MATERI PEMBELAJARAN KELAS XI
PETA
KONSEP
KD
3.2 : Memahami Permasalahan Sosial dalam Kaitannya dengan Pengelompokan Sosial
dan Kecenderungan Eksklusi Sosial di
Masyarakat dari Sudut Pandang dan Pendekatan Sosiologis
Pertemuan
ke-4
KELAS
XI
GALUH
ICHA R
Teori tentang Masalah
Sosial
Masalah sosial merupakan situasi yang dinyatakan sebagai keadaan yang bertentangan
dengan nilai-nilai oleh warga masyarakat yang cukup penting, dimana masyarakat
sepakat melakukan suatu tindakan guna mengubah situasi tersebut
1.
Teori Fungsional-Struktural
Teori fungsional struktural
dicetuskan oleh Talcott Parson. Asumsi dasar dari Teori Fungsionalisme
Struktural, salah satu paham atau prespektif di dalam sosiologi yang memandang
masyarakat sebagai satu sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling
berhubungan satu sama lain dan bagian yang satu tidak dapat berfungsi
tanpaadanya hubungan dengan bagian yang lainya. Kemudian perubahan yang terjadi
pada satu bagian akan menyebabkan ketidakseimbangan dan pada giliranya akan
menciptakan perubahan pada bagian lainya. (Bernard Raho,SVD , Teori Sosiologi
Modern, (Jakarta: Prestasi Pustaka 2007), 48)
Masyarakat terintegrasi
atas dasar kesepakatan dari para anggotanya akan nilai-nilai kemasyarakatan
tertentu yang mempunyai kemampuan mengatasi perbedaan-perbedaan sehingga
masyarakat tersebut dipandang sebagai suatu sistem yang secara fungsional
terintegrasi dalam suatu keseimbangan. Dengan demikian masyarakat adalah
merupakan kumpulan sistem-sistem sosial yang satu sama lain berhubungan dan
saling ketergantungan. (Richard Grathoff, Kesesuaianantara Alfred Schutzdan
Talcott Parsons:Teori Aksi Sosial, (Jakarta: kencana, 2000), 67-87)
Dalam
teori fungsionalisme struktural, masyarakat sering dibandingkan dengan suatu
organisme raksasa yang terdiri dari banyak struktur, semuanya berfungsi secara
bersama-sama untuk memelihara keseluruhan sistem. Fungsi-fungsi pokok
fungsionalisme struktural menurut Setephen K.Sanderson (1993:9) ,antara lain :
a.
Masyarakat merupakan
system yang kompleks yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan
dan tergantung.
b.
Setiap bagian dari sebuah
masyarakat eksis karena masyarakat tersebut memiliki fungsi penting dalam
memelihara eksistensi dan stabilitas masyarakat secara keseluruhan.
c.
Semua masyarakat memiliki
mekanisme untuk mengintegrasikan dirinya, yaitu mekanisme yang dapat
merekatkannya menjadi satu.
d.
Masyarakat cenderung
mengarah pada satu keadaan equilibrium atau hemeostatis.
e.
Perubahan sosial
merupakan kejadian yang tidak biasa dalam masyarakat, tetapi bila itu terjadi
juga maka perubahan itu pada umumnya akan membawa konsekuensi-konsekuensi pada
masyarakat secara keseluruhan.
Tokoh-Tokoh
Teori Fungsional Struktural
a. Herbert
Spencer
Adalah
ahli sosiologi Inggris pada pertengahan abad ke-19 yang membahastentang
fungsional struktural dengan menganalogikan struktur biologi denganstruktur
sosial. Pembahasan spencer tentang masyrakat sebagai suatu organismehidup
terdapat dalam butir-butir ini (Margaret M. Poloma 2007: 24) :
a) Masyarakat maupun organisme hidup sama-sama mengalamipertumbuhan
b) Strukur tubuh-sosial (social body) maupun organisme hidup (living
body) juga mengalami pertumbuhan, dimana semakin besar suatu struktur
sosialmaka semakin banyak pula bagian-bagiannya seperti halnya dengansistem
biologis yang menjadi semakin kompleks sementara ia tumbuh menjadi semakin
besar
c) Setiap bagian yang tumbuh di dalam
tubuh organisme biologis maupun organisme sosial memiliki fungsi dan tujuan
tertentu. Misalnya padamanusia struktur biologis seperti struktur dan fungsi
paru-paru berbedadengan struktur dan fungsi keluarga sebagai struktur
institusionalmemiliki tujuan yang berbeda dengan sistem politik atau ekonomi
d) Di dalam sistem organisme maupun
sistem sosial,perubahan pada suatubagian akan mengakibatkan perubahan pada
bagian lain dan padaakhirnya di dalam sistem secara keseluruhan. Misalnya
perubahan sistempolitik dari suatu pemerintah demokratis ke suatu
pemerintahantotaliterakan mempengaruhi keluarga,pendidikan, agama dan
sebagainya. Bagian-bagian itus aling berkaitan satu sama lain
e) Bagian-bagian yang saling berkaitan
tersebut merupakan suatu struktur-mikro yang dapat dipelajari secara terpisah.
b. Emile Durkheim
Emile Dukheim adalah seorang
sosiolog prancis, durkheim melihat masyrakat modern sebagai keseluruhan
organis yang memiliki realitas tersendiri, dimana setiap perangkat tersebut
memiliki seperangakat kebutuhan atau fungsi-fungsi tertentu yang harus dipenuhi
oleh bagian-bagian yang menjadi anggotanya agar dalam keadaan normal, tetap
langgeng (Margaret M. Poloma 2007: 25).
c.
Radcliffe
Brown
Fungsionalisme Brown ini merupakan perkembangan
dari teori Fungsional Durkheim. Fungsi dari setiap kegiatan selalu berulang,
seperti penghukuman kejahatan, atau upacara penguburan, adalah merupakan bagian
yangdimainkannya dalam kehidupan social sebagai keseluruhan dan, karena
itu,merupakan sumbangan yang diberikan bagi pemelihara kelangsungan struktural
(Radcliffe Brown, 1976: 505).
d.
Bronislaw Malinowski
Para ahli antropologi menganalisa kebudayaan dengan
melihat pada fakta-fakta antropologis dan bagian yang dimainkan oleh
fakta-fakta itu dalam sistem kebudayaan (Malinowski, 1976: 551).
e.
Talcott Parsons
Fungsionalisme structural Talcott Parsons
terkenal dengan skema AGIL.
Parson yakin bahwa ada empat fungsi penting yang diperlukan semua sistem,
yaitu,
·
Adaptation (adaptasi) : Sebuah system harus menanggulangi
situasi eksternal yang gawat. Sistemharus
menyesuaikan diri dengan lingkungan dan menyesuaikanlingkungan itu
dengan kebutuhannya.
·
Goal attainment (pencapaian tujuan) : Sebuah system harus
mendefenisikan dan mencapai tujuan utamanya.
·
Integration (integrasi) : Sebuah system harus mengatur antar
hubungan bagian-bagian yangmenjadi komponennya. Sistem juga harus mengelola
antar hubungan ketiga fungsi penting lainnya (A, G, L)
·
Latency (latensi atau pemeliharaan pola) : Sebuah system
harus mrlengkapi, memelihara, dan memperbaiki,baik motivasi individual maupun
pola-pola kultural yang menciptakandan menopang motivasi.
f.
Robert K. Merton
Robert K. Merton,
sebagai seorang yang mungkin dianggap lebih dari ahliteori lainnya telah
mengembangkan pernyataan mendasar dan jelas tentang teori-teori fungsionalisme,
merton merupakan seorang pendukung yang mengajukantuntutan lebih terbatas bagi
perspektif ini. Mengakui bahwa pendekatan fungsional-struktural telah membawa
kemajuan bagi pengetahuan sosiologis.
Merton telah mengutip tiga postulat yang ia
kutip dari analisa fungsional dandisempurnakannya, diantaranya ialah :
Postulat pertama, adalah kesatuan fungsional masyarakat yang dapat dibatasi
sebagai suatu keadaan dimana seluruh bagian dari system sosialbekerjasama dalam
suatu tingkatan keselarasan atau konsistensi internalyang memadai, tanpa menghasilkan konflik berkepanjangan yang
tidak dapat diatasi atau diatur. Atas postulat ini Merton
memberikan koreksibahwa kesatuan fungsional yang sempurna dari satu masyarakat
adalahbertentangan dengan fakta. Hal ini disebabkan karena dalamkenyataannya
dapat terjadi sesuatu yang fungsional bagi satu kelompok,tetapi dapat pula
bersifat disfungsional bagi kelompok yang lain.
Postulat kedua, yaitu fungionalisme universal yang menganggap
bahwa seluruh bentuk sosial dan kebudayaan yang sudah baku memiliki
fungsi-fungsi positif. Terhadap postulat ini dikatakan bahwa
sebetulnyadisamping fungsi positif dari sistem sosial terdapat juga
dwifungsi.Beberapa perilaku sosial dapat dikategorikan kedalam bentuk atau
sifatdisfungsi ini. Dengan demikian dalam analisis keduanya harusdipertimbangkan.
Postulat ketiga, yaitu indispensability yang
menyatakan bahwa dalam setiap tipe peradaban, setiap kebiasaan, ide,
objek materiil dankepercayaan memenuhi beberapa fungsi penting, memiliki
sejumlah tugasyang harus dijalankan dan merupakan bagian penting yang tidak
dapatdipisahkan dalam kegiatan system sebagai keseluruhan. Menurut
Merton,postulat yang kertiga ini masih kabur (dalam artian tak
memilikikejelasan, pen), belum jelas apakah suatu fungsi merupakan
keharusan.
Berdasarkan teori fungsional ini, ada dua pandangan tentang
masalah sosial. Kedua pandangan tersebut adalah patologi sosial dan disorganisasi
sosial.
a.
Patologi
Keadaan sosial yang sakit
(abnormal) pada suatu masyarakat (M.P. Fairchild, 1962)
Semua tingkah laku yang
bertentangan dengan norma kebaikan, stabilitas lokal, pola kesederhanaan,
moral, hak milik, solidaritas kekeluargaan, hidup rukun bertetangga, disiplin,
kebaikan dan hukum formal.
Contoh : kemiskinan,
pengangguran, perceraian, pelacuran, mirasantika dll.
b. Disorganisasi
Disorganisasi adalah
proses melemahnya atau berpudarnya norma-norma dan nilai-nilai di dalam
masyarakat karena adanya perubahan. (Soerjono Soekanto : 1990)
2.
Teori Konflik
Teori konflik Ralf
Dahrendorf muncul sebagai
reaksi atas teori fungsionalisme struktural yang kurang
memperhatikan fenomena konflik dalam masyarakat.
Dahrendraf
adalah pencetus pendapat yang mengatakan bahwa masyarakat memiliki dua wajah
(konflik dan konsensus) dan karena itulah teori sosiologi harus dibagi ke dalam
dua bagian, teori konflik dan teori consensus.
Konflik
merupakan gejala sosial yang serba hadir dalam kehidupan sosial, sehingga
konflik bersifat inheren artinya konflik akan senantiasa ada dalam setiap ruang
dan waktu, dimana saja dan kapan saja. Dalam pandangan ini, masyarakat
merupakan arena konflik atau arena pertentangan dan integrasi yang senantiasa
berlangsung.
Konflik
artinya percekcokan, perselisihan dan pertentangan. Sedangkan konflik sosial
yaitu pertentangan antar anggota atau masyarakat yang bersifat menyeluruh
dikehidupan. (1 Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005),
hal.587.)
Dalam
pengertian lain, konflik adalah merupakan suatu proses sosial yang berlangsung
dengan melibatkan orang-orang atau kelompok-kelompok yang saling menantang
dengan ancaman kekerasan. (J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto, Sosiologi Teks
Pengantar dan Terapan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2005), hal 68.)
Teori
ini dibangun dalam rangka untuk menentang secara langsung terhadap Teori
Fungsionalisme Struktural. Kalau menurut Teori Fungsionalisme structural
masyarakat dalam kondisi yang statis atau tepatnya bergerak dalam kondisi
keseimbangan. Fungsionalis menekankan keteraturan masyarakat, sedangkan
teoritisi konflik melihat pertikaian dan konflik dalam system sosial.
Fungsionalis menyatakan bahwa setiap elemen masyarakat berperan dalam menjaga
stabilitas. Teoritisi konflik melihat berbagai elemen kemasyarakatan menyumbang
terhadap disintegrasi dan perubahan. Fungsionalis cenderung melihat masyarakat
secara informal diikat oleh norma, nilai dan moral. Teoritisi konflik melihat
apa pun keteraturan yang terdapat dalam masyarakat berasal dari pemaksaan
terhadap anggotanya oleh mereka yang berada di atas. Fungsionalis memusatkan
perhatian pada kohesi yang diciptakan oleh nilai bersama masyarakat. Teoritisi
konflik menekankan pada peran kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban dalam
masyarakat. (5 George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern
edisi keenam, Jakarta : Prenada Media,2004), 153)
Masyarakat
senantiasa dalam proses perubahan yang ditandai pertentangan yang terus menerus
di antara unsur-unsur. Manusia adalah makhluk sosial yang mempunyai andil dalam
terjadinya disintegrasi dan perubahan sosial. Masyarakat selalu dalam keadaan
konflik menuju proses perubahan. Masyarakat dalam berkelompok dan hubungan
sosial didasarkan atas dasar dominasi yang menguasai orang atau kelompok yang
tidak mendominasi. (George Ritzer, , Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma
Ganda, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013),153)
Konsep
sentral dari teori ini adalah wewenang dan posisi. Keduanya merupakan fakta
sosial. Dalam teori konflik wewenang dan juga kekuasaan merupakan faktor yang
menentukan terjadinya konflik sosial. Perbedaan wewenang adalah suatu tanda
dari adanya berbagai posisi dalam masyarakat. Perbedaan posisi serta perbedaan
wewenang di antara individu dalam masyarakat itulah yang harus menjadi
perhatian utama para sosiolog. Struktur yang sebenarnya dari konflik-konflik
harus diperhatikan di dalam susunan peranan sosial yang dibantu oleh
harapan-harapan terhadap kemungkinan mendapatkan dominasi. Tugas utama
menganalisa konflik adalah mengidentifikasi berbagai peranan kekuasaan dalam
masyarakat.
Kekuasaan
dan wewenang seantiasa menempatkan individu pada posisi atas dan posisi bawah
dalam setiap struktur. Karena wewenang itu adalah sah, maka setiap individu
yang tidak tunduk terhadap wewenang yang ada akan terkena sanksi. Dengan
demikian masyarakat disebut oleh Dahrendorf sebagai : persekutuan yang
terkoordinasi secara paksa. Oleh karena kekuasaan selalu memisahkan dengan
tegas antara penguasa dan yang dikuasai maka dalam masyarakat selalu terdapat
dua golongan yang saling bertentangan. Masing-masing golongan dipersatukan oleh
ikatan kepentingan nyata yang bertentangan secara subtansial dan secara
langsung di antara golongan-golongan itu. Pertentangan itu terjadi dalam
situasi di mana golongan yang berkuasa berusaha mempertahankan status quo
sedangkan golongan yang dikuasai berusaha untuk mengadakan perubahan-perubahan.
Kekuasaan
atau otoritas mengandung dua unsur yaitu penguasa (orang yang berkuasa) dan
orang yang dikuasai atau dengan kata lain atasan dan bawahan. Kelompok
dibedakan atas tiga tipe antara lain : 1. Kelompok Semu (quasi group) 2.
Kelompok Kepentingan (manifes) 3. Kelompok Konflik Kelompok semu adalah
sejumlah pemegang posisi dengan kepentingan yang sama tetapi belum menyadari
keberadaannya, dan kelompok ini juga termasuk dalam tipe kelompok kedua, yakni
kelompok kepentingan dan karena kepentingan inilah melahirkan kelompok ketiga
yakni kelompok konflik sosial. Sehingga dalam kelompok akan terdapat dalam dua
perkumpulan yakni kelompok yang berkuasa (atasan) dan kelompok yang dibawahi
(bawahan). Kedua kelompok ini mempunyai kepentingan berbeda. Bahkan, menurut
Ralf, mereka dipersatukan oleh kepentingan yang sama.
3.
Teori Interaksionisme Simbolik
Konsep
interaksionisme simbolik ini diperkenalkan oleh Herbert Blummer sekitar tahun
1939. Dalam lingkup sosiologi ide ini sudah lebih dulu dikemukakan oleh Herbert
Mead, tetapi kemudian dimodifikasi oleh Blummer guna mencapai tujuan tertentu.
Interaksi
Simbolik menunjuk pada “komunikasi” atau secara lebih khusus “simbol-simbol”
sebagai kunci untuk memahami kehidupan manusia itu. Interaksi Simbolik menunjuk
pada sifat khas dari interaksi antar manusia. Artinya manusia saling
menerjemahkan dan mendefinisikan tindakannya, baik dalam interaksi dengan orang
lain maupun dengan dirinya sendiri. Proses interaksi yang terbentuk melibatkan
pemakaian simbol-simbol bahasa, ketentuan adat istiadat, agama dan
pandangan-pandangan. Manusia selalu memaknai situasi sosial.
Interaksi simbolik merupakan suatu aktivitas yang
merupakan cirri khas manusia, yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang
diberi makna. Blumermenyatukan gagasan-gagasan tentang interaksi simbolik lewat
tulisannya,
dan juga diperkaya dengan gagasan-gagasan dari John Dewey, William I. Thomas,dan
Charles H. Cooley (Mulyana, 2001 : 68)
Berikut adalah penjelasan lebih lanjut menurut para
ahli
a.
George Herbert
Mead (1863-1931)
Pengertian berfikir Mead
adalah suatu proses dimana individu berinteraksi dengan dirinya sendiri dengan
menggunakan simbol-simbol yang bermakna. Menurut Mead tertib masyarakat akan
tercipta apabila ada interaksi dan komunikasi melalui simbol-simbol. Dalam buku
Mind Set and Society, Mead memperkenalkan konsep diri dengan menyebut bahwa
diri dapat bersifat sebagai objek maupun subjek sekaligus menjadi objek yaitu: Merupakan
objek bagi dirinya sendiri, diri merupakan karakteristik manusia yang membedakan
manusia dengan hewan, menjadikan manusia mampu mencapai kesadaran diri sehingga
seseorang dapat mengambil sikap yang impersonal dan objektif.
Mead mengklaim bahwa bahasa
memungkinkan kita untuk menjadi makhluk yang self-conscious yang sadar akan individualitasnya
dan unsur kunci dalam proses itu adalah simbol. Inti pemikiran Mead dalam teori
interaksionisme simbolik adalah bahwa manusia memiliki dunianya sendiri dimana
ia mampu menjadi subjek sekaligus objek bagi dirinya sendiri. Sehingga ia mampu
melakukan tindakan yang sesuai dengan keinginannya sendiri. Tindakan dan alur
berfikir Mead memandang tindakan merupakan inti dari teorinya dengan memusatkan
pada proses terjadinya tindakan akibat rangsangan dan tanggapan. Bahasa
mempunyai fungsi yang signifikan yaitu menggerakkan tanggapan yang sama pada
pihak rangsang dan respon.
b.
Charles Horton
Cooley (1864-1929)
Konsep penting dalam
bangunan teori Cooley adalah konsep cermin diri looking-glass self dan kelompok
primer, dimana dalam individu senantiasa terjadi suatu proses yang ditandai
dengan 3 tahap terpisah yaitu, persepsi, dalam tahap ini kita membayangkan
bagaimana orang melihat kita, interpretasi dan definisi, disini
kitamembayangkan bagaimana orang lain menilai penampilan kita, Respon,
berdasarkan persepsi dan interpretasi idividu tersebut menyusun respon terhadap
respon kita.
Kelompok primer dianggap
penting oleh Cooley sebab, kelompok ini memiliki pengaruh yang sangat mendasar
dan merupakan tempat pembentukan watak diri, kelompok ini merupakan utama
dalam hubungan anatr ias dengan masyarakat yang lebih luas, kelompok memberikan
kepada individu pengalaman tentang kesatuan iasl yang paling awal dan paling
lengkap dan juga dalam pengertian bahwa kelompok ini tidak mengalami perubahan
derajat yang sama seperti pada hubungan yang luas tetapi merupakan sumber yang
dari mana struktur iasl itu muncul.
c. Herbert Blummer
Individu dalam
interaksionisme simbolik Blumer dapat dilihat dalam 3 premis yang diajukan:
·
Manusia
bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna yang ada pada sesuatu itu pada
mereka.
·
Makna tersebut
berasal dari interaksi dengan orang lain.
·
Makna-makna
tersebut disempurnakan pada saat proses interaksi berlangsung.
Interaksionisme simbolik, kata Blumer dalam
interaksi aktor tidak semata-mata bereaksi terhadap tindakan dari ornag lain
tetapi mencoba menafsirka dan mendefinikan setiap tindakan orang lain. Dalam
melakukan interaksi secara langsung maupun tidak langsung indivudu dijembatani
oleh penggunaan simbol-simbol penafsiran yaitu bahasa. Konsep Blumer dikenal
dengan self-indication yaitu proses komunikasi yang sedang berjalan dimana
individu mengetahui sesuatu, menilainya, memberinya makna dan memutuskan untuk
bertindak berdasarkan makna itu.
Inti pemikiran Blumer mengenai interaksionisme
simbolik dapat disadur dari kajian Poloma 1984 sebagai berikut:
·
Masyarakat
terdiri dari manusia yang berinteraksi.
·
Interaksi
terdiri dari kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan manusia lain. Interaksi
non simbolis mencakup stimulus respon yang sederhana. Interaksionisme simbolis
mencakup penafsiran tindakan.
4. Ralf Dahrendorf
5. Teori Sosiologi Kontemporer
6. 2
Komentar
Posting Komentar