MATERI PEMBELAJARAN KELAS X
Fitri
Sekti Indriani / K8417032
Telaah Kurikulum
(Materi 3 – Faktor terjadinya Interaksi Sosial)
1.
Faktor Imitasi
Gabriel Tarde beranggapan bahwa seluruh
kehidupan sosial sebenarnya berdasarkan faktor imitasi. Walaupun pendapat ini
ternyata berat sebelah, peranan imitasi dalam interaksi sosial itu tidak kecil.
Peranan imitasi dalam interaksi social
juga mempunyai segi-segi yang negatif. Yaitu, apabila hal-hal yang diimitasi
itu mungkinlah salah atau secara moral dan yuridis harus ditolak. Apabila
contoh demikian diimitasi orang banyak, proses imitasi itu dapat menimbulkan
terjadinya kesalahan kolektif yang meliputi jumlah serba besar.
Selain itu, adanya proses imitasi dalam
interaksi sosial dapat menimbulkan kebiasaan di mana orang mengimitasi sesuatu
tanpa kritik, seperti yang berlangsung juga pada faktor sugesti. Dengan kata
lain, adanya peranan imitasi dalam interaksi sosial dapat memajukan
gejala-gejala kebiasaan malas berpikir kritis pada individu manusia yang
mendangkalkan kehidupannya.
Imitasi bukan merupakan dasar pokok dari
semua interaksi sosial seperti yang diuraikan oleh Gabriel tarde, melainkan
merupakan suatu segi dari proses interaksi sosial, yang menerangkan mengapa dan
bagaimana dapat terjadi keseragaman dalam pandangan dan tingkah laku di antara
orang banyak.
Misalnya bagaimana seorang anak belajar
berbicara. Mula-mula ia mengimitasi dirinya sendiri kemudian ia mengimitasi
kata-kata orang lain. Ia mengartikan kata-kata juga karena mendengarnya dan
mengimitasi penggunaannya dari orang lain. Lebih jauh, tidak hanya berbicara
yang merupakan alat komunikasi yang terpenting, tetapi juga cara-cara lainnya
untuk menyatakan dirinya dipelajarinya melalui proses imitasi. Misalnya,
tingkah laku tertentu, cara memberikan hormat, cara menyatakan terima kasih,
cara-cara memberikan isyarat tanpa bicara, dan lain-lain. Selain itu, pada
lapangan pendidikan dan perkembangan kepribadian individu, imitasi mempunyai
peranannya, sebab mengikuti suatu contoh yang baik itu dapat merangsang
perkembangan watak seseorang. Imitasi dapat mendorong individu atau kelompok
untuk melaksanakan perbuatanperbuatan yang baik.
Namun demikian, harus diakui dalam
interaksi social peranan imitasi tidaklah kecil. Terbukti, misalnya, kita
sering melihat pada anak-anak yang sedang belajar bahasa, seakan-akan mereka
mengimitasi dirinya sendiri, mengulang-ulangi bunyi kata-kata, melatih fungsi
lidah dan mulut untuk berbicara, kemudian mengimitasi orang lain. memang suatu
hal yang sukar orang belajar bahasa tanpa mengimitasi orang lain. (Mahmudah,
2010)
2.
Faktor Sugesti
Yang dimaksud sugesti disini ialah
pengaruh psikis, baik yang datang dari dirinya sendiri maupun dari rang lain
yang pada umumnya diterima tanpa adanya daya kritik. Gerungan mendefinisikan
sugesti sebagai proses dimana seorang individu menerima suatu cara penglihatan
atau pedoman-pedoman tingkah laku orang lain tanpa kritik terlebih dahulu
(Mahmudah, 2010),
Menurut Ahmadi, sugesti dapat
dibedakan menjadi dua yaitu:
(a)
Auto Sugesti, yaitu sugesti terhadap
diri sendiri yang datang dari dalam individu yang bersangkutan, dan
(b)
Hetero-sugesti, yaitu sugesti yang
datang dari orang lain. Dalam kehidupan social, peranan hetero-sugesti lebih
dominan disbanding peranan auto-sugesti (Mahmudah, 2010)
Arti sugesti dan imitasi dalam hubungannya dengan interaksi sosial
hamper sama. Bedanya adalah bahwa dalam imitasi itu orang yang
satu mengikuti sesuatu di luar dirinya;
sedangkan pada sugesti, seseorang memberikan pandangan
atau sikap dari dirinya yang lalu diterima oleh orang lain di luarnya. Sugesti dalam ilmu jiwa sosial dapat dirumuskan
sebagai suatu proses di mana seorang individu
menerima suatu cara penglihatan atau pedoman-pedoman
tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu.
Secara garis besar, terdapat beberapa keadaan tertentu serta
syarat-syarat yang memudahkan sugesti terjadi, yaitu:
a.
Sugesti karena hambatan berpikir
Dalam proses sugesti
terjadi gejala bahwa orang yang dikenainya mengambil alih pandangan-pandangan
dari orang lain tanpa memberinya pertimbangn-pertimbangan kritik terlebih
dahulu. Orang yang terkena sugesti itu menelan apa saja yang dianjurkan orang
lain. Hal ini tentu lebih mudah terjadi apabila ia – ketika terkena sugesti
berada dalam keadaan ketika cara-cara berpikir kritis itu sudah agak
terkendala. Hal ini juga dapat terjadi – misalnya – apabila orang itu sudah
lelah berpikir, tetapi juga apabila proses berpikir secara itu dikurangi
dayanya karena sedang mangalami rangsangan-rangsangan emosional. Misalnya:
Rapat-rapat Partai Nazi atau rapat-rapat raksasa seringkali diadakan pada malam
hari ketika orang sudah cape dari pekerjaannya. Selanjutnya mereka pun
senantiasa memasukkan dalam acara rapat-rapat itu hal-hal yang menarik
perhatian, merangsang emosi dan kekaguman sehingga mudah terjadi sugesti kepada
orang banyak itu.
b.
Sugesti karena keadaan pikiran terpecah-pecah (disosiasi)
Selain dari keadaan
ketika pikiran kita dihambat karean kelelahan atau karena rangsangan emosional,
sugesti itu pun mudah terjadi pada diri seseorang apabila ia mengalami
disosiasi dalam pikirannya, yaitu apabila pemikiran orang itu mengalami keadaan
terpecah-belah. Hal ini dapat terjadi – misalnya – apabila orang
yangbersangkutan menjadi bingung karena ia dihadapkan pada kesulitan-kesulitan
hidup yang terlalu kompleks bagi daya penampungannya. Apabila orang menjadi
bingung, maka ia lebih mudah terkena sugesti orang lain yang mengetahui jalan
keluar dari kesulitan-kesulitan yang dihadapinya itu. Keadaan semacam ini dapat
pula menerangkan mengapa dalam zaman modern ini orang-orang yang biasanya
berobat kepada dokter juga mendatangi dukun untuk memperoleh sugestinya yang
dapat membantu orang yang bersangkutan mengatasi kesulitan-kesulitan jiwanya.
c.
Sugesti karena otoritas atau prestise
Dalam hal ini, orang cenderung menerima pandangan-pandangan atau
sikap-sikap tertentu apabila pandangan atau sikap tersebut dimiliki oleh para
ahli dalam bidangnya sehingga dianggap otoritas pada bidang tersebut atau
memiliki prestise sosial yang tinggi.
d.
Sugesti karena mayoritas
Dalam hal ini, orang lebih cenderung akan menerima suatu pandangan
atau ucapan apabila ucapan itu didukung oleh mayoritas, oleh sebagian besar
dari golongannya, kelompknya atau masyarakatnya.
e.
Sugesti karena ”will to believe”
Terdapat pendapat bahwa sugesti justru membuat sadar akan adanya
sikap-sikap dan pandangn-pandangan tertentu pada orang-orang. Dengan demikian
yang terjadi dalam sugesti itu adalah diterimanya suatu sikap-pandangan
tertentu karena sikap-pandangan itu sebenarnya sudah tersapat padanya tetapi
dalam kedaan terpendam. Dalam hal ini, isi sugesti akan diterima tanpa
pertimbangan lebih lanjut karena pada diri pribadi orang yang bersangkutan
sudah terdapat suatu kesediaan untuk lebih sadar dan yakin akan hal-hal
disugesti itu yang sebenarnya sudah terdapat padanya.
3.
Faktor Identifikasi
Identifikasi dalam psikologi berarti
dorongan untuk menjadi identic (sama) dengan orang lain, baik secara fisik
maupun non-fisik. Proses identifikasi pada kenyataannya seringkali, untuk pertama
kalinya berlangsung secara tidak sadar (secara dengan sendirinya). Kedua,
bersifat irasional, yaitu berdasarkan perasaan-perasaan aau kecenderungan-kecenderungan
dirinya yang tidak diperhitungkan secara rasional. Ketiga, identifikasi berguna
untuk melengkapi system norma-norma, cita-cita dan pedoman-pedoman tingkah laku
orang yang mengidentifikasi itu. Hal ini merupakan efek lanjut dari akivitas identifikasi
yang dilakukan seseorang (Mahmudah, 2010)
Identifikasi adalah sebuah istilah dari psikologi Sigmund Freud.
Istilah identifikasi timbul dalam uraian Freud mengenai cara-cara seorang anak
belajar norma-norma sosial dari orang tuanya. Dalam garis besarnya, anak itu
belajar menyadari bahwa dalam kehidupan terdapat norma-norma dan
peraturan-peraturan yang sebaiknya dipenuhi dan ia pun mempelajarinya yaitu
dengan dua cara utama.
Pertama ia mempelajarinya karena didikan orangtuanya yang
menghargai tingkah laku wajar yang memenuhi cita-cita tertentu dan menghukum
tingkah laku yang melanggar norma-normanya. Lambat laun anak itu memperoleh
pengetahuan mengenai apa yang disebut perbuatan yang baik dan apa yang disebut
perbuatan yang tidak baik melalui didikan dari orangtuanya.
Identifikasi dalam psikologi berarti dorongan untuk menjadi
identik (sama) dengan seorang lain. Kecenderungan ini bersifat tidak sadar bagi
anak dan tidak hanya merupakan kecenderungan untuk menjadi seperti seseorang
secara lahiriah saja, tetapi justru secara batin. Artinya, anak itu secara
tidak sadar mengambil alih sikap-sikap orangtua yang diidentifikasinya yang
dapat ia pahami norma-norma dan pedoman-pedoman tingkah lakunya sejauh
kemampuan yang ada pada anak itu.
Sebenarnya, manusia ketika ia masih kekurangan akan norma-norma,
sikapsikap, cita-cita, atau pedoman-pedoman tingkah laku dalam bermacam-macam
situasi dalam kehidupannya, akan melakukan identifikasi kepada orang-orang yang
dianggapnya tokoh pada lapangan kehidupan tempat ia masih kekurangan pegangan.
Demikianlah, manusia itu terus-menerus melengkapi sistem norma dan cita-citanya
itu, terutama dalam suatu masyarakat yang berubah-ubah dan yang situasi-situasi
kehidupannya serba ragam.
Ikatan yang terjadi antara orang yang mengidentifikasi dan orang
tempat identifikasi merupakan ikatan batin yang lebih mendalam daripada ikatan
antara orang yang saling mengimitasi tingkah lakunya. Di samping itu, imitasi
dapat berlangsung antara orang-orang yang tidak saling kenal, sedangkan orang
tempat kita mengidentifikasi itu dinilai terlebih dahulu dengan cukup teliti
(dengan perasaan) sebelum kita mengidentifikasi diri dengan dia, yang bukan
merupakan proses rasional dan sadar, melainkan irasional dan berlangsung di
bawah taraf kesadaran kita.
4.
Simpati
Simpati adalah perasaan tertariknya
orang yang satu dengan orang yang lain. Simpati muncul dari dalam diri seorang
individu tidak atas dasar rasional, melainkan berdasarkan penilaian perasaaan
seperti juga pada proses identifikasi. Seorang individu tiba-tiba merasa
dirinya tertarik kepada orang lain seakan-akan dengan sendirinya, dan
tertariknya itu bukan karena salah satu ciri tertenu, melainkan karena
keseluruhan cara-cara bertingkah laku menarik baginya (Mahmudah, 2010).
Simpati dapat dirumuskan sebagai perasaan tertariknya seseorang
terhadap orang lain. Simpati timbul tidak atas dasar logis rasional, tetapi
berdasarkan penilaian perasaan sebagaimana proses identifikasi. Akan tetapi,
berbeda dengan identifikasi, timbulnua simpati itu merupakan proses yang sadar
bagi manusia yang merasa simpati terhadap orang lain. Peranan simpati cukup
nyata dalam hubungan persahabatan antara dua orang atau lebih. Patut
ditambahkan bahwa simpati dapat pula berkembang perlahan-lahan di samping
simpati yang timbul dengan tiba-tiba.
Gejala identifikasi dan simpati itu sebenarnya sudah berdekatan.
Akan tetapi, dalam hal simpati yang timbal-balik itu, akan dihasilkan suatu
hubungan kerja sama di mana seseorang ingin lebih mengerti orang lain
sedemikian jauhnya sehingga ia dapat merasa berpikir dan bertingkah laku
seakan-akan ia adalah orang lain itu. Sedangkan dalam hal identifikasi terdapat
suatu hubungan di mana yang satu menghormati dan menjunjung tinggi yang lain,
dan ingin belajar daripadanya karena yang lain itu dianggapnya sebagai ideal.
Jadi, pada simpati, dorongan utama adalah ingin mengerti dan ingin bekerja sama
dengan orang lain, sedangkan pada identifikasi dorongan utamanya adalah ingin
mengikuti jejaknya, ingin mencontoh ingin belajar dari orang lain yang
dianggapnya sebagai ideal.
Hubungan simpati menghendaki hubungan kerja sama antara dua atau
lebih orang yang setaraf. Hubungan identifikasi hanya menghendaki bahwa yang
satu ingin menjadi seperti yang lain dalam sifat-sifat yang dikaguminya.
Simpati bermaksud kerja sama, identifikasi bermaksud belajar.
5.
Empati
Faktor selanjutnya yang mempengaruhi
interaksi sosial adalah empati. Empati merupakan faktor yang begitu mendalam.
Empati adalah perasaan yang menempatkan diri kita seolah- olah berada di posisi
seseorang atau kelompok tertentu yang sedang mengalami suatu perasaan tertentu.
Pengertian dari empati merupakan keadaan mental yang membuat seseorang merasa
atau mengidentifikasikan dirinya dalam suatu keadaan perasaan ataupun pikiran
yang sama persis dengan orang atau kelompok lain. Perasaan yang dirasakan dalam
sikap empati ini begitu mendalam. Sebagai contoh adalah ketika kita mendapati
korban kecelakaan ataupun kebakaran, maka orang- orang yang menjadi korban
pasti akan merasakan kesedihan yang begitu dalam. Nah, perasaan empati disini
adalah kita ikut merasakan keadaan tersebut dengan seolah- olah kita
menempatkan diri menjadi para korban tersebut. Dengan demikian kita akan
memiliki sudut pandang yang sama dan perasaan yang sama seperti para korban. Hal
ini yang akan membawa kita ke dalam perasaan yang mendalam dan kita akan lebih
memahami perasaan dari pihak- pihak yang memiliki masalah. Empati biasanya
berlaku pada hal- hal yang bersifat kesedihan.
6.
Motivasi
Motivasi merupakan faktor selanjutnya yang mempengaruhi
interaksi sosial. Motivasi sering juga sebut sebagai semangat atau dorongan. Ya
memang benar. Motivasi merupakan dorongan atau semangat yang diberikan kepada
individu ke individu atau kelompok ke kelompok, maupun antara individu dengan
kelompok. Tujuan motivasi adalah agar supaya orang yang diberikan motivasi
menurut pada orang yang memberikan motivasi untuk melakukan apa yang
dimotivasikan. Sebagai contoh adalah seorang ayah yang memberikan motivasi
kepada anaknya supaya rajin belajar agar nantinya menjadi juara kelas. Nah hal
ini merupakan contoh motivasi antara individu dengan individu. Selain itu
motivasi juga bisa diberikan kepada individu pada kelompok, kelompok pada
individu atau kelompok pada kelompok. Motivasi ini biasanya bersifat positif
atau berlaku pada hal- hal yang baik.
7.
Sikap
kepada orang lain
Faktor tambahan yang mempengaruhi interaksi sosial adalah
sikap kepada orang lain. Sikap positif kepada orang lain akan sangat
berpengaruh terhadap sikap orang lain kepada kita. Jadi apabila kita bersikap
baik, maka respon yang akan kita dapatkan juga baik. Sebaliknya apabila kita
bersikap buruk maka sikap orang kepada kita juga buruk. Semua ini merupakan
kekuatan timbal balik.
Komentar
Posting Komentar