MATERI PEMBELAJARAN KELAS XI
FITRI SEKTI I
K8417032
Materi 1 Telaah Kurikulum
Konflik Sosial dan Globalisasi
1.
Konflik Sosial
a.
Pengertian
Istilah konflik secara etimologis berasal
dari bahasa latin “con” yang berarti
bersama dan “fligere” yang berarti
benturan atau tabrakan. Konflik merupakan satu keadaan dimana terdapat benturan
kepentingan, keinginan, pendapat dan lainnya yang melibatkan kedua belah pihak
atau lebih. Secara sederhana konflik dapat diartikan sebagai perselisihan atau
persengkataan antar dua orang atau lebih kekuatan baik secara individu atau
kelompok yang kedua belah pihak memiliki keinginan untuk saling menjatuhkan
atau menyingkirkan atau mengalahkan atau menyisihkan.
Konflik dan Kekerasan merupakan konsep yang
tidak sama. Tetapi benih-benih dari setiap kekerasan muncul dari adanya suatu konflik
yang tidak dapat terselesaikan dan berkepanjangan. Perang, tetorisme, dan
tindakan kekerasan lainnya bukannlah konflik, melainkan dampak dari konflik.
Konflik merupakan proses sosial yang akan terus terjadi dalam diri
manusia dan di dalam masyarakat, baik secara pribadi atau kelompok, dalam
rangka perubahan untuk mencapai tujuan tertentu dengan cara menentang lawannya.
Konflik dapat memicu terjadinya kekerasan yang biasanya ditandai oleh adanya
kerusuhan, pengrusakan dan perkelahian. Kekerasan merupakan
gejala yang muncul sebagai salah satu efek dari konflik. Tindakan kekerasan ini sering tidak jelas tujuannya, ada kalanya hanya untuk kesenangan belaka, ikut dengan orang lain karena takut disebut tidak memiliki rasa kebersamaan, atau karena ditumpangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu yang sengaja menciptakan kekacauan, dan tidak lahir dari tuntutan-tuntutan kelompok
yang menentang, serta pelakunya tidak memahami tindakan yang mereka lakukan.
gejala yang muncul sebagai salah satu efek dari konflik. Tindakan kekerasan ini sering tidak jelas tujuannya, ada kalanya hanya untuk kesenangan belaka, ikut dengan orang lain karena takut disebut tidak memiliki rasa kebersamaan, atau karena ditumpangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu yang sengaja menciptakan kekacauan, dan tidak lahir dari tuntutan-tuntutan kelompok
yang menentang, serta pelakunya tidak memahami tindakan yang mereka lakukan.
Salah satu contoh konflik yang diakhiri
dengan kekerasan dan tidak memiliki tujuan yang jelas, misalnya tawuran antar
pelajar. Berbagai sebab yang memicu terjadinya tawuran tersebut beraneka ragam,
akan tetapi tetap saja tujuannya tidak jelas, apa yang mereka (para pelajar)
diperebutkan atau diperjuangkan. Biasanya pemicu tawuran antar pelajar hanya
sepele, mungkin
hanya kesalahan bicara atau olok-olok antar teman.
hanya kesalahan bicara atau olok-olok antar teman.
b.
Macam-Macam Konflik
1.
Konflik pribadi
Konflik pribadi yaitu merupakan pertentangan
yang terjadi secara individual yang melibatkan dua orang yang bertikai.
Misalnya pertentangan yang terjadi antar dua teman, perselisihan
suami dengan istri, pertentangan antara pimpinan dengan salah seorang stafnya.
suami dengan istri, pertentangan antara pimpinan dengan salah seorang stafnya.
2.
Konflik kelompok
Konflik ini terjadi karena adanya
pertentangan antara dua kelompok dalam masyarakat. Misalnya pertentangan antara
dua perusahaan yang memproduksi barang sejenis dalam memperebutkan daerah
pemasaran, pertentangan antara dua kesebelasan olah raga.
3.
Konflik antar kelas sosial
Konflik antar kelas dapat terjadi pada status
sosial yang berbeda, yang dapat disebabkan oleh perbedaan kepentingan atau
perbedaan pandangan. Dalam kehidupan sehari-hari sering ditemukan bentuk
konflik ini, seperti pertentangan antara majikan dengan buruh, pertentangan
antara yang kaya dengan yang miskin, antara petani dengan tuan tanah.
4.
Konflik rasial
Ras yaitu sekelompok manusia yang memiliki
ciri-ciri badaniah yang sama dan berbeda dengan kelompok lainnya. Ciri-ciri
tersebut dapat terlihat dari bentuk tubuh, warna kulit, corak rambut, bentuk
muka dan lain-lain, yang sifatnya kasat mata, sehingga dengan mudah
dapat dibedakan dengan kelompok lain. Jadi konflik rasial ini adalah pertikaian yang terjadi karena didasarkan perbedaan pandangan terhadap ada perbedaan ciri-ciri jasmaniah tersebut.
dapat dibedakan dengan kelompok lain. Jadi konflik rasial ini adalah pertikaian yang terjadi karena didasarkan perbedaan pandangan terhadap ada perbedaan ciri-ciri jasmaniah tersebut.
5.
Konflik politik
Politik merupakan salah satu aspek dalam
sistem sosial yang menyangkut masalah kekuasaan, wewenang dan pemerintahan.
Konflik politik yaitu pertentangan yang terjadi dalam masyarakat karena
perbedaan pendapat atau ideologi yang dianut oleh masing-masing
kelompok. Misalnya pertikaian antara kaum penjajah dengan pribumi, pertentangan antar dua partai politi, pertentangan antara pemerintah dengan rakyat.
kelompok. Misalnya pertikaian antara kaum penjajah dengan pribumi, pertentangan antar dua partai politi, pertentangan antara pemerintah dengan rakyat.
6.
Konflik budaya
Budaya erat kaitannya dengan kebiasaan atau
adat istiadat yang dianut oleh anggota masyarakat. Konflik budaya yaitu
pertentangan yang terjadi dalam masyarakat disebabkan oleh adanya perbedaan
budaya. Biasanya bentuk konflik ini sering terjadi pada penduduk yang
prularistik dengan latar belakang budaya yang berbeda, sehingga dapat
menimbulkan
pertentangan antara budaya yang satu dengan lainnya. Selain itu, dapat pula terjadi pertentangan antara budaya daerah dengan budaya yang berasal dari luar atau pertentangan budaya barat dan timur.
pertentangan antara budaya yang satu dengan lainnya. Selain itu, dapat pula terjadi pertentangan antara budaya daerah dengan budaya yang berasal dari luar atau pertentangan budaya barat dan timur.
c.
Faktor Penyebab Konflik Sosial
1.
Adanya perbedaan kepribadian, pendirian, perasaan atau pendapat antar
individu yang tidak mendapat toleransi di antara individu tersebut, sehingga
perbedaan tersebut semakin meruncing dan mengakibatkan munculnya konflik
pribadi.
2.
Adanya perbedaan kebudayaan yang mempengaruhi perilaku dan pola berpikir
sehingga dapat memicu lahirnya pertentangan antar kelompok atau antar
masyarakat.
3.
Adanya perbedaan kepentingan atau tujuan di antara individu atau
kelompok, baik pada dimensi ekonomi dan budaya maupun politik dan keamanan.
4.
Adanya perubahan sosial yang relatif cepat yang diikuti oleh adanya
perubahan nilai atau sistem sosial. Hal ini akan menimbulkan perbedaan
pendirian di antara warga masyarakat terhadap reorganisasi dari sistem nilai
yang baru tersebut, sehingga memicu terjadinya disorganisasi sosial.
Dalam masyarakat, konflik selalu akan
mewarnai fenomena sosial yang terefleksikan sebagai fakta sosial. Konflik
sebagai proses sosial akan selalu berlangsung dalam kehidupan bermasyarakat
karena masyarakat bersifat dinamis. Dinamika tersebut merupakan jawaban atas
tuntutan kehidupan baik secara pribadi maupun kelompok. Hal ini sangat
dipengaruhi oleh karakteristik masyarakat yang terdisi atas individu-individu
yang diorganisasikan oleh norma dan nilai sosial.
d.
Dampak Konflik Sosial
1)
Dampak Positif
-
Konflik dapat meningkatkan kohesivitas dan solidaritas anggota kelompok
-
Memunculkan isu-isu, harapan-harapan yang terpendam yang dapat menjadi
katalisator perubahan sosial
-
Memperjelas norma dan tujuan kelompok
-
Munculnya pribadi-pribadi atau mental-mental masyarakat yang tahan uji
dalam menghadapi segala tantangan dan permasalahan yang dihadapi, sehingga
lebih bisa mendewasakan masyarakat
2)
Dampak Negatif
-
Retaknya persatuan kelompok, hal ini terjadi bilamana terjadi
pertentangan angota-anggota dalam satu kelompok.
-
Perubahan kepribadian individu, pertentangan di dalam kelompok atau
antar kelompok dapat menyebabkan individu-individu tertentu merasa tertekan
sehingga mentalnya tersiksa.
-
Dominasi pihak yang lebih kuat dan takluknya pihak yang lemah, sehingga
dapat menimbulkan kekuasaan yang otoriter (dalam politik) atau monopoli (dalam
ekonomi).
-
Banyaknya kerugian baik harta benda, jiwa, dan mental bangsa, yang
menjurus pada ketidakteraturan tatanan sosial.
e.
Fungsi Konflik Sosial
George Simmel menyatakan bahwa masyarakat
yang sehat tidak hanya membutuhkan hubungan sosial yang sifatnya integratif dan
harmonis, tetapi membutuhkan adanya konflik. Dari asumsi ini, Lewis Coser dan
Joseph Himes melakukan studi lebih lanjut tentang fungsi positif konflik sosial
bagi kelangsungan hidup masyarakat. Dalam padangan Coser, konflik mempunyai
fungsi positif yaitu :
1)
Konflik dapat meningkatkan solidaritas pada suatu kelompok. Dimana
anggota masyarakat yang semula kurang kompak dan memiliki gejala integrasi,
kembali terbentuk integrasi sosialnya.
2)
Konflik dengan kelompok tertentu akan menimbulkan hunugan tarik-menarik
antara kelompok satu dengan kelompok yang lainnya.
3)
Konflik di dalam masyarakat biasanya akan menggugah warga masyarakat
yang semula pasif menjadi aktif dalam memainkan peran tertentu dalam
masyarakat.
4)
Konflik memiliki fungsi komunikasi.
Berbeda dengan Lewis Coser, Himes memandang
tidak semua konflik sosial berimplikasi negative, di sisi lain konflik memiliki
fungsi negatif, diantaranya :
1)
Konflik dapat mengubah keseimbangan kekuasaan antara kelompok dominan
dan minoritas.
2)
Konflik akan menumbuhkan kesadaran tentang siapa mereka dan mempertegas
batas-batas kelompok.
3)
Konflik dapat memecah kelompok masyarakat yang semula damai.
2.
Globalisasi
Globalisasi diartikan sebagai proses yang menghasilkan
dunia tunggal. Masyarakat di seluruh dunia menjadi saling tergantung di semua
aspek kehidupan: politik, ekonomi, dan budaya. Globalisasi adalah masalah
kehidupan modern yang tak dapat terhindarkan.
Globalisasi merupakan istilah yang berhubungan
dengan peningkatan keterkaitan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia
melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya popular, jaringan
komunikasi, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain. Dampak dari globalisasi yang
cukup menonjol adalah kawasan antarkultur bangsa “seolah-olah telah melebur
menjadi kultur dunia (global)”. Gejala globalisasi ini menjadikan hubungan
antarbangsa menjadi semakin dekat, sebab manusia dalam kawasan tertentu dapat
melakukan komunikasi dengan siapapun dikawasan manapun.
Komentar
Posting Komentar