukan tentang maeri, kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, dan KKM pada pertemuan yang  berlangsung
10 menit
Inti
1.      Mengamati
·         Guru memperlihatkan sebuah gambar mengenai Interaksi sosial yang ada di masyarakat kepada siswa melalui power point.
2.      Menanya
·         Guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin pertanyaan yang berkaitan dengan gambar yang disajikan dan akan dijawab melalui kegiatan belajar.
·         Guru  memberikan pertanyaan untuk siswa menganalisis mengenai gambar Interaksi Sosial yang di tayangkan
a.       Apa saja factor yang mendasari terjadinya Interaksi tersebut?
b.      Sebutkan apa saja contoh dalam kehidupan sehari-hari yang mencerminkan faktor yang mendasari terjadinya Interaksi sosial
3.      Kerjasama dan Berpikir Kritik
·         Guru mengarahkan siswa untuk menganalisis dengan teman sebangku mengenai pertanyaan yang di ajukan.
·         Guru memberikan kebebasan kepada siswa untuk mencari sumber belajar dari buku atau internet untuk menggali infromasi mengenai masalah yang diberikan.
·         Mengolah informasi dari materi Faktor yang mendasari Interaksi social yang sudah dikumpulkan dari hasil kegiatan/pertemuan sebelumnya mau pun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi yang sedang berlangsung dengan bantuan pertanyaan-pertanyaan pada lembar kerja.
4.      Mengasosiasikan
·         Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memproses informasi yang telah dikumpulkan dan saling bertukar pikiran antar teman sebangku.
5.      Mengkomunikasikan
·         Menyampaikan hasil diskusi  tentang materi factor yang mendasari Interaksi sosial berupa kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya untuk mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan sopan.
·         Mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara klasikal tentang materi factor yang mendasari Interaksi sosial
1 x 25 menit
Penutup
1.      Membuat resume (CREATIVITY) dengan bimbingan guru tentang point-point penting yang muncul dalam kegiatan pembelajaran tentang materi factor yang mendasari Interaksi sosial yang baru dilakukan
2.      Guru melakukan penilaian dan atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan dengan penghargaan peringkat.
3.      Guru memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran.
4.      Guru merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk tugas kelompok dan menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
5.      Guru menutup pelajaran dengan mengucapkan salam.
10 menit

I.       Lampiran
1.      Peta konsep

2.      Penjelasan Materi

1.       Faktor Imitasi
Gabriel Tarde beranggapan bahwa seluruh kehidupan sosial sebenarnya berdasarkan faktor imitasi. Walaupun pendapat ini ternyata berat sebelah, peranan imitasi dalam interaksi sosial itu tidak kecil.
Peranan imitasi dalam interaksi social juga mempunyai segi-segi yang negatif. Yaitu, apabila hal-hal yang diimitasi itu mungkinlah salah atau secara moral dan yuridis harus ditolak. Apabila contoh demikian diimitasi orang banyak, proses imitasi itu dapat menimbulkan terjadinya kesalahan kolektif yang meliputi jumlah serba besar.
Selain itu, adanya proses imitasi dalam interaksi sosial dapat menimbulkan kebiasaan di mana orang mengimitasi sesuatu tanpa kritik, seperti yang berlangsung juga pada faktor sugesti. Dengan kata lain, adanya peranan imitasi dalam interaksi sosial dapat memajukan gejala-gejala kebiasaan malas berpikir kritis pada individu manusia yang mendangkalkan kehidupannya.
Imitasi bukan merupakan dasar pokok dari semua interaksi sosial seperti yang diuraikan oleh Gabriel tarde, melainkan merupakan suatu segi dari proses interaksi sosial, yang menerangkan mengapa dan bagaimana dapat terjadi keseragaman dalam pandangan dan tingkah laku di antara orang banyak.
Misalnya bagaimana seorang anak belajar berbicara. Mula-mula ia mengimitasi dirinya sendiri kemudian ia mengimitasi kata-kata orang lain. Ia mengartikan kata-kata juga karena mendengarnya dan mengimitasi penggunaannya dari orang lain. Lebih jauh, tidak hanya berbicara yang merupakan alat komunikasi yang terpenting, tetapi juga cara-cara lainnya untuk menyatakan dirinya dipelajarinya melalui proses imitasi. Misalnya, tingkah laku tertentu, cara memberikan hormat, cara menyatakan terima kasih, cara-cara memberikan isyarat tanpa bicara, dan lain-lain. Selain itu, pada lapangan pendidikan dan perkembangan kepribadian individu, imitasi mempunyai peranannya, sebab mengikuti suatu contoh yang baik itu dapat merangsang perkembangan watak seseorang. Imitasi dapat mendorong individu atau kelompok untuk melaksanakan perbuatanperbuatan yang baik.
Namun demikian, harus diakui dalam interaksi social peranan imitasi tidaklah kecil. Terbukti, misalnya, kita sering melihat pada anak-anak yang sedang belajar bahasa, seakan-akan mereka mengimitasi dirinya sendiri, mengulang-ulangi bunyi kata-kata, melatih fungsi lidah dan mulut untuk berbicara, kemudian mengimitasi orang lain. memang suatu hal yang sukar orang belajar bahasa tanpa mengimitasi orang lain. (Mahmudah, 2010)

2.       Faktor Sugesti
Yang dimaksud sugesti disini ialah pengaruh psikis, baik yang datang dari dirinya sendiri maupun dari rang lain yang pada umumnya diterima tanpa adanya daya kritik. Gerungan mendefinisikan sugesti sebagai proses dimana seorang individu menerima suatu cara penglihatan atau pedoman-pedoman tingkah laku orang lain tanpa kritik terlebih dahulu (Mahmudah, 2010),

Menurut Ahmadi, sugesti dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
(a)     Auto Sugesti, yaitu sugesti terhadap diri sendiri yang datang dari dalam individu yang bersangkutan, dan
(b)     Hetero-sugesti, yaitu sugesti yang datang dari orang lain. Dalam kehidupan social, peranan hetero-sugesti lebih dominan disbanding peranan auto-sugesti (Mahmudah, 2010)
Arti sugesti dan imitasi dalam hubungannya dengan interaksi sosial hamper sama. Bedanya adalah bahwa dalam imitasi itu orang yang satu mengikuti sesuatu di luar dirinya; sedangkan pada sugesti, seseorang memberikan pandangan atau sikap dari dirinya yang lalu diterima oleh orang lain di luarnya. Sugesti dalam ilmu jiwa sosial dapat dirumuskan sebagai suatu proses di mana seorang individu menerima suatu cara penglihatan atau pedoman-pedoman tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu.
Secara garis besar, terdapat beberapa keadaan tertentu serta syarat-syarat yang memudahkan sugesti terjadi, yaitu:
a.       Sugesti karena hambatan berpikir
Dalam proses sugesti terjadi gejala bahwa orang yang dikenainya mengambil alih pandangan-pandangan dari orang lain tanpa memberinya pertimbangn-pertimbangan kritik terlebih dahulu. Orang yang terkena sugesti itu menelan apa saja yang dianjurkan orang lain. Hal ini tentu lebih mudah terjadi apabila ia – ketika terkena sugesti berada dalam keadaan ketika cara-cara berpikir kritis itu sudah agak terkendala. Hal ini juga dapat terjadi – misalnya – apabila orang itu sudah lelah berpikir, tetapi juga apabila proses berpikir secara itu dikurangi dayanya karena sedang mangalami rangsangan-rangsangan emosional. Misalnya: Rapat-rapat Partai Nazi atau rapat-rapat raksasa seringkali diadakan pada malam hari ketika orang sudah cape dari pekerjaannya. Selanjutnya mereka pun senantiasa memasukkan dalam acara rapat-rapat itu hal-hal yang menarik perhatian, merangsang emosi dan kekaguman sehingga mudah terjadi sugesti kepada orang banyak itu.
b.       Sugesti karena keadaan pikiran terpecah-pecah (disosiasi)
Selain dari keadaan ketika pikiran kita dihambat karean kelelahan atau karena rangsangan emosional, sugesti itu pun mudah terjadi pada diri seseorang apabila ia mengalami disosiasi dalam pikirannya, yaitu apabila pemikiran orang itu mengalami keadaan terpecah-belah. Hal ini dapat terjadi – misalnya – apabila orang yangbersangkutan menjadi bingung karena ia dihadapkan pada kesulitan-kesulitan hidup yang terlalu kompleks bagi daya penampungannya. Apabila orang menjadi bingung, maka ia lebih mudah terkena sugesti orang lain yang mengetahui jalan keluar dari kesulitan-kesulitan yang dihadapinya itu. Keadaan semacam ini dapat pula menerangkan mengapa dalam zaman modern ini orang-orang yang biasanya berobat kepada dokter juga mendatangi dukun untuk memperoleh sugestinya yang dapat membantu orang yang bersangkutan mengatasi kesulitan-kesulitan jiwanya.
c.        Sugesti karena otoritas atau prestise
Dalam hal ini, orang cenderung menerima pandangan-pandangan atau sikap-sikap tertentu apabila pandangan atau sikap tersebut dimiliki oleh para ahli dalam bidangnya sehingga dianggap otoritas pada bidang tersebut atau memiliki prestise sosial yang tinggi.
d.       Sugesti karena mayoritas
Dalam hal ini, orang lebih cenderung akan menerima suatu pandangan atau ucapan apabila ucapan itu didukung oleh mayoritas, oleh sebagian besar dari golongannya, kelompknya atau masyarakatnya.
e.        Sugesti karena ”will to believe
Terdapat pendapat bahwa sugesti justru membuat sadar akan adanya sikap-sikap dan pandangn-pandangan tertentu pada orang-orang. Dengan demikian yang terjadi dalam sugesti itu adalah diterimanya suatu sikap-pandangan tertentu karena sikap-pandangan itu sebenarnya sudah tersapat padanya tetapi dalam kedaan terpendam. Dalam hal ini, isi sugesti akan diterima tanpa pertimbangan lebih lanjut karena pada diri pribadi orang yang bersangkutan sudah terdapat suatu kesediaan untuk lebih sadar dan yakin akan hal-hal disugesti itu yang sebenarnya sudah terdapat padanya.

3.       Faktor Identifikasi
Identifikasi dalam psikologi berarti dorongan untuk menjadi identic (sama) dengan orang lain, baik secara fisik maupun non-fisik. Proses identifikasi pada kenyataannya seringkali, untuk pertama kalinya berlangsung secara tidak sadar (secara dengan sendirinya). Kedua, bersifat irasional, yaitu berdasarkan perasaan-perasaan aau kecenderungan-kecenderungan dirinya yang tidak diperhitungkan secara rasional. Ketiga, identifikasi berguna untuk melengkapi system norma-norma, cita-cita dan pedoman-pedoman tingkah laku orang yang mengidentifikasi itu. Hal ini merupakan efek lanjut dari akivitas identifikasi yang dilakukan seseorang (Mahmudah, 2010)
Identifikasi adalah sebuah istilah dari psikologi Sigmund Freud. Istilah identifikasi timbul dalam uraian Freud mengenai cara-cara seorang anak belajar norma-norma sosial dari orang tuanya. Dalam garis besarnya, anak itu belajar menyadari bahwa dalam kehidupan terdapat norma-norma dan peraturan-peraturan yang sebaiknya dipenuhi dan ia pun mempelajarinya yaitu dengan dua cara utama.
Pertama ia mempelajarinya karena didikan orangtuanya yang menghargai tingkah laku wajar yang memenuhi cita-cita tertentu dan menghukum tingkah laku yang melanggar norma-normanya. Lambat laun anak itu memperoleh pengetahuan mengenai apa yang disebut perbuatan yang baik dan apa yang disebut perbuatan yang tidak baik melalui didikan dari orangtuanya.
Identifikasi dalam psikologi berarti dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan seorang lain. Kecenderungan ini bersifat tidak sadar bagi anak dan tidak hanya merupakan kecenderungan untuk menjadi seperti seseorang secara lahiriah saja, tetapi justru secara batin. Artinya, anak itu secara tidak sadar mengambil alih sikap-sikap orangtua yang diidentifikasinya yang dapat ia pahami norma-norma dan pedoman-pedoman tingkah lakunya sejauh kemampuan yang ada pada anak itu.
Sebenarnya, manusia ketika ia masih kekurangan akan norma-norma, sikapsikap, cita-cita, atau pedoman-pedoman tingkah laku dalam bermacam-macam situasi dalam kehidupannya, akan melakukan identifikasi kepada orang-orang yang dianggapnya tokoh pada lapangan kehidupan tempat ia masih kekurangan pegangan. Demikianlah, manusia itu terus-menerus melengkapi sistem norma dan cita-citanya itu, terutama dalam suatu masyarakat yang berubah-ubah dan yang situasi-situasi kehidupannya serba ragam.
Ikatan yang terjadi antara orang yang mengidentifikasi dan orang tempat identifikasi merupakan ikatan batin yang lebih mendalam daripada ikatan antara orang yang saling mengimitasi tingkah lakunya. Di samping itu, imitasi dapat berlangsung antara orang-orang yang tidak saling kenal, sedangkan orang tempat kita mengidentifikasi itu dinilai terlebih dahulu dengan cukup teliti (dengan perasaan) sebelum kita mengidentifikasi diri dengan dia, yang bukan merupakan proses rasional dan sadar, melainkan irasional dan berlangsung di bawah taraf kesadaran kita.

4.       Simpati
Simpati adalah perasaan tertariknya orang yang satu dengan orang yang lain. Simpati muncul dari dalam diri seorang individu tidak atas dasar rasional, melainkan berdasarkan penilaian perasaaan seperti juga pada proses identifikasi. Seorang individu tiba-tiba merasa dirinya tertarik kepada orang lain seakan-akan dengan sendirinya, dan tertariknya itu bukan karena salah satu ciri tertenu, melainkan karena keseluruhan cara-cara bertingkah laku menarik baginya (Mahmudah, 2010).
Simpati dapat dirumuskan sebagai perasaan tertariknya seseorang terhadap orang lain. Simpati timbul tidak atas dasar logis rasional, tetapi berdasarkan penilaian perasaan sebagaimana proses identifikasi. Akan tetapi, berbeda dengan identifikasi, timbulnua simpati itu merupakan proses yang sadar bagi manusia yang merasa simpati terhadap orang lain. Peranan simpati cukup nyata dalam hubungan persahabatan antara dua orang atau lebih. Patut ditambahkan bahwa simpati dapat pula berkembang perlahan-lahan di samping simpati yang timbul dengan tiba-tiba.
Gejala identifikasi dan simpati itu sebenarnya sudah berdekatan. Akan tetapi, dalam hal simpati yang timbal-balik itu, akan dihasilkan suatu hubungan kerja sama di mana seseorang ingin lebih mengerti orang lain sedemikian jauhnya sehingga ia dapat merasa berpikir dan bertingkah laku seakan-akan ia adalah orang lain itu. Sedangkan dalam hal identifikasi terdapat suatu hubungan di mana yang satu menghormati dan menjunjung tinggi yang lain, dan ingin belajar daripadanya karena yang lain itu dianggapnya sebagai ideal. Jadi, pada simpati, dorongan utama adalah ingin mengerti dan ingin bekerja sama dengan orang lain, sedangkan pada identifikasi dorongan utamanya adalah ingin mengikuti jejaknya, ingin mencontoh ingin belajar dari orang lain yang dianggapnya sebagai ideal.
Hubungan simpati menghendaki hubungan kerja sama antara dua atau lebih orang yang setaraf. Hubungan identifikasi hanya menghendaki bahwa yang satu ingin menjadi seperti yang lain dalam sifat-sifat yang dikaguminya. Simpati bermaksud kerja sama, identifikasi bermaksud belajar.

5.       Empati
Faktor selanjutnya yang mempengaruhi interaksi sosial adalah empati. Empati merupakan faktor yang begitu mendalam. Empati adalah perasaan yang menempatkan diri kita seolah- olah berada di posisi seseorang atau kelompok tertentu yang sedang mengalami suatu perasaan tertentu. Pengertian dari empati merupakan keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasikan dirinya dalam suatu keadaan perasaan ataupun pikiran yang sama persis dengan orang atau kelompok lain. Perasaan yang dirasakan dalam sikap empati ini begitu mendalam. Sebagai contoh adalah ketika kita mendapati korban kecelakaan ataupun kebakaran, maka orang- orang yang menjadi korban pasti akan merasakan kesedihan yang begitu dalam. Nah, perasaan empati disini adalah kita ikut merasakan keadaan tersebut dengan seolah- olah kita menempatkan diri menjadi para korban tersebut. Dengan demikian kita akan memiliki sudut pandang yang sama dan perasaan yang sama seperti para korban. Hal ini yang akan membawa kita ke dalam perasaan yang mendalam dan kita akan lebih memahami perasaan dari pihak- pihak yang memiliki masalah. Empati biasanya berlaku pada hal- hal yang bersifat kesedihan.

6.       Motivasi
Motivasi merupakan faktor selanjutnya yang mempengaruhi interaksi sosial. Motivasi sering juga sebut sebagai semangat atau dorongan. Ya memang benar. Motivasi merupakan dorongan atau semangat yang diberikan kepada individu ke individu atau kelompok ke kelompok, maupun antara individu dengan kelompok. Tujuan motivasi adalah agar supaya orang yang diberikan motivasi menurut pada orang yang memberikan motivasi untuk melakukan apa yang dimotivasikan. Sebagai contoh adalah seorang ayah yang memberikan motivasi kepada anaknya supaya rajin belajar agar nantinya menjadi juara kelas. Nah hal ini merupakan contoh motivasi antara individu dengan individu. Selain itu motivasi juga bisa diberikan kepada individu pada kelompok, kelompok pada individu atau kelompok pada kelompok. Motivasi ini biasanya bersifat positif atau berlaku pada hal- hal yang baik.

7.       Sikap kepada orang lain
Faktor tambahan yang mempengaruhi interaksi sosial adalah sikap kepada orang lain. Sikap positif kepada orang lain akan sangat berpengaruh terhadap sikap orang lain kepada kita. Jadi apabila kita bersikap baik, maka respon yang akan kita dapatkan juga baik. Sebaliknya apabila kita bersikap buruk maka sikap orang kepada kita juga buruk. Semua ini merupakan kekuatan timbal balik.

3.      Media
Media Pembelajaran “Mix and Match”
1.        Rounded Rectangle: Aldo ikut merasakan apa yang dirasakan Bayan ketika sahabatnya itu kehilangan seseorang yang disayanginya. Perasaan yang cukup mendalam dan Aldo merasa seolah-olah Ia sedang mengalaminya sendiri. (empati)

Rounded Rectangle: Seseorang memberikan suatu sikap atau pandangan terhadap suatu permasalahan kepada orang lain dan diterima tanpa kritik lebih dahulu. (sugesti)

2.      

3.       Rounded Rectangle: Rino yang masih berumur empat tahun sering kali memperhatikan orangtuanya beribadah lima kali dalam sehari. Aktivias kedua orangtua Rino secara tidak langsung mendorong Rino untuk ikut melakukannya juga. (identifikasi non-fisik/norma)

4.      Rounded Rectangle: Andi memiliki dorongan dari dalam dirinya untuk berpenampilan mirip seperti Aktor idolanya biasanya berawal secara tidak sadar karena idolanya dianggap sebagai sosok yang ideal. (identifikasi fisik)

5.       Rounded Rectangle: Eldo meniru cara-cara atau tingkah laku tertentu yang ada dalam diri sang Ayah yang ia proses melalui pengamatan yang kemudian mulai ia praktekkan. (imitasi)
6.       Rounded Rectangle: Perasaan  tertarik yang muncul baik secara tiba-tiba maupun perlahan dan bukan karena suatu ciri tertentu melainkan keseluruhan cara bertingkah laku yang menarik. Biasanya menimbulkan kerjasama dan keinginan untuk mengerti lebih jauh. (simpati)

7.       Rounded Rectangle: Persahabatan dua orang atau lebih biasanya bermula ketika salah seorang secara sadar memiliki simpati dan berkeinginan untuk bersama-sama dengan orang lain itu sehingga ia merasa berpikir dan beringkah laku seakan-akan ia adalah orang lain itu. (simpati)

8.       Rounded Rectangle: Suatu keadaan mental dimana membuat seseorang merasa atau bahkan mengidentifikasikan dirinya ke dalam suatu keadaan atau perasaan yang sama persis dengan yang dialami orang atau kelompok lain. (empati)

9.       Rounded Rectangle: Dorongan atau semangat yang diberikan baik antar individu, individu dengan kelompok, maupun antar kelompok dengan tujuan untuk memotivasi orang lain dalam melakukan sesuatu.
Rounded Rectangle: Sikap kepada orang lain mempengaruhi sikap orang lain itu terhadap diri kita. Jika kita berbuat baik atau melakukan suatu hal yang positif biasanya orang lain akan terdorong untuk memperlakukan kita dengan baik pula. 

10.   



















RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Sekolah                                     : SMA Negeri 5 Surakarta
Mata Pelajaran                          : Sosiologi
Kelas/Semester                          : X/ Genap
Materi Pokok                            : Hubungan antar Individu dalam Pembentukan Kelompok Sosial
Alokasi Waktu                          : 2 x 45 menit

A.    Kompetensi Inti
·         KI-1 dan KI-2: Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, santun, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), bertanggung jawab, responsif, dan pro-aktif dalam berinteraksi secara efektif sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan kawasan internasional”.
·         KI 3: Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
·         KI4: Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan

B.     Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator
KD 3.2 Mengenali dan Mengidentifikasikan Realitas Individu, Kelompok, dan Hubungan di Masyarakat

3.2.1 Siswa mampu menyimpulkan pengertian kelompok sosial
3.2.2  Siswa mampu menyatakan syarat terbentuknya kelompok sosial

KD 4.2 Mengolah realitas individu, kelompok dan hubungan sosial sehingga mandiri dalam memposisikan diri dalam pergaulan sosial di masyarakat
4.2.1 Menyusun laporan hasil observasi tentang  Hubungan antar Individu dalam Pembentukan Kelompok Sosial



C.     Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti proses pembelajaran, peserta didik dapat:
1.      Siswa mampu menyimpulkan pengertian kelompok sosial
2.      Siswa mampu menyatakan syarat terbentuknya kelompok sosial
D.    Materi pembelajaran
Hubungan antar Individu dalam Pembentukan Kelompok
·         Pengertian Kelompok Sosial
·         Syarat Terbentuknya Kelompok Sosial
Fakta
·         Hubungan antar individu dalam pembentukan kelompok sosial
Konsep
·         Definisi Kelompok Sosial
Prinsip
·         Syarat Terbentuknya Kelompok Sosial
Prosedur
·         Keterkaitan hubungan antar individu dengan pembentukan kelompok sosial (syarat terbentuknya kelompok sosial) dalam kehidupan sehari-hari
E.     Metode Pembelajaran
1.      Pendekatan: saintifik
2.      Model Pembelajaran : Discovery learning
3.      Metode Pembelajaran : ceramah, diskusi, studi literatur, penugasan
F.      Media Pembelajaran
Media
1.      Power point
2.      Cetak: buku, modul.
3.      Manusia dalam lingkungan: guru, pustakawan.
Alat /Bahan
1.      Laptop
2.      Powerpoint, lcd
3.      Proyeksi visual diam: gambar
G.    Sumber Belajar
1.      Wulansari, Dewi. 2009. Sosiologi Konsep dan Teori. Bandung : PT Refiks Aditama.
2.      Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
3.      Hendry Lukmana, Belva dan Bambang Wiratsasongko. 2017. Hubungan antara Dukungan Kelompok Sosial Dengan Perilaku Pemilih Pada Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Sukoharjo Tahun 2015. Jurnal Sosiologi DILEMA, Vol. 32, No. 1.
4.      Pengalaman peserta didik dan guru
H.    Langkah-langkah Pembelajaran

Pertemuan ke -3 (2x45 menit)
Kegiatan pendahuluan (10 menit)
Guru
Orientasi
1.      Guru memberi salam, dan mengajak siswa berdoa
2.      Bernyanyi Indonesia Raya
3.      Guru menanyakan kabar dan mengecek kehadiran siswa
4.      Guru menanyakan apakah siswa sudah siap untuk memulai pembelajaran
5.      Guru menjelaskan KD Tujuan dari pembelajaran
Apersepsi
1.      Memberikat pertanyaan mengenai apakah pernah mereka maelihat kelompok sosial, dan apa saja kelompok sosial yang pernah mereka lihat di kehidupan sehari hari.
Motivasi
1.      Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari Hubungan antar Individu dalam Pembentukan Kelompok dalam kehidupan sehari-hari
2.      Apabila materi tema/projek ini kerjakan  dengan baik dan sungguh-sungguh ini dikuasai dengan baik, maka peserta didik diharapkan dapat menjelaskan tentang materi : Hubungan antar Individu dalam Pembentukan Kelompok Sosial
3.      Menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan yang  berlangsung
Pemberian acuan
1.      Guru memberitahukan  materi pelajaran yang akan dibahas pada pertemuan ini, yaitu Hubungan antar Individu dalam Pembentukan Kelompok Sosial
2.      Guru menjelaskan mengenai KD dan tujuan dari proses pembelajaran
Kegiatan inti (60 menit)

Sintak Model Pembelajaran
Kegiatan Pembelajaran

Stimulation
(stimullasi/
pemberian
rangsangan)
Kegiatan Literasi

Peserta didik diberi motivasi atau rangsangan untuk memusatkan perhatian pada topik materi Hubungan antar Individu dalam Pembentukan Kelompok Sosial dengan cara :
Melihat :
Menayangkan gambar tentang kelompok sosial di slide power point.
Mengamati :
Guru mengarahkan siswa untuk mengamati dua gambar yang berkaitan dengan Hubungan antar Individu dalam Pembentukan Kelompok Sosial, yang ada di slide power point.
Membaca:
Kegiatan literasi ini dilakukan di rumah dan di sekolah dengan membaca materi dari buku paket atau buku-buku penunjang lain, dari internet/materi yang berhubungan dengan Hubungan antar Individu dalam Pembentukan Kelompok Sosial
Menulis :
Menulis resume dari hasil pengamatan terhadap gambar dan bacaan terkait pengertian kelompok sosial dan syarat terbentuknya kelompok sosial
Mendengar:
Pemberian materi mengenai pengertian kelompok sosial dan syarat terbentuknya kelompok sosial oleh guru
Menyimak :
Penjelasan pengantar kegiatan secara garis besar/global tentang materi pelajaran mengenai materi : kelompok sosial dan syarat terbentuknya


Problem
statemen
(pertanyaan/
identifikasi
masalah)

Berpikir Kritik
- Guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin pertanyaan yang berkaitan dengan gambar yang disajikan dan akan dijawab melalui kegiatan belajar,
- Mengajukan pertanyaan : guru mempersilahkan siswa mengajukan pertanyaan yang belum ia pahami terkait materi pelajarah hari itu.


Data
collection
(pengumpulan
data)
Kegiatan Literasi

Peserta didik mengumpulkan informasi yang relevan untuk menjawab pertanyan yang telah diidentifikasi melalui kegiatan:

Mengamati obyek/kejadian :
Mengamati dengan seksama materi pengertian kelompok sosial dan syarat terbentuknya kelompok sosial yang sedang dipelajari

Membaca sumber lain selain buku teks :
Secara disiplin melakukan kegiatan literasi dengan mencari dan membaca berbagai referensi dari berbagai sumber guna menambah pengetahuan dan pemahaman tentang materi pengertian kelompok sosial dan syarat terbentuknya kelompok sosial yang sedang dipelajari.
Aktivitas
Menyusun daftar pertanyaan atas hal-hal yang belum dapat dipahami dari kegiatan mengmati dan membaca yang akan diajukan kepada guru berkaitan dengan materi pengertian kelompok sosial dan syarat terbentuknya kelompok sosial yang sedang dipelajari.

Collaboration (Kerja Sama)
1.      Guru membagi siswa kedalam 3 kelompok dengan cara berhitung 1-4, lalu siswa dipersilahkan untuk berkumpul dengan kelompoknya masing-masing.
2.      Setelah semua siswa berkumpul dengan kelmpoknya, guru meminta masing-masing kelompok untuk mencari syarat terbentuknya kelompok sosial secara umum dengan melihat kelompok-kelompok sosial yang pernah mereka temui.

Data
processing
(pengolahan
Data)


Verification (pembuktian)
Collaboration (Kerjasama) dan Critical Thinking (Berpikir Kritik)

Peserta didik bersama kelompok masing-masing mendiskusikan tugas yang telah diberikan oleh guru.


Critical Thinking (Berpikir Kritik)

Peserta didik mendiskusikan hasil pengamatannya dan memverifikasi hasil pengamatannya dengan data-data atau teori pada buku sumber melalui kegiatan dan juga peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas hasil diskusi.



Generalization (menarik kesimpulan)
Communication (Berkomunikasi)
1.      Guru meminta setiap kelompok, dimulai dari kelompok satu, menyampaikan hasil diskusi kelompok masing-masing.
2.      Setelah selesai mengkomunikasikan hasil diskusinya, setiap kelompok akan membuka sesi tanya jawab. Bagi anak yang bertanya ataupun menambahi akan diberi nilai tambahan oleh guru.

Creativity (Kreativitas)
Menyimpulkan tentang point-point penting yang muncul dalam kegiatan pembelajaran yang baru dilakukan berupa :
Laporan hasil diskusi yang ditulis tangan dan dikumpulkan kepada guru
Catatan : Selama pembelajaran pengertian kelompok sosial dan syarat terbentuknya kelompok sosial berlangsung, guru mengamati sikap siswa dalam pembelajaran yang meliputi sikap: nasionalisme,  disiplin, rasa percaya diri, berperilaku jujur, tangguh menghadapi masalah tanggungjawab, rasa ingin tahu, peduli lingkungan
Kegiatan Penutup (15 menit)
Peserta didik :
Setelah semua kelompok selesai mengkomunikasikan hasil diskusinya dan menulis laporan hasil diskusi, guru memberi kesempatan kepada satu yang ingin menyampaikan kesimpulan tentang pengertian kelompok sosial dan syarat terbentuknya kelompok sosial.

Guru :
·         Setelah salah satu siswa memberi kesimpulan, barulah kemudian guru memberi kesimpulan terkait materi yang sudah dibahas dan menunjukkan slide power point tentang teori struktural fungsional, konflik, dan interaksionisme simbolik, lalu menanyakan kepada siswa tentang apa manfaat yang diperoleh setelah belajar materi hari ini.
·         Guru menutup pembelajaran dengan salam.






















I.       Lampiran
1.      Peta Konsep



2.      Materi Pembelajaran

MATERI PEMBELAJARAN
KD 3.2 Mengenali dan Mengidentifikasikan Realitas Individu,
Kelompok, dan Hubungan di Masyarakat
Pertemuan ke-3, Kelas X
Galuh Icha Rizkina / K8417033

A.    Hubungan antar Individu dalam Pembentukan Kelompok
1.      Pengertian Kelompok Sosial
Kelompok Sosial atau social group adalah himpunan atau kesatuan manusia yang terdiri dari dua atau lebih individu yang hidup bersama, saling berhubungan, saling mempengaruhi, dengan suatu kesadaran untuk saling menolong. (Dewi Wulansari, 2009: 43)
Kelompok-kelompok sosial merupakan himpunan manusia yang saling hidup bersama  dan  menjalani  saling  ketergantungan  dengan  sadar  dan  tolong  menolong. (R.M.  Macler & Charles H.  Page: Society, An Introductory Analysis,  Macmillan & Co.Ltd., London, 1961: 213)
Kelompok  sosial  atau  social  group adalah  himpunan  atau  kesatuan  manusia yang hidup bersama, karena adanya hubungan di antara mereka. Hubungan tersebut antara lain menyangkut hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi dan juga suatu kesadaran untuk saling menolong (Soejono Soekanto, 2006:104).
Menurut Paul B. Horton dan Chester L Hunt, Istilah kelompok sosial diartikan sebagai kumpulan manusia yang memiliki kesadaran akan keanggotannya dan saling berinteraksi.
Menurut George Homans, Kelompok Sosial adalah kumpulan individu yang melakukan kegiatan, interaksi, dan memiliki perasaan untuk membentuk suatu keseluruhan yang terorganisasi dan berhubungan timbal balik.

2.      Syarat Terbentuknya Kelompok Sosial
Menurut Soerjono Soekanto (1990: 115), setap himpunan manusia belum tentu dapat disebut sebagai kelompok sosial. Baru dapat disebut kelompok sosial apabila telah memenuhi beberapa persyaratan tertentu, yaitu:
a.        Setiap anggota kelompok tersebut harus sadar bahwa dia merupakan sebagian  dari kelompok yang bersangkutan.
b.      Ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan anggota yang lainnya, dalam kelomopok itu.
c.       Ada suatu faktor yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota kelompok itu, sehingga hubungan mereka bertambah erat. Faktor tadi dapat merupakan nasib yang sama, kepentingan yang sama, tujuan yang sama, ideology olitik yang sama, dan lain sebagainya. Mempunyai musuh yang sama dapat pula menjadi faktor pengingat/pemersatu.
d.      Berstruktur, berkaidah, dan mempunyai pola perilaku.
e.       Bersistem dan berproses.
Sumber :
·         Wulansari, Dewi. 2009. Sosiologi Konsep dan Teori. Bandung : PT Refiks Aditama.
·         Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
·         Hendry Lukmana, Belva dan Bambang Wiratsasongko. 2017. Hubungan antara Dukungan Kelompok Sosial Dengan Perilaku Pemilih Pada Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Sukoharjo Tahun 2015. Jurnal Sosiologi DILEMA, Vol. 32, No. 1.
3.      Media Pembelajaran

 



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MATERI PEMBELAJARAN KELAS XI

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN KELAS XI SEMESTER 1