MATERI PEMBELAJARAN KELAS XI
FITRI QORI IMAMI
K8417031
Pendidikan Sosiologi Antropologi
Kelas B
KOMPETENSI
DASAR 3.1
Memahami
Pengelompokan Sosial Di Masyarakat Dari Sudut Pandang dan Pendekatan Sosiologis
Kelas
XI
Pertemuan
ke 14
Materi Pembelajaran
A. Partikularisme
Kelompok
1. Pengertian
Partikularisme Kelompok
Partikularisme adalah sistem yang
mengutamakan kepentingan pribadi diatas kepentingan umum atau aliran politik,
ekonomi, kebudayaan yang membandingkan daerah atau kelompok sekunder khusus. Dalam
masyarakat partikularisme ini sering terjadi pada mereka yang hanya dapat
memikirkan dirinya sendiri saja tanpa mempedulikan sekitarnya. Partikularisme
kelompok dapat menyebabkan munculnya sikap egois dan cenderung tertutup dengan
kebudayaan yang lain. Selain itu, juga dapat menimbulkan sikap primordialisme
dan etnosentrisme. Partikularisme memiliki kemungkinan menjadi sumber konflik
karena cenderung mementingkan pribadi atau kelompok sendiri dari pada
kepentingan umum atau publik. Partikularisime juga dapat menghambat integrasi
sosial dan nasional.
Menurut Craig Stortie, partikularisme berkaitan dengan
bagaimana seseorang berperilaku dalam situasi tertentu. Orang tersebut akan
memperlakukan keluarga, teman, dan in-group
nya sebaik yang dia bisa, dan membiarkan orang lain mengurus dirinya sendiri.
2.
Ciri-Ciri Partikularisme
Kelompok
-
Individualis, mementingkan
kepentingan pribadi daripada umum
-
Heterogen, bersifat dan berpandangan
yang berbeda/ macam-macam
-
Mobilitas tinggi, memiliki dan
menghadapi perubahan yang cepat
-
Berorientasi pada rasionalitas dan
fungsi, mengedepankan logika dan teknologi
Contohnya dalam kehidupan
sehari-hari adalah seorang pemimpin di suatu perusahaan kontruksi yang hanya
memperkerjakan buruh yang berasal dari kampungnya sendiri. Contoh lain, Bangsa
Israel yang tidak mau melaksanakan pernikahan dengan suku bangsa lain, dan seseorang
yang selalu ingin dianggap paling baik dan benar, dan sebagainya.
B. Eksklusivisme
Kelompok
1. Pengertian
Eksklusivisme Kelompok
Eksklusivisme berarti paham yang mempunyai kecenderungan
untuk memisahkan diri dari masyarakat. Eksklusivisme ini berkaitan erat dengan
partikularisme, sebab mengutamakan kepentingan pribadi kemudian membuat
kelompok tersebut mempunyai kecenderungan memisahkan diri dengan sikap khusus
yang disepakati dalam kelompok.
Eksklusivisme dapat memiliki dampak
positif dan negatif. Dampak positif eksklusivisme, yaitu masyarakat dapat tetap
mempertahankan kebudayaan kelompoknya karena menganggap kelompoknya yang paling
baik dan wajib dipertahankan, mampu membedakan dirinya dengan orang lain, serta
tidak mudah terbawa oleh kelompok lain, sedangkan dampak negatif yang
ditimbulkan dari eksklusivisme, yaitu membuat seseorang menganggap kepentingan
kelompok sendiri menjadi satu-satunya hal yang penting, tertutup pada pengaruh
budaya lain sehingga sangat sulit melakukan berbagai perubahan yang bersifat
progresif, dan dapat memecah belah persatuan.
2.
Ciri-Ciri Eksklusivisme Kelompok
-
Mengutamakan kepentingan
pribadi.
-
Memiliki kecenderungan
untuk memisahkan diri dengan sikap khusus yang disepakati dalam kelompok.
Contohnya,
suatu
budaya terpencil memisahkan diri dari masyarakat karena mereka tidak mau budaya
mereka terpengaruh dengan budaya yang sedang berkembang sehingga mereka lebih
memilih untuk memisahkan diri dari masyarakat agar budaya mereka yang mereka
percayai tidak berubah atau tidak terpengaruh dengan budaya yang baru karena
mereka sudah menganggap peraturan dari budaya mereka sudah baik dan harus
dilaksanakan, seperti masyarakat Badui, masyarakat Suku Naga, masyarakat
Metawai, masyarakat Madura, dan masyarakat Bugis. Contoh lain masyarakat yang
menganut konsep eksklusif dan biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari dimana
terdapat satu kelompok yang terdiri dari orang-orang yang hanya mau berteman
dengan orang yang dianggap kaya, keren, atau orang yang memiliki status sosial
yang tinggi.
Implementasi konsep partikularisme dan eksklusivisme
dalam kelompok sosial dapat dilihat dari bagaimana kelompok tersebut
diidentifikasi menurut karakteristik kelompok, misalnya penerapan nilai dan
norma dalam kelompok tersebut. Partikular dan eksklusif dapat dilihat dari
cakupan yang lebih luas, artinya melihat kelompok sosial secara global. Konsep
ini sering dikaitkan dengan bahasan universalisme dan globalisasi. Melihat
konsep globalisasi, sering kelompok sosial dengan konsep partikular ini
diidentikkan dengan masyarakat tradisional yang masih kuat mempertahankan nilai
dan norma yang dipercayai oleh kelompok tersebut. Di Indonesia, ada banyak
etnis yang ini sesuai dengan konsep partikular dan eksklusif ini.
Sumber :
-
Buku Sosiologi Siswa Kelas XI Semester 1
-
Soekanto, Soerjono.
2006. Sosiologi Suatu Pengantar.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
-
Indawatik, Rita, dkk. 2013. Eksklusifitas
Siswa (Studi Fenomenologi Konstruksi Sosial Pola Eksklusifitas Siswa Pada Kelas
Unggulan Di Sma Muhammadiyah 1 Sragen Tahun Ajaran 2011/201)).
Jurnal Analisa Sosiologi. 2(1): 54.
-
Riska, dkk. 2007. Makalah. Dalam: Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan di Universitas
Indraprasta PGRI Jakarta, Januari 2007.
Terimakasih banyak atas materinya๐๐ป
BalasHapusbaguss materinya lengkap๐
BalasHapusThanks for materi nya kak๐๐
BalasHapussangat bermanfaat, terimakasih
BalasHapusAdek adek kelasku.... Salam dr kating mu yg jauuhhhhhh di atas mu dan jd alumni perintis sosant ๐๐๐๐
BalasHapus