RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN KELAS X
RENCANA
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Sekolah : SMA Negeri Mojoagung
Mata Pelajaran : Sosiologi
Kelas/Semester : X/ Genap
Materi
Pokok : Dampak Gejala Sosial dan Cara Mengatasi Gejala
Sosial
Alokasi Waktu : 2 x 45
Menit
A. Kompetensi Inti
KI-1 dan
KI-2:Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang
dianutnya.Menghayati dan mengamalkan
perilaku jujur, disiplin, santun, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran,
damai), bertanggung jawab, responsif, dan pro-aktif dalam berinteraksi secara
efektif sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan, keluarga, sekolah,
masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan
kawasan internasional”.
KI 3:
Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian,
serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai
dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
KI4:
Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri,
bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metode sesuai
kaidah keilmuan
B. Kompetensi Dasar dan
Indikator Pencapaian Kompetensi
|
Kompetensi Dasar
|
Indikator
|
|
3.1
Memahami pengetahuan dasar sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berfungsi
mengkaji gejala sosial di masyarakat
|
3.1.1
Siswa mampu menganalis dampak gejala sosial yang ada dalam masyarakat
3.1.2
Siswa mampu mengkategorikan dampak gejala sosial
yang ada dalam masyarakat
3.1.3
Siswa mampu mendiskusikan cara mengatasi gejala
sosial
|
C.
Tujuan Pembelajaran
1.
Siswa mampu menganalis dampak gejala sosial yang ada dalam masyarakat
2.
Siswa mampu mengkategorikan dampak gejala sosial yang
ada dalam masyarakat
3.
Siswa mampu mendiskusikan cara mengatasi gejala sosial
4.
Materi pembelajaran
a. Dampak gejala social
1. Dampak positif
2. Dampak negatif
b. Cara mengatasi gejala social
1. Lingkungan
Sekitar
2. Pendidikan
3. Ekonomi
4. Budaya
5. Metode Pembelajaran
1)
Pendekatan : Scientific
Learning
2)
Model Pembelajaran : Problem
Based Learning
6. Media Pembelajaran
Media :
Ø Worksheet atau lembar kerja (siswa)
Ø Lembar penilaian
Ø Power point
Ø Cetak: buku, modul, dan gambar
Ø Manusia dalam lingkungan: guru
Alat/Bahan :
Ø Penggaris,
spidol, papan tulis
Ø Laptop &
infocus
7.
Sumber Belajar
a.
Rufikasari, Lia Chandra. 2013. Sosiologi untuk SMA/MA. Surakarta: Mediatama
b.
Heryansyah, Tedy.
2017. Dampak potif gejala sosial dalam
masyarakat. jakarta
2.
Langkah-Langkah Pembelajaran
|
1.
|
Pertemuan Ke-15 (2 x
45 Menit)
|
||
|
Kegiatan Pendahuluan (10 Menit)
|
|||
|
Guru :
|
|||
|
Orientasi
|
|||
|
●
|
Melakukan pembukaan
dengan salam pembuka, memanjatkan syukur kepada Tuhan YME dan
berdoa untuk memulai pembelajaran
|
||
|
●
|
Memeriksa kehadiran
peserta didik sebagai sikap disiplin
|
||
|
●
|
Menyiapkan fisik dan
psikis peserta didik dalam mengawali
kegiatan pembelajaran.
|
||
|
Aperpepsi
|
|||
|
●
|
Mengaitkan
materi/tema/kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan dengan pengalaman
peserta didik dengan materi/tema/kegiatan sebelumnya
|
||
|
●
|
Mengingatkan kembali
materi prasyarat dengan bertanya.
|
||
|
●
|
Mengajukan pertanyaan
yang ada keterkaitannya dengan pelajaran yang akan dilakukan.
|
||
|
Motivasi
|
|||
|
●
|
Memberikan gambaran
tentang manfaat mempelajari pelajaran yang akan dipelajari dalam kehidupan
sehari-hari.
|
||
|
●
|
Apabila materi
tema/projek ini kerjakan dengan baik
dan sungguh-sungguh ini dikuasai dengan baik, maka peserta didik diharapkan
dapat menjelaskan tentang materi :
|
||
|
|
Dampak gejala sosial
dan cara mengatasi gejala sosial
|
||
|
|
|||
|
●
|
Menyampaikan tujuan
pembelajaran pada pertemuan yang
berlangsung
|
||
|
●
|
Mengajukan pertanyaan
|
||
|
Pemberian Acuan
|
|||
|
●
|
Memberitahukan materi pelajaran yang akan dibahas pada
pertemuan saat itu.
|
||
|
●
|
Memberitahukan tentang
kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, dan KKM pada pertemuan
yang berlangsung
|
||
|
●
|
Pembagian kelompok
belajar
|
||
|
●
|
Menjelaskan mekanisme pelaksanaan
pengalaman belajar sesuai dengan
langkah-langkah pembelajaran.
|
||
|
Kegiatan Inti ( 70 Menit )
|
|||
|
Sintak Model Pembelajaran
|
Kegiatan Pembelajaran
|
||
|
Stimulation
(stimullasi/ pemberian rangsangan) |
KEGIATAN LITERASI
|
||
|
Peserta didik diberi
motivasi atau rangsangan untuk memusatkan perhatian pada topik materi dampak
gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial dengan cara :
|
|||
|
→
|
Melihat (tanpa atau dengan
Alat)
|
||
|
|
Menayangkan gambar
dari power point yang relevan.
|
||
|
→
|
Mengamati
|
||
|
●
|
Lembar kerja materi
dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial
|
||
|
●
|
Pemberian
contoh-contoh materi dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial
untuk dapat dikembangkan peserta didik, dari media interaktif, dsb
|
||
|
→
|
Membaca.
|
||
|
|
Kegiatan literasi ini dilakukan
di rumah dan di sekolah dengan membaca materi dari buku paket atau buku-buku
penunjang lain, dari internet/materi yang berhubungan dengan dampak gejala
sosial dan cara mengatasi gejala sosial
|
||
|
→
|
Menulis
|
||
|
|
Menulis resume dari
hasil pengamatan dan bacaan terkait definisi gejala sosial dan cara mengatasi
gejala sosial
|
||
|
→
|
Mendengar
|
||
|
|
Pemberian materi
dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial oleh guru.
|
||
|
→
|
Menyimak
|
||
|
|
Penjelasan pengantar
kegiatan secara garis besar/global tentang materi pelajaran mengenai materi :
|
||
|
|
Dampak gejala sosial
dan cara mengatasi gejala sosial
|
||
|
|
|
||
|
|
untuk melatih rasa syukur,
kesungguhan dan kedisiplinan, ketelitian, mencari informasi.
|
||
|
Problem
statemen (pertanyaan/ identifikasi masalah) |
CRITICAL THINKING
(BERPIKIR KRITIK)
|
||
|
Guru memberikan
kesempatan pada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin
pertanyaan/masalah yang berkaitan dengan gambar yang disajikan dan akan
dijawab melalui kegiatan belajar, contohnya :
|
|||
|
→
|
Mengajukan pertanyaan tentang materi :
|
||
|
|
Dampak gejala sosial
dan cara mengatasi gejala sosial
|
||
|
|
|
||
|
yang tidak dipahami
dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan
tentang apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke
pertanyaan yang bersifat hipotetik) untuk mengembangkan kreativitas, rasa
ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis
yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat.
|
|||
|
Data
collection (pengumpulan data) |
KEGIATAN LITERASI
|
||
|
Peserta didik
mengumpulkan informasi yang relevan untuk menjawab pertanyan yang telah
diidentifikasi melalui kegiatan:
|
|||
|
→
|
Mengamati
obyek/kejadian
|
||
|
|
Mengamati dengan
seksama materi dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial yang
sedang dipelajari dalam bentuk gambar/slide presentasi yang disajikan dan
mencoba menginterprestasikannya.
|
||
|
→
|
Membaca sumber lain
selain buku teks
|
||
|
|
Secara disiplin
melakukan kegiatan literasi dengan mencari dan membaca berbagai referensi
dari berbagai sumber guna menambah pengetahuan dan pemahaman tentang materi
dampak gejala dan cara mengatasi gejala sosial yang sedang dipelajari.
|
||
|
→
|
Aktivitas
|
||
|
|
Menyusun daftar
pertanyaan atas hal-hal yang belum dapat dipahami dari kegiatan mengmati dan
membaca yang akan diajukan kepada guru berkaitan dengan materi dampak gejala
sosial dan cara mengatasi gejala sosial yang sedang dipelajari.
|
||
|
→
|
Wawancara/tanya jawab
dengan nara sumber
|
||
|
|
Mengajukan pertanyaan
berkaiatan dengan materi gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial yang
telah disusun dalam daftar pertanyaan kepada guru.
|
||
|
|
|
||
|
COLLABORATION
(KERJASAMA)
|
|||
|
Peserta didik dibentuk
dalam beberapa kelompok untuk:
|
|||
|
→
|
Mendiskusikan
|
||
|
|
Peserta didik dan guru
secara bersama-sama membahas contoh dalam buku paket mengenai materi dampak
gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial
|
||
|
→
|
Mengumpulkan informasi
|
||
|
|
Mencatat semua
informasi tentang materi dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala
sosial yang telah diperoleh pada buku catatan dengan tulisan yang rapi dan
menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
|
||
|
→
|
Mempresentasikan ulang
|
||
|
|
Peserta didik
mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan materi dengan rasa
percaya diri dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial sesuai
dengan pemahamannya.
|
||
|
→
|
Saling tukar informasi
tentang materi :
|
||
|
|
dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala
sosial
|
||
|
|
|
||
|
dengan ditanggapi
aktif oleh peserta didik dari kelompok lainnya sehingga diperoleh sebuah
pengetahuan baru yang dapat dijadikan sebagai bahan diskusi kelompok
kemudian, dengan menggunakan metode ilmiah yang terdapat pada buku pegangan
peserta didik atau pada lembar kerja yang disediakan dengan cermat untuk
mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain,
kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi melalui
berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar
sepanjang hayat.
|
|||
|
Data
processing (pengolahan Data) |
COLLABORATION
(KERJASAMA) dan CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK)
|
||
|
Peserta didik dalam
kelompoknya berdiskusi mengolah data hasil pengamatan dengan cara :
|
|||
|
→
|
Berdiskusi tentang data dari
Materi :
|
||
|
|
dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala
sosial
|
||
|
|
|
||
|
→
|
Mengolah informasi
dari materi definisi dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial
yang sudah dikumpulkan dari hasil kegiatan/pertemuan sebelumnya mau pun hasil
dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi yang sedang
berlangsung dengan bantuan pertanyaan-pertanyaan pada lembar kerja.
|
||
|
→
|
Peserta didik
mengerjakan beberapa soal mengenai dampak gejala sosial dan cara mengatasi
gejala sosial
|
||
|
Verification
(pembuktian)
|
CRITICAL THINKING
(BERPIKIR KRITIK)
|
||
|
Peserta didik
mendiskusikan hasil pengamatannya dan memverifikasi hasil pengamatannya
dengan data-data atau teori pada buku sumber melalui kegiatan :
|
|||
|
→
|
Menambah keluasan dan
kedalaman sampai kepada pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi
dari berbagai sumber yang memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang
bertentangan untuk mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan,
kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif
serta deduktif dalam membuktikan tentang materi :
|
||
|
|
dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala
sosial
|
||
|
|
|
||
|
antara lain dengan : Peserta didik dan
guru secara bersama-sama membahas jawaban soal-soal yang telah dikerjakan
oleh peserta didik.
|
|||
|
Generalization
(menarik kesimpulan)
|
COMMUNICATION
(BERKOMUNIKASI)
|
||
|
Peserta didik
berdiskusi untuk menyimpulkan
|
|||
|
→
|
Menyampaikan hasil diskusi tentang materi definisi gejala sosial /
penyimpangan sosial berupa kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara
lisan, tertulis, atau media lainnya untuk mengembangkan sikap jujur, teliti,
toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan
sopan.
|
||
|
→
|
Mempresentasikan hasil
diskusi kelompok secara klasikal tentang materi :
|
||
|
|
dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala
sosial
|
||
|
|
|
||
|
→
|
Mengemukakan pendapat
atas presentasi yang dilakukan tentanag materi dampak
gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial dan ditanggapi oleh
kelompok yang mempresentasikan.
|
||
|
→
|
Bertanya atas
presentasi tentang materi dampak
gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial yang dilakukan dan peserta
didik lain diberi kesempatan untuk menjawabnya.
|
||
|
|
|
||
|
CREATIVITY
(KREATIVITAS)
|
|||
|
→
|
Menyimpulkan tentang
point-point penting yang muncul dalam kegiatan pembelajaran yang baru
dilakukan berupa :
|
||
|
|
Laporan hasil
pengamatan secara tertulis tentang materi :
|
||
|
|
dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala
sosial
|
||
|
|
|
||
|
→
|
Menjawab pertanyaan
tentang materi dampak gejala sosial
dan cara mengatasi gejala sosial yang terdapat pada buku pegangan peserta
didik atau lembar kerja yang telah disediakan.
|
||
|
→
|
Bertanya tentang hal
yang belum dipahami, atau guru melemparkan beberapa pertanyaan kepada siswa
berkaitan dengan dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial yang
akan selesai dipelajari
|
||
|
→
|
Menyelesaikan uji
kompetensi untuk materi dampak gejala
sosial dan cara mengatasi gejala sosial yang terdapat pada buku pegangan
peserta didik atau pada lembar lerja yang telah disediakan secara individu
untuk mengecek penguasaan siswa terhadap materi pelajaran.
|
||
|
Catatan : Selama
pembelajaran dampak gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial berlangsung, guru
mengamati sikap siswa dalam pembelajaran yang meliputi sikap:
nasionalisme, disiplin, rasa percaya
diri, berperilaku jujur, tangguh menghadapi masalah tanggungjawab, rasa ingin
tahu, peduli lingkungan
|
|||
|
Kegiatan Penutup (10 Menit)
|
|||
|
Peserta didik :
|
|||
|
●
|
Membuat resume
(CREATIVITY) dengan bimbingan guru tentang point-point penting yang muncul
dalam kegiatan pembelajaran tentang materi dampak gejala sosial dan cara
mengatasi gejala sosial yang baru dilakukan.
|
||
|
●
|
Mengagendakan pekerjaan
rumah untuk materi pelajaran dampak
gejala sosial dan cara mengatasi gejala sosial yang baru diselesaikan.
|
||
|
●
|
Mengagendakan materi
atau tugas projek/produk/portofolio/unjuk kerja yang harus mempelajarai pada
pertemuan berikutnya di luar jam sekolah atau dirumah.
|
||
|
Guru :
|
|||
|
●
|
Memeriksa pekerjaan
siswa yang selesai langsung diperiksa untuk materi
pelajaran dampak gejala sosial dan
cara mengatasi gejala sosial
|
||
|
●
|
Peserta didik
yang selesai mengerjakan tugas
projek/produk/portofolio/unjuk kerja dengan benar diberi paraf serta diberi
nomor urut peringkat, untuk penilaian
tugas
|
||
|
●
|
Memberikan penghargaan
untuk materi pelajaran dampak gejala
sosial dan cara mengatasi gejala sosial kepada kelompok yang memiliki kinerja
dan kerjasama yang baik.
|
||
MATERI :
Dampak Gejala Sosial di
Masyarakat
Terjadinya perubahan sosial-budaya
dimasyarakat merupakan salah satu akibat dari gejala sosial. Dampak gejala
sosial ada yang bersifat positif dan negatif.
1. Dampak positif
Tedy Heryansyah(2017) dampak positif gejala sosial
adalah sebagai berikut :
1. Potensi
Munculnya Nilai dan Norma Baru
Gejala sosial bisa menjadi penanda
bahwa ada nilai dan norma masyarakat yang sudah ketinggalan zaman. Sehingga
munculnya gejala sosial diharapkan dapat memunculkan nilai dan norma baru yang
sesuai dengan perkembangan zaman.
2. Adanya
Upaya Mewujudkan Kesetaraan Gender
Perkembangan zaman di masyarakat akan
meningkatkan kesadaran bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak asasi yang
sama sebagai manusia. Ini jelas merupakan pertanda yang baik karena dengan
adanya kesetaraan gender, tidak ada lagi ketimpangan atau judgement dari
lingkungan terhadap suatu gender.
3. Adanya
Diferensiasi Struktural
Diferensiasi struktural ini mengacu
kepada berkembangnya lembaga-lembaga sosial baru. Berbagai macam kebutuhan di
masyarakat yang semakin kompleks membutuhkan wadah dan lembaga baru untuk
memenuhi kebutuhan tersebut.
4. Tingkat
Pendidikan Formal Semakin Tinggi dan Merata
Sadar akan pendidikan adalah salah
satu dampak dari munculnya gejala sosial.
Gejala sosial yang berhasil diatasi
akan membawa pemahaman bahwa “pendidikan itu penting”. Akibatnya, masyarakat
akan lebih aware terhadap pendidikan dan berusaha untuk mendapatkan akses
pendidikan, khususnya pendidikan formal, yang lebih baik lagi.
5. Meningkatnya
Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Seiring
dengan meningkatnya kebutuhan akan pendidikan, munculnya berbagai penelitian
ilmiah terkait gejala sosial yang telah terjadi semakin menyadarkan masyarakat
terhadap pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk
meningkatkan taraf hidup.
6. Berkembangnya
Industrialisasi
Ketika
masyarakat sudah mendapatkan pendidikan yang baik, produktivitas masyarakat pun
akan meningkat dengan sendirinya. Hal ini mengakibatkan industri-industri
semakin berkembang menjadi lebih baik.
7. Kesadaran
Politik Semakin Tinggi
Masyarakat
yang terdidik umumnya akan menyadari pentingnya kontribusi setiap individu
dalam praktek politik. Tingginya kesadaran politik ini ditandai dengan meningkatnya
partisipasi dalam politik praktis.
8. Perlindungan
terhadap Kebebasan dalam Kehidupan Beragama
Gejala
sosial memberi pelajaran pada masyarakat akan pentingnya hidup berdampingan dan
menghormati keanekaragaman. Dengan begitu, diharapkan akan munculnya kerukunan
antar umat beragama yang berujung pada terwujudnya kebebasan beragama secara
hakiki.
2. Dampak negatif
1. Seseorang yang tidak dapat menerima
perubahan yang terjadi akan mengalami keguncangan culture shock. Ketidak
sanggupan seseorang dalam menghadapi gejala sosial akan membawa kearah prilaku
menyimpang.
2. Adanya Disorientasi Nilai dan Norma
3. Perubahan Tingkah Laku
4. Budaya Konsumtif yang Semakin Besar
5. Berkembangnya Sifat Individualisme
6. Munculnya Konflik Sosial Vertikal
maupun Horizontal
7. Lembaga-lembaga Sosial yang ada
Tidak Dapat Berfungsi Maksimal
8. Banyak Pengangguran
9. Adanya Kesenjangan Sosial
10. Terjadinya Berbagai Bentuk Kerusakan
Lingkungan dan Bencana Alam
11. Tiap individu yang tidak dapat mengizinkan
transformasi akan menemui fluktuasi budaya. Ketidak kecukupan individu dalam
menentang gejala sosial akan menyebabkan ke arah sikap tersesat.
Simak
lebih lanjut di Brainly.co.id - https://brainly.co.id/tugas/14868413#readmore
Cara Mengatasi Gejala Sosial
Dampak yang ditimbulkan dari gejala
sosial dimasyrakat sangat beragam, mulai dari dampak positif maupun negatif.
Adanya dampak negatif di masyarakat harus menjadi perhatian khusus bagi kita,
karena dapat merugikan orang lain. Untuk itu perlu adanya pengendalian sosial.
Pengendalian sosial merupakan suatu proses yang dilakukan oleh individu maupun
kelompok, sehingga anggotanya dapat bertindak sesuai dengan harapan kelompok
atau masyarakat. Dengan adanya pengendalian sosial, diharapkan masyarakat dapat
memahami mengenai norma. Norma menjadi aturan-aturan yang bertujuan untuk
mendorong individu atau kelompok dalam mencapai nilai-nilai sosial. Pihak-pihak
yang ikut berperan untuk mengatasi gejal sosial yang ada di lingkungan
masyarakat, antara lain :
1. Lingkungan
Sekitar
Bagi lingkungan sekitar diperlukan adanya lingkungan
masyarakat yang baik dan terhindar dari hal-hal yang negative agar tidak
terjadi lagi gejala sosial yang ada di masyarakat. Memberikan edukasi tentang
pentingnya bersosialisasi dan terbuka, memilih dan memilah mana yang baik untuk
kehidupan berasyarakat.
2. Pendidikan
Harus memeberi pemahaman bahwa pendidikan itu penting
bagi setiap individu. Pemahaman ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesenjangan
antara masyarakat satu dengan yang lain dalam mengenyam pendidikan di
Indonesia. Dengan pemahaman tersebut kita akan bisa mengatasinya
3. Ekonomi
Diperlukan adanya pemeataa harga didalam masyarakat.
Media Power point :









RENCANA
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(
RPP )
Sekolah :
SMA Negeri 4 Surakarta
Mata Pelajaran :
Sosiologi
Kelas/Semester :
X/1
Materi Pokok :
Manusia Sebagai Makhluk Individu dan Makhluk Sosial
Alokasi Waktu :
2 x 45 menit
A.
Kompetensi
Inti
KI 1 : Menghayati dan
mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
KI 2 : Menghayati dan
mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab,
peduli
(gotong royong, kerjasama, toleran,
damai), santun, responsif, dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian
dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa
dalam pergaulan dunia
KI 3 :
Memahami, menerapkan, dan
menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural, dan
metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan,
teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait
penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada
bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan
masalah
KI 4 :
Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak
terkait dengan pengembangan dari yang
dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta
mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan
B. Kompetensi
Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
|
Kompetensi
Dasar
|
Indikator
|
|
3. 2 Mengenali dan Mengidentifikasi
Realitas
Individu, Kelompok, dan
Hubungan
Sosial Di Masyarakat
|
3.2.1
Siswa mampu menguraikan
pengertian manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
3.2.2
Siswa mampu menguraikan
ciri-ciri manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
3.2.3
Siswa mampu mengaitkan
antara konsep dengan gambar maupun kasus terkait materi manusia sebagai
makhluk individu dan makhluk sosial
|
|
4.2 Mengolah realitas individu, kelompok,
dan
hubungan sosial sehingga mendiri
dalam
memposisikan diri dalam
pergaulan
sosial di masyarakat
|
4.2.1
Siswa mampu mengomunikasikan
hasil temuannya terkait pengertian dan ciri-ciri manusia sebagai makhluk
individu dan makhluk sosial
|
C.
Tujuan
Pembelajaran
Setelah mengikuti proses pembelajaran,
peserta didik dapat :
1. Siswa
mampu menguraikan pengertian manusia sebagai makhluk individu dan makhluk
sosial
2. Siswa
mampu menguraikan ciri-ciri manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
3. Siswa
mampu mengaitkan antara konsep dengan gambar maupun kasus terkait materi
manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
4. Siswa
mampu mengomunikasikan hasil temuannya terkait pengertian dan ciri-ciri manusia
sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
D. Materi pembelajaran
1.
Manusia sebagai makhluk individu
2.
Ciri manusia sebagai makhluk individu
3.
Manusia sebagai makhluk sosial
4.
Ciri manusia sebagai makhluk sosial
Fakta
·
Manusia
sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
Konsep
·
Definisi manusia sebagai makhluk
individu dan makhluk sosial
Prinsip
·
Ciri-ciri manusia sebagai makhluk
individu dan makhluk sosial
Prosedur
·
Keterkaitan
antara manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial di dalam kehidupan
sehari-hari
E. Metode Pembelajaran
Pendekatan : Saintifik
Model Pembelajaran : Kooperatif
dengan tipe Make A Match
Metode Pembelajaran :
Ceramah, Studi literatur, Diskusi, Penugasan
F. Media Pembelajaran
Media :
Kartu berpasangan tentang manusia
sebagai makhluk individu
dan makhluk sosial
Alat/Bahan : Laptop, LCD, 2 buah kartu yang terdiri dari sebuah
pernyataan (gambar/kasus) dan jawaban, lembar
kerja siswa
G. Sumber Belajar
§ Effendi,
R. dan Setiadi, E.M. 2010. Pendidikan
Lingkungan, Sosial, Budaya, dan Teknologi. Bandung: UPI Press.
§ Sumaatmadja,
Nursid. 2012. Manusia dalam Konteks
Sosial, Budaya, dan Lingkungan Hidup. Bandung: Alfabeta.
§ Soekanto,
Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar.
Jakarta: PT Raja Grafindo.
§
Rangga, Aryadanuraja. (2015, Januari 2). Manusia sebagai Makhluk Individu dan Makhluk Sosial. Dikutip pada
13 April 2019 dari https://ranggaadr.wordpress.com/2015/01/02/manusia-sebagai-makhluk-individu-dan-makhluk-sosial/
H.
Langkah-Langkah Pembelajaran
|
Pertemuan ke 1 ( 2 x 45 menit )
|
|
|
Kegiatan
Pendahuluan ( 10 menit )
|
|
|
Guru
:
Orientasi
§ Guru
memberikan salam kepada peserta didik
§ Guru
mempersilakan berdoa bersama
§ Guru
menanyakan kabar siswa dan kehadiran siswa
Apersepsi
§ Guru
memberikan pertanyaan kepada peserta didik yang bersifat menuntun dan
menggali mengenai materi yang akan dibahas, yaitu manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
Motivasi
§ Memberikan gambaran
tentang manfaat mempelajari pelajaran yang akan dipelajari dalam kehidupan
sehari-hari yaitu tentang manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
§ Apabila materi tema
ini kerjakan dan dikuasai dengan baik, maka peserta didik diharapkan dapat
menjelaskan tentang materi :
Manusia
Sebagai Makhluk Individu dan Makhluk Sosial
§ Menyampaikan tujuan pembelajaran
pada pertemuan yang berlangsung
Pemberian
Acuan
§ Guru
memberitahukan materi pelajaran yang akan dibahas pada pertemuan hari ini,
yaitu tentang manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
§ Guru
memberitahukan
tentang kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, dan KKM pada pertemuan
yang berlangsung
§ Menjelaskan mekanisme pelaksanaan
pengalaman belajar sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran
|
|
|
Kegiatan Inti (70 menit)
|
|
|
Sintak Model
Pembelajaran
|
Kegiatan Pembelajaran
|
|
Stimulation
(stimullasi/ pemberian rangsangan) |
KEGIATAN LITERASI
Peserta didik diberi
motivasi atau rangsangan untuk memusatkan perhatian pada topik materi tentang
manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, dengan cara :
·
Melihat
Menayangkan
gambar tentang manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial di layar
LCD.
· Mengamati
Guru
mengarahkan siswa untuk mengamati realita dalam kehidupan masyarakat sekitar
mengenai manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.
· Membaca
Siswa
melakukan kegiatan literasi yang dilakukan di rumah dan di sekolah dengan
membaca materi dari buku paket atau internet yang berhubungan dengan manusia
sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.
· Menulis
Menulis
resume dari hasil pengamatan dan bacaan terkait materi manusia sebagai
makhluk individu dan makhluk sosial.
· Mendengar
Guru
memberikan materi tentang manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
dan siswa mendengarkannya.
· Menyimak
Guru
memberikan penjelasan pengantar kegiatan secara garis besar tentang materi
pelajaran mengenai manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.
|
|
Problem Statement (pertanyaan/identifikasi
masalah)
|
CRITICAL THINGKING (BERPIKIR KRITIK)
Guru memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi pertanyaan yang
berkaitan dengan gambar maupun hasil pengamatan yang sudah dilakukan dan akan
dijawab melalui kegiatan belajar, contohnya :
Mengajukan pertanyaan
tentang materi manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, dimana
guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya terkait materi
yang belum dipahaminya.
|
|
Data collection (pengumpulan data)
|
KEGIATAN LITERASI
Peserta
didik mengumpulkan informasi yang relevan untuk menjawab pertanyaan yang
telah diidentifikasi melalui kegiatan :
·
Mengamati
objek/kejadian
Mengamati dengan seksama materi tentang manusia
sebagai makhluk individu dan makhluk sosial yang sedang dipelajari dalam
bentuk gambar ataupun hasil pengamatannya yang sudah dilakukan.
·
Membaca
sumber lain selain buku teks
Kegiatan literasi dilakukan dengan mencari dan
membaca berbagai referensi dari berbagai sumber guna menambah pengetahuan dan
pemahaman tentang materi manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
yang sedang dipelajari.
·
Aktivitas
Menyusun daftar pertanyaan atas hal-hal yang belum
dapat dipahami dari kegiatan mengamati dan membaca yang akan diajukan kepada
guru berkaitan dengan materi manusia sebagai makhluk individu dan makhluk
sosial yang sedang dipelajari.
COLLABORATION (KERJA SAMA)
-
Guru kemudian membagi
siswa menjadi 2 kelompok, kelompok pertama diberi kartu yang berisi
pernyataan dari sebuah kasus dan gambar mengenai manusia sebagai
makhluk individu dan makhluk sosial dan kartu kedua
berisi konsep dari pernyataan tersebut.
-
Guru kemudian membagi
kartu secara acak kepada masing-masing siswa.
-
Setelah masing-masing
siswa mendapat 1 buah kartu, guru kemudian menjelaskan mekanisme tentang
penggunaan kartu berpasangan.
-
Guru kemudian
memberikan waktu kepada tiap-tiap siswa untuk mencermati dan memikirkan
jawaban atau soal dari kartu yang dipegangnya.
-
Kemudian setiap siswa
diberi waktu untuk mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan
kartu yang dipegangnya.
-
Guru memberikan poin
kepada siswa yang menemukan pasangan kartunya dengan cepat dan yang belum
menemukan kartu pasangan atau tidak tepat dalam menemukan pasangan kartunya
akan diberi hukuman.
|
|
Data processing (pengolahan data)
Verification (pembuktian)
|
COLLABORATION (KERJA SAMA) dan CRITICAL THINGKING (BERPIKIR
KRITIK)
- Peserta
didik bersama pasangannya berdiskusi mengenai hasil temuan dari kartu yang
sudah didapatkannya.
- Guru
memberikan waktu kepada siswa yang sudah berpasangan untuk mendiskusikan,
memikirkan dan mencerna mengenai pernyataan dan konsep yang sudah didapatkan.
CRITICAL
THINGKING (BERPIKIR KRITIK)
Peserta
didik mendiskusikan dan memverifikasi hasil temuannya dengan data-data atau
teori pada buku sumber.
|
|
Generalization (menarik kesimpulan)
|
COMMUNICATION (BERKOMUNIKASI)
- Setiap
siswa yang berpasangan kemudian diminta maju ke depan untuk mengomunikasikan
hasil pekerjaannya dari kartu berpasangan yang sudah didapatkan dengan
menyampaikan kesimpulan berdasarkan hasil analisis atas temuannya.
- Guru
juga akan memberikan sedikit penjelasan mengenai jawaban baik itu benar
maupun salah.
- Kemudian
guru meminta pasangan siswa yang lama dalam menemukan kartu pasangan dan
pasangan yang salah dalam memasangkan jawaban dan soal akan diberikan
hukuman, yaitu dengan meminta untuk menjelaskan pemahaman mereka mengenai
materi manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.
|
|
Catatan : Selama pembelajaran mengenai materi manusia
sebagai makhluk individu dan makhluk sosial berlangsung, guru mengamati sikap
siswa dalam pembelajaran yang meliputi sikap : nasionalisme, disiplin, rasa
percaya diri, berperilaku jujur, tangguh menghadapi masalah, tanggung jawab,
rasa ingin tahu, dan peduli lingkungan.
|
|
|
Kegiatan Penutup (10 menit)
|
|
|
Peserta
didik :
-
Beberapa siswa diminta
untuk menyimpulkan materi tentang manusia sebagai makhluk individu dan
makhluk sosial yang sudah dipelajarinya.
Guru
:
-
Guru melakukan
penilaian terhadap kegiatan yang sudah dilakukan.
-
Guru memberikan
kesimpulan terkait materi yang sudah dibahas kepada siswa dan menanyakan
kepada siswa apa manfaat yang diperoleh setelah belajar tentang materi
tersebut.
-
Guru merencanakan
kegiatan tindak lanjut dalam bentuk tugas individu dan menyampaikan rencana
pembelajaran pada pertemuan selanjutnya.
-
Guru menutup
pembelajaran dengan salam.
|
|
I. Lampiran

Materi Pembelajaran
A. Individu Dalam Hubungan Dengan Orang
Lain
1. Pengertian Manusia sebagai Makhluk
Individu
Menurut Effendi (2010:37) kata individu berasal dari
kata in dan devided. Dalam bahasa Inggris in
salah satunya mengandung pengertian tidak, sedangkan devide artinya terbagi. Menurut pendapat Dr. A Lysen individu
berasal dari bahasa latin individum,
yang artinya tak terbagi. Jadi, manusia lahir merupakan makhluk individual yang
tidak terbagi atau tidak terpisah dan merupakan suatu kesatuan. Individu bukan berarti manusia sebagai
satu kesatuan yang tidak dapat dibagi-bagi melainkan sebagai kesatuan yang
terbatas, yaitu sebagai manusia perorangan sehingga sering digunakan sebagai
sebutan “orang-seorang” atau “manusia perorangan”. Seseorang lahir sebagai
suatu sistem yang terdiri atas subsistem jasmani dan subsistem rohani. Dengan
kemampuan rohaninya individu dapat berhubungan dan berfikir serta dengan
pikirannya itu dapat mengendalikan dan memimpin kesanggupan akal dan
kesanggupan budi untuk mengatasi segala masalah dan kenyataan yang dialaminya.
Menurut Landgren perbedaan individual menyangkut variasi yang terjadi, baik
pada spek fisik dan psikisnya. Manusia
sebagai mahluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan
psikis, unsur raga dan jiwa. Seseorang dikatakan sebagai manusia individu
manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya. Jika unsur tersebut sudah
tidak menyatu lagi maka seseorang tidak disebut sebagai individu.
Dalam
perkembangannya, manusia sebagai makhluk individu tidak hanya bermakna kesatuan
jiwa dan raga, tetapi akan menjadi pribadi yang khas dengan corak kepribadiannya,
termasuk kemampuan kecakapannya. Manusia sebagai makhluk individu adalah
manusia sebagai perseorangan yang memiliki sifat sendiri-sendiri. Setiap
manusia memiliki perbedaan. Hal itu dikarenakan manusia mempunyai karakteristik
dan keunikan tersendiri. Oleh karena itu, manusia sebagai makhluk individu
merupakan suatu hal yang unik karena setiap orang berbeda-beda.
Perbedaan
individual terjadi dalam berbagai bidang. Garry mengkategorikan perbedaan
individual ke dalam bidang-bidang berikut :
-
Perbedaan
fisik , didasarkan pada usia,
berat badan, jenis kelamin, kemampuan bertinda, dan sebagainya.
-
Perbedaan
sosial termasuk status ekonomi, agama, keluarga, dan suku.
-
Perbedaan
kepribadian termasuk watak, motif, minat, dan sikap.
-
Perbedaan
intelegensi dan kemampuan dasar.
-
Perbedaan
kecakapan atau kepandaian di sekolah.
2. Ciri Manusia sebagai Makhluk
Individu
-
Manusia
ingin mempertahankan hidup
-
Manusia
ingin memperoleh keturunan
-
Ingin tahu
dan mempunyai pemikiran tersendiri
-
Memiliki
hak-hak yang berbeda
-
Memiliki
bakat dan kemampuan yang berbeda
-
Menjaga dan mempertahankan harkat dan martabatnya
-
Mengupayakan tentang terpenuhinya hak-hak dasar sebagai manusia
-
Memenuhi kebutuhan dan kepentingan diri demi kesejahteraan hidupnya
-
Manusia
Memiliki Keinginan Atau Cita-Cita yang Berbeda Dengan Yang Lain
Contoh manusia sebagai makhluk individu, yaitu setiap
manusia memiliki cita-cita atau keinginan yang berbeda-beda dengan yang
lainnya. Misalnya, manusia menentukan nantinya ia akan memilih untuk menjadi
seorang guru. Dalam hal pemenuhan kebutuhan, setiap manusia juga memiliki
perbedaan, dan setiap manusia pasti punya tingkat kebutuhan yang berbeda-beda
dengan yang lainnya. Ada manusia yang ingin memenuhi kebutuhan pangannya
sehari-hari, ada manusia yang berusaha untuk memenuhi kebutuhannya dalam
pendidikan.
3. Pengertian Manusia sebagai Makhluk
Sosial
Manusia sebagai makhluk sosial
mempunyai makna bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri. Artinya, manusia di
dalam kehidupan bermasyarakat membutuhkan bantuan orang lain untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya, hal
ini disebabkan karena manusia mempunyai hasrat, keinginan, dan rasa untuk
membentuk dirinya sebagai manusia utuh dan dapat hidup bersama dengan manusia
lainnya. Keinginan untuk berkelompok adalah hakikat manusia sebagai makhluk
sosial.
Menurut Soekanto (1990:75)
bahwa di dalam diri manusia pada dasarnya telah terdapat keinginan yaitu
keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lainnya dan keinginan untuk menjadi
satu dengan alam sekitarnya. Menurut Aristoteles (384-322 sebelum masehi),
seorang ahli fikir yunani menyatakan dalam ajaranya, bahwa manusia adalah Zoon Politicon, artinya pada dasarnya
manusia adalah makhluk yang ingin bergaul dan berkumpul dalam masyarakat,
karena sifatnya yang selalu ingin bergaul dengan manusia lain, maka manusia
disebut sebagai makhluk sosial.
Manusia dikatakan sebagai
makhluk sosial, karena beberapa alasan, yaitu:
1.
Manusia
tunduk pada aturan atau norma sosial.
2.
Perilaku
manusia mengharapkan suatu penilaian dari orang lain.
3.
Manusia
memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain.
4.
Potensi
manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah manusia.
4.
Ciri Manusia sebagai Makhluk Sosial
Manusia sebagai makhluk sosial
memiliki naluri untuk saling tolong menolong, setia kawan, dan toleransi serta
simpati dan empati terhadap sesamanya. Keadaan inilah yang dapat menjadikan
suatu masyarakat menjadi baik, harmonis, rukun, hingga timbullah norma, etika
dan kesopan santunan yang dianut oleh masyarakat. Ciri manusia sebagai makhluk
sosial yang lainnya, yaitu :
-
Manusia
tidak bisa hidup sendiri
-
Manusia
selalu membutuhkan bantuan orang lain
-
Manusia
saling berinteraksi satu sama lainnya
-
Manusia
bertindak dan bersikap sesuai dengan nilai dan norma dalam masyarakat
-
Manusia
bermusyawarah dan gotong royong dengan masyarakat lain
Contoh manusia sebagai makhluk sosial, yaitu saat ada
tetangga yang sakit maka kita sebagai tetangga baiknya menjenguk dan
menunjukkan empati kita kepadanya, selain itu, saat di kampung diadakan kerja
bakti maka kita sebagai warga kampung juga harus ikut serta dan membantu dalam
kegiatan kerja bakti.
Media Kartu Berpasangan
|
NO
|
KONSEP
|
SOAL
|
|
1.
|
Manusia Membutuhkan Bantuan Orang Lain
|
Seorang
petani dan seorang nelayan tiap harinya melakukan pekerjaan yang berbeda. Setelah
mereka selesai bekerja, mereka akan mendapatkan hasil kerja mereka
masing-masing. Nelayan mendapatkan hewan laut yang dapat dimakan sebagai lauk
dan petani mendapatkan beras yang dapat dimakan sebagai makanan pokok. Namun,
tidak mungkin bila seorang petani hanya memakan beras yang telah ia olah
menjadi nasi saja, dan tidak mungkin pula seorang nelayan hanya memakan ikan
saja. Pada dasarnya nelayan dan petani pasti membutuhkan beras ataupun lauk
untuk dijadikan makanan yang saling melengkapi. Hal tersebut merupakan salah
satu ciri manusia sebagai makhluk sosial, yaitu...
|
|
2.
|
Makhluk Individu
|
Bayu
sebagai seorang muslim selalu mengerjakan ibadah salat 5 waktu di masjid dan
selalu mengaji atau tadarus Al-Quran. Bayu menyadari kewajibannya sebagai
seorang muslim untuk taat beribadah kepada Tuhannya. Selain menjalankan
kewajibannya untuk taat kepada Tuhannya, Bayu melakukan ibadah-ibadah
tersebut juga dilakukan untuk mendapatkan ketenangan hati, jiwa, dan
pikirannya agar selalu senantiasa ingat kepada Tuhannya. Hal tersebut
menunjukkan bahwa Bayu sebagai manusia menjalankan tugasnya sebagai
makhluk...
|
|
3.
|
Zoon Politicon
|
Manusia
merupakan makhluk yang ingin bergaul dan berkumpul dengan masyarakat, karena
sifatnya yang selalu ingin bergaul dengan manusia lain, maka manusia disebut
sebagai makhluk sosial. Manusia tidak bisa hidup sendirian. Manusia
memerlukan manusia lain. Secara kodrati, manusia adalah makhluk yang memiliki
kecenderungan untuk hidup dalam kebersamaan dengan yang lain untuk belajar
hidup sebagai manusia. Dari pengertian tersebut, ada istilah yang dinyatakan
dari seorang ahli yang berasal dari Yunani, bahwa manusia merupakan...
|
|
4.
|
Manusia Tidak Bisa Hidup Sendiri
|
Seorang
perempuan tidak akan pernah dikatakan menjadi seorang ibu apabila tidak ada
seorang lelaki atau pria yang menjadi pendamping hidupnya dan apabila belum
memiliki seorang anak. Sehingga seorang perempuan jika ingin menjadi seorang
istri dan ibu haruslah memiliki seorang pasangan terlebih dahulu. Hal
tersebut menunjukkan bahwa ciri manusia sebagai makhluk sosial, yaitu...
|
|
5.
|
Manusia Memiliki Bakat dan Kemampuan yang Berbeda
|
Ada 2
anak yang bernama Ina dan Desi. Ina dan desi adalah dua anak yang berbeda
dalam hal prestasi. Ina di sekolah selalu mendapat nilai bagus pada mata
pelajaran menggambar dan mendapat nilai kurang bagus pada mata pelajaran
matematika. Sedangkan Desi, ia selalu mendapat nilai bagus pada mata
pelajaran matematika dan mendapat nilai kurang bagus pada mata pelajaran menggambar.
Dari kasus kedua anak tersebut, menunjukkan bahwa manusia memiliki ciri
sebagai makhluk individu, yaitu...
|
|
6.
|
Makhluk Sosial
|
Ibu Tina
tinggal di daerah kampung Nayu. Ibu Tina berperan aktif dalam setiap kegiatan
yang diadakan di kampungnya, seperti mengikuti arisan ibu-ibu PKK, ikut kerja
bakti. Ibu Tina juga selalu menaati aturan yang ada di kampungnya, seperti
tidak membuang sampah sembarangan, membayar iuran arisan tepat waktu. Bahkan
saat ada tetangganya yang sedang sakit, ibu Tina tak lupa untuk menjenguk
tetangganya yang sakit itu dan membawakan beberapa makanan untuknya sebagai
bentuk empati kepada tetangganya itu. Dari kasus Ibu Tina tersebut menunjukkan bahwa ibu Tina
sebagai manusia melakukan perannya sebagai makhluk...
|
|
7.
|
Manusia Saling Bergotong Royong
|
![]() |
|
8.
|
Manusia Memiliki Cita-Cita yang Berbeda Dengan Yang
Lain
|
![]() |
|
9.
|
Manusia Saling Berinteraksi
|
![]() |
|
10.
|
Manusia Memenuhi Kebutuhan dan
Kepentingannya Demi Kesejahteraan Hidupnya
|
![]() |
Rancangan
Pelaksanaan Pembelajaran
Sekolah :
SMA Negeri 105 Jakarta
Mata Pelajaran :
Sosiologi
Kelas/Semester :
XI/2
Materi Pokok :
Faktor yang Mendasari Terjadinya Interaksi Sosial
Waktu :
1 x 45 Menit (1 JP)
A. Kompetensi Inti (KI)
|
KI
1 :
|
Menghayati dan mengamalkan
ajaran agama yang dianutnya.
|
|
KI
2 :
|
Menghyati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin,
tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun,
responsive, dan pro-aktif dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi
atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan
bangsa dalam pergaulan dunia.
|
|
KI
3 :
|
Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan
faktual, konseptual, procedural, dan metakognitif berdasarkan ingin tahunya
tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan
wawasan kemanusiaan, kebangsaan,
kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta
menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai
dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
|
|
KI
4 :
|
Mengolah,
menalar, dan menyaji ranah
konkret terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara
mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda
sesuai kaidah keilmuan.
|
B.
Kompetensi
Dasar (KD) dan Indikator Pencapaian Kompetensi
|
Kompetensi
Dasar
|
Indikator
|
|
3.2 Mengenali dan mengidentifikasi
realitas
individu, kelompok, dan hubungan sosial di masyarakat
4.2 Mengolah realitas
individu, kelompok, dan hubungan social sehingga mandiri dalam memposisikan
diri dalam pergaulan sosial di masyarakat
|
·
Siswa mampu menguraikan faktor-faktor
yang menjadi pendorong terjadinya Interaksi
Sosial
·
Menentukan faktor apa saja yang mendasari
alasan seseorang berhubungan dengan sesamanya.
|
C.
Tujuan
Pembelajaran
Melalui
proses mencari informasi, menanya, mengasosiasi, mengomunikasikan dan
berdiskusi peserta didik dapat:
a.
Kognitif
1.
Menguraikan
faktor-faktor yang menjadi pendorong terjadinya
Interaksi Sosial
b. Psikomotorik
1. Menentukan faktor apa
saja yang mendasari alasan seseorang berhubungan dengan sesamanya.
D.
Materi Pembelajaran
1. Faktor
yang mendasari terjadinya interaksi sosial.
·
Imitasi
·
Sugesti
·
Identifikasi
·
Simpati
·
Empati
·
Motivasi
·
Sikap kepada orang lain
E.
Metode pembelajaran
1. Pendekatan : Scientific
2. Model : Konteksual Learning
F.
Media pembelajaran
1. Media : Power Point, Lembar Kerja Siswa, Buku, Gambar.
2. Alat dan Bahan : Laptop, LCD, proyektor, papan tulis, spidol.
G.
Sumber pembelajaran
·
Pengalaman guru dan siswa
H.
Langkah-langkah kegiatan pembelajaran
|
Kegiatan
|
Deskripsi
|
Alokasi
Waktu
|
|
|
Pendahuluan
|
1.
Melakukan pembukaan dengan salam pembuka, memanjatkan syukur
kepada Tuhan YME dan berdoa untuk memulai pembelajaran
2.
Memeriksa kehadiran peserta didik sebagai sikap disiplin
3.
Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik dalam mengawali kegiatan pembelajaran.
4.
Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran yang
akan dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.
5.
Memberitahukan tentang maeri, kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, dan KKM
pada pertemuan yang berlangsung
|
10
menit
|
|
|
Inti
|
1. Mengamati
·
Guru memperlihatkan sebuah gambar mengenai Interaksi sosial yang ada di masyarakat kepada
siswa melalui power point.
2.
Menanya
·
Guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk
mengidentifikasi sebanyak mungkin pertanyaan yang berkaitan dengan gambar
yang disajikan dan akan dijawab melalui kegiatan belajar.
·
Guru memberikan pertanyaan untuk siswa menganalisis mengenai gambar Interaksi Sosial yang di tayangkan
a.
Apa saja factor yang mendasari terjadinya
Interaksi tersebut?
b.
Sebutkan apa saja contoh dalam kehidupan sehari-hari yang
mencerminkan faktor yang mendasari terjadinya Interaksi sosial
3.
Kerjasama dan Berpikir Kritik
·
Guru mengarahkan siswa untuk menganalisis dengan
teman sebangku mengenai pertanyaan yang di
ajukan.
·
Guru
memberikan kebebasan kepada siswa untuk mencari sumber belajar dari buku atau
internet untuk menggali infromasi mengenai masalah yang diberikan.
·
Mengolah informasi dari materi Faktor yang mendasari Interaksi social yang sudah dikumpulkan dari hasil kegiatan/pertemuan sebelumnya mau
pun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi yang
sedang berlangsung dengan bantuan pertanyaan-pertanyaan pada lembar kerja.
4. Mengasosiasikan
·
Guru
memberikan kesempatan kepada siswa untuk memproses informasi yang telah
dikumpulkan dan saling bertukar pikiran antar teman sebangku.
5. Mengkomunikasikan
·
Menyampaikan hasil diskusi
tentang materi factor yang mendasari Interaksi sosial berupa kesimpulan
berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya untuk
mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis,
mengungkapkan pendapat dengan sopan.
·
Mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara klasikal tentang
materi factor yang mendasari Interaksi sosial
|
1 x 25 menit
|
|
|
Penutup
|
1. Membuat resume (CREATIVITY)
dengan bimbingan guru tentang point-point penting yang muncul dalam kegiatan
pembelajaran tentang materi factor yang mendasari Interaksi sosial yang baru dilakukan
2. Guru
melakukan penilaian dan atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah
dilaksanakan dengan penghargaan peringkat.
3. Guru
memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran.
4. Guru
merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk tugas kelompok dan
menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
5. Guru
menutup pelajaran dengan mengucapkan salam.
|
10 menit
|
|
I.
Lampiran
1.
Peta konsep

2.
Penjelasan Materi
1. Faktor
Imitasi
Gabriel Tarde beranggapan bahwa seluruh kehidupan sosial
sebenarnya berdasarkan faktor imitasi. Walaupun pendapat ini ternyata berat
sebelah, peranan imitasi dalam interaksi sosial itu tidak kecil.
Peranan imitasi dalam interaksi social juga mempunyai segi-segi
yang negatif. Yaitu, apabila hal-hal yang diimitasi itu mungkinlah salah atau
secara moral dan yuridis harus ditolak. Apabila contoh demikian diimitasi orang
banyak, proses imitasi itu dapat menimbulkan terjadinya kesalahan kolektif yang
meliputi jumlah serba besar.
Selain itu, adanya proses imitasi dalam interaksi sosial dapat
menimbulkan kebiasaan di mana orang mengimitasi sesuatu tanpa kritik, seperti
yang berlangsung juga pada faktor sugesti. Dengan kata lain, adanya peranan
imitasi dalam interaksi sosial dapat memajukan gejala-gejala kebiasaan malas
berpikir kritis pada individu manusia yang mendangkalkan kehidupannya.
Imitasi bukan merupakan dasar pokok dari semua interaksi sosial
seperti yang diuraikan oleh Gabriel tarde, melainkan merupakan suatu segi dari
proses interaksi sosial, yang menerangkan mengapa dan bagaimana dapat terjadi
keseragaman dalam pandangan dan tingkah laku di antara orang banyak.
Misalnya bagaimana seorang anak belajar berbicara. Mula-mula ia
mengimitasi dirinya sendiri kemudian ia mengimitasi kata-kata orang lain. Ia
mengartikan kata-kata juga karena mendengarnya dan mengimitasi penggunaannya
dari orang lain. Lebih jauh, tidak hanya berbicara yang merupakan alat
komunikasi yang terpenting, tetapi juga cara-cara lainnya untuk menyatakan
dirinya dipelajarinya melalui proses imitasi. Misalnya, tingkah laku tertentu,
cara memberikan hormat, cara menyatakan terima kasih, cara-cara memberikan
isyarat tanpa bicara, dan lain-lain. Selain itu, pada lapangan pendidikan dan
perkembangan kepribadian individu, imitasi mempunyai peranannya, sebab
mengikuti suatu contoh yang baik itu dapat merangsang perkembangan watak
seseorang. Imitasi dapat mendorong individu atau kelompok untuk melaksanakan
perbuatanperbuatan yang baik.
Namun
demikian, harus diakui dalam interaksi social peranan imitasi tidaklah kecil.
Terbukti, misalnya, kita sering melihat pada anak-anak yang sedang belajar
bahasa, seakan-akan mereka mengimitasi dirinya sendiri, mengulang-ulangi bunyi
kata-kata, melatih fungsi lidah dan mulut untuk berbicara, kemudian mengimitasi
orang lain. memang suatu hal yang sukar orang belajar bahasa tanpa mengimitasi
orang lain. (Mahmudah, 2010)
2.
Faktor
Sugesti
Yang
dimaksud sugesti disini ialah pengaruh psikis, baik yang datang dari dirinya sendiri
maupun dari rang lain yang pada umumnya diterima tanpa adanya daya kritik.
Gerungan mendefinisikan sugesti sebagai proses dimana seorang individu menerima
suatu cara penglihatan atau pedoman-pedoman tingkah laku orang lain tanpa
kritik terlebih dahulu (Mahmudah, 2010),
Menurut
Ahmadi, sugesti dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
(a)
Auto
Sugesti, yaitu sugesti terhadap diri sendiri yang datang dari dalam individu
yang bersangkutan, dan
(b)
Hetero-sugesti,
yaitu sugesti yang datang dari orang lain. Dalam kehidupan social, peranan
hetero-sugesti lebih dominan disbanding peranan auto-sugesti (Mahmudah, 2010)
Arti sugesti dan imitasi dalam hubungannya dengan interaksi sosial
hamper
sama. Bedanya adalah bahwa dalam imitasi itu orang
yang satu mengikuti sesuatu di luar dirinya;
sedangkan pada sugesti, seseorang memberikan pandangan
atau sikap dari dirinya yang lalu diterima oleh orang lain di luarnya. Sugesti dalam ilmu jiwa sosial dapat dirumuskan
sebagai suatu proses di mana seorang individu
menerima suatu cara penglihatan atau pedoman-pedoman
tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu.
Secara garis besar, terdapat beberapa keadaan tertentu serta
syarat-syarat
yang memudahkan sugesti terjadi, yaitu:
a.
Sugesti karena hambatan
berpikir
Dalam proses sugesti terjadi
gejala bahwa orang yang dikenainya mengambil alih pandangan-pandangan dari
orang lain tanpa memberinya pertimbangn-pertimbangan kritik terlebih dahulu.
Orang yang terkena sugesti itu menelan apa saja yang dianjurkan orang lain. Hal
ini tentu lebih mudah terjadi apabila ia – ketika terkena sugesti berada dalam
keadaan ketika cara-cara berpikir kritis itu sudah agak terkendala. Hal ini
juga dapat terjadi – misalnya – apabila orang itu sudah lelah berpikir, tetapi
juga apabila proses berpikir secara itu dikurangi dayanya karena sedang
mangalami rangsangan-rangsangan emosional. Misalnya: Rapat-rapat Partai Nazi
atau rapat-rapat raksasa seringkali diadakan pada malam hari ketika orang sudah
cape dari pekerjaannya. Selanjutnya mereka pun senantiasa memasukkan dalam
acara rapat-rapat itu hal-hal yang menarik perhatian, merangsang emosi dan
kekaguman sehingga mudah terjadi sugesti kepada orang banyak itu.
b.
Sugesti karena keadaan pikiran
terpecah-pecah (disosiasi)
Selain dari keadaan ketika
pikiran kita dihambat karean kelelahan atau karena rangsangan emosional,
sugesti itu pun mudah terjadi pada diri seseorang apabila ia mengalami
disosiasi dalam pikirannya, yaitu apabila pemikiran orang itu mengalami keadaan
terpecah-belah. Hal ini dapat terjadi – misalnya – apabila orang
yangbersangkutan menjadi bingung karena ia dihadapkan pada kesulitan-kesulitan
hidup yang terlalu kompleks bagi daya penampungannya. Apabila orang menjadi
bingung, maka ia lebih mudah terkena sugesti orang lain yang mengetahui jalan keluar
dari kesulitan-kesulitan yang dihadapinya itu. Keadaan semacam ini dapat pula
menerangkan mengapa dalam zaman modern ini orang-orang yang biasanya berobat
kepada dokter juga mendatangi dukun untuk memperoleh sugestinya yang dapat
membantu orang yang bersangkutan mengatasi kesulitan-kesulitan jiwanya.
c.
Sugesti karena otoritas atau
prestise
Dalam hal ini, orang cenderung menerima pandangan-pandangan atau
sikap-sikap tertentu apabila pandangan atau sikap tersebut dimiliki oleh para
ahli dalam bidangnya sehingga dianggap otoritas pada bidang tersebut atau
memiliki prestise sosial yang tinggi.
d. Sugesti
karena mayoritas
Dalam hal ini, orang lebih cenderung akan menerima suatu pandangan
atau ucapan apabila ucapan itu didukung oleh mayoritas, oleh sebagian besar
dari golongannya, kelompknya atau masyarakatnya.
e.
Sugesti karena ”will to
believe”
Terdapat pendapat bahwa sugesti justru membuat sadar akan adanya
sikap-sikap dan pandangn-pandangan tertentu pada orang-orang. Dengan demikian
yang terjadi dalam sugesti itu adalah diterimanya suatu sikap-pandangan
tertentu karena sikap-pandangan itu sebenarnya sudah tersapat padanya tetapi
dalam kedaan terpendam. Dalam hal ini, isi sugesti akan diterima tanpa
pertimbangan lebih lanjut karena pada diri pribadi orang yang bersangkutan
sudah terdapat suatu kesediaan untuk lebih sadar dan yakin akan hal-hal
disugesti itu yang sebenarnya sudah terdapat padanya.
3.
Faktor
Identifikasi
Identifikasi
dalam psikologi berarti dorongan untuk menjadi identic (sama) dengan orang
lain, baik secara fisik maupun non-fisik. Proses identifikasi pada kenyataannya
seringkali, untuk pertama kalinya berlangsung secara tidak sadar (secara dengan
sendirinya). Kedua, bersifat irasional, yaitu berdasarkan perasaan-perasaan aau
kecenderungan-kecenderungan dirinya yang tidak diperhitungkan secara rasional.
Ketiga, identifikasi berguna untuk melengkapi system norma-norma, cita-cita dan
pedoman-pedoman tingkah laku orang yang mengidentifikasi itu. Hal ini merupakan
efek lanjut dari akivitas identifikasi yang dilakukan seseorang (Mahmudah,
2010)
Identifikasi adalah sebuah
istilah dari psikologi Sigmund Freud. Istilah identifikasi timbul dalam uraian
Freud mengenai cara-cara seorang anak belajar norma-norma sosial dari orang
tuanya. Dalam garis besarnya, anak itu belajar menyadari bahwa dalam kehidupan
terdapat norma-norma dan peraturan-peraturan yang sebaiknya dipenuhi dan ia pun
mempelajarinya yaitu dengan dua cara utama.
Pertama ia mempelajarinya
karena didikan orangtuanya yang menghargai tingkah laku wajar yang memenuhi
cita-cita tertentu dan menghukum tingkah laku yang melanggar norma-normanya.
Lambat laun anak itu memperoleh pengetahuan mengenai apa yang disebut perbuatan
yang baik dan apa yang disebut perbuatan yang tidak baik melalui didikan dari
orangtuanya.
Identifikasi dalam psikologi
berarti dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan seorang lain.
Kecenderungan ini bersifat tidak sadar bagi anak dan tidak hanya merupakan
kecenderungan untuk menjadi seperti seseorang secara lahiriah saja, tetapi
justru secara batin. Artinya, anak itu secara tidak sadar mengambil alih
sikap-sikap orangtua yang diidentifikasinya yang dapat ia pahami norma-norma
dan pedoman-pedoman tingkah lakunya sejauh kemampuan yang ada pada anak itu.
Sebenarnya, manusia ketika ia
masih kekurangan akan norma-norma, sikapsikap, cita-cita, atau pedoman-pedoman
tingkah laku dalam bermacam-macam situasi dalam kehidupannya, akan melakukan
identifikasi kepada orang-orang yang dianggapnya tokoh pada lapangan kehidupan
tempat ia masih kekurangan pegangan. Demikianlah, manusia itu terus-menerus
melengkapi sistem norma dan cita-citanya itu, terutama dalam suatu masyarakat
yang berubah-ubah dan yang situasi-situasi kehidupannya serba ragam.
Ikatan yang terjadi antara
orang yang mengidentifikasi dan orang tempat identifikasi merupakan ikatan
batin yang lebih mendalam daripada ikatan antara orang yang saling mengimitasi
tingkah lakunya. Di samping itu, imitasi dapat berlangsung antara orang-orang
yang tidak saling kenal, sedangkan orang tempat kita mengidentifikasi itu
dinilai terlebih dahulu dengan cukup teliti (dengan perasaan) sebelum kita
mengidentifikasi diri dengan dia, yang bukan merupakan proses rasional dan
sadar, melainkan irasional dan berlangsung di bawah taraf kesadaran kita.
4.
Simpati
Simpati
adalah perasaan tertariknya orang yang satu dengan orang yang lain. Simpati
muncul dari dalam diri seorang individu tidak atas dasar rasional, melainkan
berdasarkan penilaian perasaaan seperti juga pada proses identifikasi. Seorang
individu tiba-tiba merasa dirinya tertarik kepada orang lain seakan-akan dengan
sendirinya, dan tertariknya itu bukan karena salah satu ciri tertenu, melainkan
karena keseluruhan cara-cara bertingkah laku menarik baginya (Mahmudah, 2010).
Simpati dapat dirumuskan
sebagai perasaan tertariknya seseorang terhadap orang lain. Simpati timbul
tidak atas dasar logis rasional, tetapi berdasarkan penilaian perasaan
sebagaimana proses identifikasi. Akan tetapi, berbeda dengan identifikasi,
timbulnua simpati itu merupakan proses yang sadar bagi manusia yang merasa
simpati terhadap orang lain. Peranan simpati cukup nyata dalam hubungan
persahabatan antara dua orang atau lebih. Patut ditambahkan bahwa simpati dapat
pula berkembang perlahan-lahan di samping simpati yang timbul dengan tiba-tiba.
Gejala identifikasi dan
simpati itu sebenarnya sudah berdekatan. Akan tetapi, dalam hal simpati yang
timbal-balik itu, akan dihasilkan suatu hubungan kerja sama di mana seseorang
ingin lebih mengerti orang lain sedemikian jauhnya sehingga ia dapat merasa
berpikir dan bertingkah laku seakan-akan ia adalah orang lain itu. Sedangkan
dalam hal identifikasi terdapat suatu hubungan di mana yang satu menghormati
dan menjunjung tinggi yang lain, dan ingin belajar daripadanya karena yang lain
itu dianggapnya sebagai ideal. Jadi, pada simpati, dorongan utama adalah ingin
mengerti dan ingin bekerja sama dengan orang lain, sedangkan pada identifikasi
dorongan utamanya adalah ingin mengikuti jejaknya, ingin mencontoh ingin
belajar dari orang lain yang dianggapnya sebagai ideal.
Hubungan simpati menghendaki
hubungan kerja sama antara dua atau lebih orang yang setaraf. Hubungan
identifikasi hanya menghendaki bahwa yang satu ingin menjadi seperti yang lain
dalam sifat-sifat yang dikaguminya. Simpati bermaksud kerja sama, identifikasi
bermaksud belajar.
5.
Empati
Faktor
selanjutnya yang mempengaruhi interaksi sosial adalah empati. Empati merupakan
faktor yang begitu mendalam. Empati adalah perasaan yang menempatkan diri kita
seolah- olah berada di posisi seseorang atau kelompok tertentu yang sedang
mengalami suatu perasaan tertentu. Pengertian dari empati merupakan keadaan
mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasikan dirinya dalam
suatu keadaan perasaan ataupun pikiran yang sama persis dengan orang atau kelompok
lain. Perasaan yang dirasakan dalam sikap empati ini begitu mendalam. Sebagai
contoh adalah ketika kita mendapati korban kecelakaan ataupun kebakaran, maka
orang- orang yang menjadi korban pasti akan merasakan kesedihan yang begitu
dalam. Nah, perasaan empati disini adalah kita ikut merasakan keadaan tersebut
dengan seolah- olah kita menempatkan diri menjadi para korban tersebut. Dengan
demikian kita akan memiliki sudut pandang yang sama dan perasaan yang sama
seperti para korban. Hal ini yang akan membawa kita ke dalam perasaan yang
mendalam dan kita akan lebih memahami perasaan dari pihak- pihak yang memiliki
masalah. Empati biasanya berlaku pada hal- hal yang bersifat kesedihan.
6.
Motivasi
Motivasi merupakan faktor
selanjutnya yang mempengaruhi interaksi sosial. Motivasi sering juga sebut
sebagai semangat atau dorongan. Ya memang benar. Motivasi merupakan dorongan
atau semangat yang diberikan kepada individu ke individu atau kelompok ke
kelompok, maupun antara individu dengan kelompok. Tujuan motivasi adalah agar
supaya orang yang diberikan motivasi menurut pada orang yang memberikan
motivasi untuk melakukan apa yang dimotivasikan. Sebagai contoh adalah seorang
ayah yang memberikan motivasi kepada anaknya supaya rajin belajar agar nantinya
menjadi juara kelas. Nah hal ini merupakan contoh motivasi antara individu
dengan individu. Selain itu motivasi juga bisa diberikan kepada individu pada
kelompok, kelompok pada individu atau kelompok pada kelompok. Motivasi ini
biasanya bersifat positif atau berlaku pada hal- hal yang baik.
7.
Sikap kepada orang lain
Faktor tambahan yang mempengaruhi
interaksi sosial adalah sikap kepada orang lain. Sikap positif kepada orang
lain akan sangat berpengaruh terhadap sikap orang lain kepada kita. Jadi
apabila kita bersikap baik, maka respon yang akan kita dapatkan juga baik.
Sebaliknya apabila kita bersikap buruk maka sikap orang kepada kita juga buruk.
Semua ini merupakan kekuatan timbal balik.
3.
Media
Media Pembelajaran “Mix and Match”
1.




2. 

3.



4.



5.



6. 


7.



8.



9.



10. 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Sekolah : SMA Negeri 5
Surakarta
Mata Pelajaran : Sosiologi
Kelas/Semester : X/ Genap
Materi Pokok : Hubungan antar Individu
dalam Pembentukan Kelompok Sosial
Alokasi
Waktu : 2 x 45
menit
A.
Kompetensi Inti
·
KI-1
dan KI-2: Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang
dianutnya.Menghayati dan mengamalkan
perilaku jujur, disiplin, santun, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran,
damai), bertanggung jawab, responsif, dan pro-aktif dalam berinteraksi secara
efektif sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan, keluarga, sekolah,
masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan
kawasan internasional”.
·
KI
3: Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual,
konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang
ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan
kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena
dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang
spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
·
KI4:
Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri,
bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metode sesuai
kaidah keilmuan
B.
Kompetensi Dasar dan Indikator
Pencapaian Kompetensi
|
Kompetensi Dasar
|
Indikator
|
|
KD 3.2 Mengenali dan
Mengidentifikasikan Realitas Individu, Kelompok, dan Hubungan di Masyarakat
|
3.2.1 Siswa mampu menyimpulkan pengertian
kelompok sosial
3.2.2 Siswa mampu menyatakan syarat terbentuknya kelompok sosial
|
|
KD 4.2
Mengolah realitas individu, kelompok dan hubungan sosial sehingga mandiri dalam
memposisikan diri dalam pergaulan sosial di masyarakat
|
4.2.1 Menyusun laporan hasil observasi
tentang Hubungan antar
Individu dalam Pembentukan Kelompok Sosial
|
C.
Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti proses pembelajaran, peserta didik dapat:
1. Siswa mampu menyimpulkan pengertian kelompok
sosial
2. Siswa mampu menyatakan syarat terbentuknya
kelompok sosial
D. Materi pembelajaran
Hubungan antar Individu
dalam Pembentukan Kelompok
·
Pengertian Kelompok
Sosial
·
Syarat Terbentuknya
Kelompok Sosial
Fakta
·
Hubungan antar individu
dalam pembentukan kelompok sosial
Konsep
·
Definisi Kelompok
Sosial
Prinsip
·
Syarat Terbentuknya
Kelompok Sosial
Prosedur
·
Keterkaitan
hubungan antar individu dengan pembentukan kelompok sosial (syarat terbentuknya
kelompok sosial) dalam kehidupan sehari-hari
E.
Metode Pembelajaran
1. Pendekatan:
saintifik
2. Model
Pembelajaran : Discovery learning
3. Metode
Pembelajaran : ceramah, diskusi, studi literatur, penugasan
F.
Media Pembelajaran
Media
1. Power point
2. Cetak: buku,
modul.
3. Manusia dalam
lingkungan: guru, pustakawan.
Alat /Bahan
1. Laptop
2. Powerpoint,
lcd
3. Proyeksi
visual diam: gambar
G.
Sumber Belajar
1. Wulansari,
Dewi. 2009. Sosiologi Konsep dan Teori.
Bandung : PT Refiks Aditama.
2. Soekanto,
Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar.
Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
3.
Hendry Lukmana, Belva dan
Bambang Wiratsasongko. 2017. Hubungan
antara Dukungan Kelompok Sosial Dengan Perilaku Pemilih Pada Pemilihan Kepala
Daerah Kabupaten Sukoharjo Tahun 2015. Jurnal Sosiologi DILEMA, Vol. 32,
No. 1.
4.
Pengalaman peserta didik dan guru
H.
Langkah-langkah Pembelajaran
|
Pertemuan ke -3 (2x45 menit)
|
||
|
Kegiatan
pendahuluan (10 menit)
|
||
|
Guru
Orientasi
1.
Guru memberi salam, dan
mengajak siswa berdoa
2.
Bernyanyi Indonesia Raya
3.
Guru
menanyakan kabar dan mengecek kehadiran siswa
4.
Guru menanyakan apakah siswa sudah siap untuk memulai pembelajaran
5.
Guru menjelaskan KD Tujuan dari pembelajaran
Apersepsi
1.
Memberikat pertanyaan mengenai
apakah pernah mereka maelihat kelompok sosial, dan apa saja kelompok sosial
yang pernah mereka lihat di kehidupan sehari hari.
Motivasi
1. Memberikan
gambaran tentang manfaat mempelajari Hubungan antar Individu dalam
Pembentukan Kelompok dalam kehidupan sehari-hari
2. Apabila materi
tema/projek ini kerjakan dengan baik
dan sungguh-sungguh ini dikuasai dengan baik, maka peserta didik diharapkan
dapat menjelaskan tentang materi : Hubungan antar
Individu dalam Pembentukan Kelompok Sosial
3. Menyampaikan tujuan
pembelajaran pada pertemuan yang
berlangsung
Pemberian
acuan
1. Guru
memberitahukan materi pelajaran yang
akan dibahas pada pertemuan ini, yaitu Hubungan antar
Individu dalam Pembentukan Kelompok Sosial
2. Guru menjelaskan
mengenai KD dan tujuan dari proses pembelajaran
|
||
|
Kegiatan
inti (60 menit)
|
||
|
Sintak
Model Pembelajaran
|
Kegiatan Pembelajaran
|
|
|
Stimulation
(stimullasi/ pemberian rangsangan) |
Kegiatan
Literasi
Peserta didik diberi motivasi atau rangsangan untuk memusatkan
perhatian pada topik materi Hubungan antar Individu
dalam Pembentukan Kelompok Sosial dengan cara :
Melihat :
Menayangkan gambar tentang kelompok sosial di
slide power point.
Mengamati :
Guru mengarahkan siswa untuk mengamati dua gambar yang berkaitan
dengan Hubungan antar Individu dalam Pembentukan Kelompok
Sosial, yang ada di slide power
point.
Membaca:
Kegiatan literasi ini dilakukan di rumah dan
di sekolah dengan membaca materi dari buku paket atau buku-buku penunjang
lain, dari internet/materi yang berhubungan dengan Hubungan
antar Individu dalam Pembentukan Kelompok Sosial
Menulis
:
Menulis resume dari hasil pengamatan terhadap
gambar dan bacaan terkait pengertian kelompok sosial dan syarat terbentuknya
kelompok sosial
Mendengar:
Pemberian materi mengenai pengertian kelompok
sosial dan syarat terbentuknya kelompok sosial oleh guru
Menyimak :
Penjelasan pengantar kegiatan secara garis
besar/global tentang materi pelajaran mengenai materi : kelompok sosial dan
syarat terbentuknya
|
|
|
Problem
statemen (pertanyaan/ identifikasi masalah) |
Berpikir
Kritik
- Guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk
mengidentifikasi sebanyak mungkin pertanyaan yang berkaitan dengan gambar
yang disajikan dan akan dijawab melalui kegiatan belajar,
- Mengajukan pertanyaan : guru mempersilahkan siswa mengajukan
pertanyaan yang belum ia pahami terkait materi pelajarah hari itu.
|
|
|
Data
collection (pengumpulan data) |
Kegiatan
Literasi
Peserta didik mengumpulkan informasi yang relevan untuk menjawab
pertanyan yang telah diidentifikasi melalui kegiatan:
Mengamati obyek/kejadian :
Mengamati dengan seksama materi pengertian kelompok sosial dan
syarat terbentuknya kelompok sosial yang sedang dipelajari
Membaca sumber lain selain buku teks :
Secara disiplin melakukan kegiatan literasi dengan mencari dan membaca
berbagai referensi dari berbagai sumber guna menambah pengetahuan dan
pemahaman tentang materi pengertian kelompok sosial dan syarat terbentuknya
kelompok sosial yang sedang dipelajari.
Aktivitas
Menyusun daftar pertanyaan atas hal-hal yang belum dapat
dipahami dari kegiatan mengmati dan membaca yang akan diajukan kepada guru
berkaitan dengan materi pengertian kelompok sosial dan syarat terbentuknya
kelompok sosial yang sedang dipelajari.
Collaboration (Kerja
Sama)
1.
Guru membagi siswa kedalam 3 kelompok dengan cara berhitung 1-4, lalu
siswa dipersilahkan untuk berkumpul dengan kelompoknya masing-masing.
2.
Setelah semua siswa berkumpul dengan kelmpoknya, guru meminta
masing-masing kelompok untuk mencari syarat terbentuknya kelompok sosial
secara umum dengan melihat kelompok-kelompok sosial yang pernah mereka temui.
|
|
|
Data
processing (pengolahan Data)
Verification
(pembuktian)
|
Collaboration (Kerjasama)
dan Critical Thinking (Berpikir Kritik)
Peserta
didik bersama kelompok masing-masing mendiskusikan tugas yang telah diberikan
oleh guru.
|
|
|
Critical Thinking (Berpikir
Kritik)
Peserta didik mendiskusikan hasil pengamatannya dan
memverifikasi hasil pengamatannya dengan data-data atau teori pada buku
sumber melalui kegiatan dan juga peserta didik dan guru secara bersama-sama
membahas hasil diskusi.
|
||
|
|
||
|
Generalization
(menarik kesimpulan)
|
Communication (Berkomunikasi)
1.
Guru meminta setiap kelompok, dimulai dari kelompok satu,
menyampaikan hasil diskusi kelompok masing-masing.
2.
Setelah selesai mengkomunikasikan hasil diskusinya, setiap kelompok
akan membuka sesi tanya jawab. Bagi anak yang bertanya ataupun menambahi akan
diberi nilai tambahan oleh guru.
Creativity (Kreativitas)
Menyimpulkan tentang
point-point penting yang muncul dalam kegiatan pembelajaran yang baru
dilakukan berupa :
Laporan hasil diskusi
yang ditulis tangan dan dikumpulkan kepada guru
|
|
|
Catatan : Selama
pembelajaran pengertian kelompok
sosial dan syarat terbentuknya kelompok sosial berlangsung, guru mengamati sikap siswa dalam pembelajaran yang
meliputi sikap: nasionalisme,
disiplin, rasa percaya diri, berperilaku jujur, tangguh menghadapi
masalah tanggungjawab, rasa ingin tahu, peduli lingkungan
|
||
|
Kegiatan Penutup (15
menit)
|
||
|
Peserta didik :
Setelah semua kelompok selesai mengkomunikasikan
hasil diskusinya dan menulis laporan hasil diskusi, guru memberi kesempatan
kepada satu yang ingin menyampaikan kesimpulan tentang pengertian kelompok
sosial dan syarat terbentuknya kelompok sosial.
Guru :
·
Setelah salah satu siswa memberi kesimpulan, barulah kemudian guru
memberi kesimpulan terkait materi yang sudah dibahas dan menunjukkan slide
power point tentang teori struktural fungsional, konflik, dan interaksionisme
simbolik, lalu menanyakan kepada siswa tentang apa manfaat yang diperoleh
setelah belajar materi hari ini.
·
Guru menutup pembelajaran dengan salam.
|
||
I.
Lampiran
1. Peta Konsep
2. Materi
Pembelajaran
MATERI PEMBELAJARAN
KD 3.2 Mengenali dan Mengidentifikasikan Realitas
Individu,
Kelompok, dan Hubungan di Masyarakat
Pertemuan ke-3, Kelas X
Galuh Icha Rizkina / K8417033
A. Hubungan
antar Individu dalam Pembentukan Kelompok
1.
Pengertian Kelompok
Sosial
Kelompok Sosial atau social group
adalah himpunan atau kesatuan manusia yang terdiri dari dua atau lebih individu
yang hidup bersama, saling berhubungan, saling mempengaruhi, dengan suatu
kesadaran untuk saling menolong. (Dewi Wulansari, 2009: 43)
Kelompok-kelompok sosial merupakan
himpunan manusia yang saling hidup bersama
dan menjalani saling
ketergantungan dengan sadar
dan tolong menolong. (R.M. Macler & Charles H. Page: Society, An Introductory Analysis, Macmillan & Co.Ltd., London, 1961: 213)
Kelompok sosial
atau social group adalah
himpunan atau kesatuan
manusia yang hidup bersama, karena adanya hubungan di antara mereka.
Hubungan tersebut antara lain menyangkut hubungan timbal balik yang saling
mempengaruhi dan juga suatu kesadaran untuk saling menolong (Soejono Soekanto,
2006:104).
Menurut Paul B. Horton dan Chester L
Hunt, Istilah kelompok sosial diartikan sebagai kumpulan manusia yang memiliki
kesadaran akan keanggotannya dan saling berinteraksi.
Menurut George Homans, Kelompok
Sosial adalah kumpulan individu yang melakukan kegiatan, interaksi, dan
memiliki perasaan untuk membentuk suatu keseluruhan yang terorganisasi dan
berhubungan timbal balik.
2.
Syarat Terbentuknya
Kelompok Sosial
Menurut Soerjono Soekanto (1990:
115), setap himpunan manusia belum tentu dapat disebut sebagai kelompok sosial.
Baru dapat disebut kelompok sosial apabila telah memenuhi beberapa persyaratan
tertentu, yaitu:
a.
Setiap anggota kelompok tersebut harus sadar
bahwa dia merupakan sebagian dari
kelompok yang bersangkutan.
b.
Ada hubungan timbal balik
antara anggota yang satu dengan anggota yang lainnya, dalam kelomopok itu.
c.
Ada suatu faktor yang
dimiliki bersama oleh anggota-anggota kelompok itu, sehingga hubungan mereka
bertambah erat. Faktor tadi dapat merupakan nasib yang sama, kepentingan yang
sama, tujuan yang sama, ideology olitik yang sama, dan lain sebagainya.
Mempunyai musuh yang sama dapat pula menjadi faktor pengingat/pemersatu.
d.
Berstruktur, berkaidah,
dan mempunyai pola perilaku.
e.
Bersistem dan berproses.
Sumber :
·
Wulansari, Dewi. 2009. Sosiologi Konsep dan Teori. Bandung : PT
Refiks Aditama.
·
Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada.
·
Hendry Lukmana, Belva dan
Bambang Wiratsasongko. 2017. Hubungan
antara Dukungan Kelompok Sosial Dengan Perilaku Pemilih Pada Pemilihan Kepala
Daerah Kabupaten Sukoharjo Tahun 2015. Jurnal Sosiologi DILEMA, Vol. 32,
No. 1.
3.
Media Pembelajaran






Komentar
Posting Komentar